kami mesra dengan cara kami sendiri, saya rasa demikian. :)
dan tidak perlu orang lain tahu bagaimana.
*menggumam sambi nonton anime*
mungkin karena kami belum menikah
tapi...
saya rasa, setelah kami menikah pun
tak penting mengumbar kemesraan di ruang publik
:)
Monday, September 01, 2014
Wednesday, August 20, 2014
Coffee and cigarette
Kamu dan rokok. Kamu dan kopi.
Kamu, kopi dan rokok. Takkan ada yang menduga kamu dekat dengan mereka berdua.
Ah maaf aku lupa satu lagi. Buku. Kamu dan buku. Kamu, kopi dan buku. Teman
kuliahmu pernah berkata padaku bahwa dulu kamu tak suka membaca. Jangankan
buku-buku sastra, buku kuliah pun malas kau buka, apalagi baca. Itu kata dia.
Aku tak percaya. Buku adalah salah satu hal yang mendekatkanmu padaku, setelah
lagu-lagu indie. Masih ingat novel yang tahun kemarin dibikin filmnya, yang
kemudian membuat hampir seluruh pemuda Indonesia berbondong-bondong mendaki
puncak tertinggi Jawa. Yah...novel yang itu.
Ah..mari kembali pada kamu, kopi
dan rokok. Aku pun tak menduga kamu dan rokok, memiliki hubungan sedekat itu.
Sejujurnya tak mampu kubayangkan bagaimana kamu mengisap rokok itu dalam dalam
dan mengembuskan asapnya. Yehaa dalam bayanganku kamu akan terbatuk-batuk dan
berhenti mengisap bakaran daun tembakau itu. Apalagi mengingat kamu pernah
punya sakit pernapasan. Tapi kamu pernah bercerita, jika kawan-kawan mu
menawari dan kamu sedang tak sanggup menolak, sebatang saja akan kamu cicipi,
menghargai katamu. Itu cerita lama. Dan aku pun mendengarnya karena aku
bertanya. Kamu tahu? Aku tak suka lelaki perokok, dan waktu itu kriteria lelakiku
adalah bukan perokok. Ah itu masa ketika usiaku
usia-perempuan-yang-memiliki-kriteria-lelaki-idaman.
Sampai aku menemukan sebungkus
rokok dalam tasmu, waktu itu kamu bilang itu milik temanmu. Seminggu setelahnya
kutanya lagi, kamu bercerita itu milikmu. Entah mana yang benar. Aku hanya akan
terus mengingatkan, rokok itu menggerogoti paru mu, tubuh mu, bahkan mungkin
cinta di sekelilingmu.
Ya..ya..aku juga pernah merokok.
Sekali atau dua kali, aku tak ingat. Dulu. Itupun rokok gratisan. Ada event di
suatu tempat, aku beli karcis masuk dan diberi bonus rokok satu bungkus. Aku
merokok ketika pikiranku saat itu sedang kalut. Kututup rapat kamar kos,
jendela, gordennya. Jangan kamu bayangkan aku mampu menelan semua asap itu,
sedikit-sedikit saja. Yang bikin senang saat itu bukan asap rokok yang enak
tapi senang karena melakukan hal nakal. Pernah kuceritakan padamu bahwa aku
sekali merokok, ekspresimu seperti melihat setan pocong lewat. Hahaha, aku
tertawa. Pernah bukan berarti aku perokok, kutekankan itu padamu, dan teman
laki lainnya yang ekspresinya sama sepertimu.
Cerita tentang kopi pun sama.
Kopi juga hal yang mendekatkan kita. Kopi sidikalang. Masih ingat? Kopi
sidikalang dan topi gajah. Entah di mana topi kece mu itu sekarang. Tiap ada
yang tanya, sudah pernah minum kopi sidikalang, aku dengan bangga menjawab
sudah, dan lantas ingat padamu.
Kopi dan rokok. Aku belum pernah
merasakan bagaimana rasanya jika dua hal itu dinikmati bersama. Nah kan kenapa
kamu melotot seperti itu. Tenang saja, aku tak berniat mencobanya. Tapi, kau
sudah pernah kan? Bagaimana rasanya? Nikmat mana dibanding kopi sambil
bercerita bersamaku. Ah kau diam terlalu lama, ya..ya..aku tahu jawabnya.
Sebaiknya jangan lagi kamu
merokok, kesehatanmu lho.
::separuh fiksi separuh tenanan::
gambar nyomot semena-mena dari google image
Friday, August 01, 2014
menjelma adriana
atau apakah aku harus menjelma Adriana terlebih dahulu dan menciptakan petualangan untukmu, wahai kekasih
atau aku harus menjelma penjelajah dan menemanimu bertualang,
aku pernah mencoba dan kau khawatir luar biasa,
atau ah ini pilihan terakhir, menjelma cenayang sekaligus penulis...
meraba pikiranmu kemudian menuliskannya
hingga menjadi novel
setelah kau baca tamat novel itu, kau akan kehilangan..
begitu?
atau aku harus menjelma penjelajah dan menemanimu bertualang,
aku pernah mencoba dan kau khawatir luar biasa,
atau ah ini pilihan terakhir, menjelma cenayang sekaligus penulis...
meraba pikiranmu kemudian menuliskannya
hingga menjadi novel
setelah kau baca tamat novel itu, kau akan kehilangan..
begitu?
Saturday, July 26, 2014
Menikahi Malaikat
Ya, hari ini kuputuskan menikahi malaikat itu
Malaikat yang seharusnya tidak mudah diperdaya oleh kalian
Kalianlah setan
Mungkin ia bukan malaikat yang sesungguhnya
Tapi setidaknya ia membuatku meyakini
Kalian setan.......
Licik....
Malaikat yang seharusnya tidak mudah diperdaya oleh kalian
Kalianlah setan
Mungkin ia bukan malaikat yang sesungguhnya
Tapi setidaknya ia membuatku meyakini
Kalian setan.......
Licik....
Tuesday, July 22, 2014
Jatuh Cinta itu Biasa Saja, yang tidak biasa adalah rindunya
Kita berdua hanya berpegangan tangan tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita tak perlu memuji
Kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya jalani cinta tapi menghidupi
Ketika rindu menggebu-gebu kita menunggu..
Jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu membelenggu cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja
Jika jatuh cinta itu buta berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap
::Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta Itu Biasa Saja::
Monday, July 07, 2014
Monday, June 30, 2014
Sunday, June 22, 2014
Sentimental na..na..na..
Mungkin cuma gadis-gadis dalam drama Korea yang jika menangis hidung
dan kelopak matanya tidak merah, atau hanya aku saja yang begitu.
Akhir-akhir ini aku begitu sentimental. Entah karena masih merasa berkabung, atau karena
sedang datang bulan. Mungkin alasan terakhir. Aku juga tak tahu pasti. Kadang merasa
menyesal belum sempat bertemu ibu. Bukan ibu kandungku, tetapi ibu yang
melahirkan mas. Malam ini tepat malam ketujuh beliau “pulang”.
Hari itu kami datang tepat ketika jenazah dibawa ke masjid untuk
disalatkan terakhir kalinya. Mas memanggul tandu jenazah dan menyapa kami
melalui lambaian tangan. Mas nampak tegar. Dia masih memakai kaos dan celana
training, mungkin dia belum sempat berganti pakaian. Aku membayangkan, pagi
hari dia masih melakukan aktivitas merawat ibu seperti biasanya, hingga dia
mengirimiku sebuah kalimat, “ibu ku sudah ‘pulang’, nduk”. Ah tidakkah lelakiku
itu begitu indah memilih kata. Dia sebut ‘pulang’, bukan meninggal.
Kami ikut mengantar hingga tempat peristirahatan terakhir. Hal yang
ingin selalu kulihat adalah sosoknya, lelakiku itu. Entahlah, ada hal yang membuatku
selalu mencari sosoknya di keramaian. Dia dan bapak. Bapak pun sama tegar,
sesekali menghapus dan menahan air di sudut matanya.
Mengingat semua itu seringnya membuatku sesak. Oii..oii..hari itu ingin
kupeluk dia.
Dan perasaan sentimental ini semakin menjadi karena bersamaan dengan
datang bulan. Jreeng..jreeng..
Ah sesungguhnya aku ini sedang menunggu hujan, hujan cerita darinya. Sesungguhnya,
jika dia bercerita, yang merasa lega adalah diriku, seperti sehabis hujan. Yah..perasaan
semacam itu. Perasaan lega ketika matahari cerah, udara bersih beraroma tanah
basah.
Semoga mas dan bapak, sehat-sehat selalu.
Teriring doa untuk ibu.
*Dan percayalah, besok pagi hidung dan kelopak mataku bengkak. Karena hanya gadis drama Korea yang hidung dan kelopak matanya tidak merah ketika menangis.*
Saturday, June 14, 2014
Uswatun
Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera
di paket yang ia bawa adalah Uswahdani. Jika aku sedang tidak menunggu paket
datang, namun nama itu yang tertera maka paket itu hanya mampir saja. Tak apa.
Aku senang. Toh paket itu boleh kubuka dan kubaca. Ya. Isi paket yang sering datang
ke rumah adalah buku. Ada seseorang sering memanggilku Uswahdani, aku pun jadi
sering menggunakan nama itu. Nah, ketika datang paket padahal aku tidak sedang
menunggu paket, dan nama itu yang tertera, pastilah paket itu miliknya. Kadang
dia memanggilku Ni atau Nik. Panggilan yang sering digunakan ibu dan bapak
untuk memanggilku, menurutnya menyenangkan memanggil nama ku dengan sebutan Ni
atau Nik, saja. Oh iya, dia memanggilku Uswahdani supaya tidak nampak dia
sedang ‘berbicara’ dengan lelaki, Dani memang ‘terdengar’ seperti nama lelaki.
Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera
pada paket adalah Uswahdani. Orang memang lebih familiar dengan nama Uswatun,
Uswatun Khasanah adalah salah satu sebutan untuk Nabi. Artinya adalah teladan
yang baik. Mungkin bapak ingin anaknya memiliki sifat baik yang bisa
diteladani, seperti Nabi. Lalu kenapa menjadi Uswahdani? Mungkin karena ibuku
tidak ingin aku memiliki nama panggilan, Atun. Hehehe. Dan menurut ibu, orang
yang beliau kenal, yang bernama Dani, pastilah keren dan pandai. Aamiin.
Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera
pada paket adalah Uswahdani. Pak Pos langsung menuju rumahku, tidak lagi
bertanya di mana rumah si anak bernama Uswatun ini. Ya, Pak Pos sudah hapal di
mana letak rumahku, rumah yang berada di pojok kiri, depan lapangan badminton
yang kini sudah tidak tampak lagi seperti lapangan badminton. Pak Pos sudah
hapal lantaran beliau sering mengantarkan paket ke rumah. Seringnya paket-paket
itu berasal dari Jogja. Para penjual buku dari Jogja memang lebih senang
memakai jasa Pos Indonesia, aku pun begitu, jika berat paket yang ku kirim
kurang dari 100 gram. Hehehe.
Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera
pada paket adalah Uswahdani. Pak Pos yang baik dan murah senyum. Pak Pos yang
wajahnya mirip Jeremy Tetti. Pak Pos yang sejak aku kecil sering menyambangi kompleks
rumah untuk mengantar surat, kartu pos atau paket. Seingatku tidak pernah
berganti dengan Pak Pos yang lain.
Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera
pada paket adalah Uswahdani. Siang ini kukoreksi, “Uswahdani, Pak.” Beliau menengok
nama pada paket di tangannya, “Oh iya, Uswahdani. Seringnya kan Uswatun.
Hehehe. Biasanya rumah ini tutupan, jadi saya titipin ke mbah.” Mbah yang
beliau maksud adalah tetangga depan rumah.
Pak Pos menyebut namaku Uswatun,, meskipun nama yang tertera
pada paket adalah Uswahdani. Tapi mungkin, lain kali jika ada paket untukku,
beliau akan menyebut namaku Uswahdani. Dan jika saat itu tiba, aku akan bilang
“Boleh juga dipanggil Dani, Pak.”
Postingan ini sesungguhnya narsis saja.
Tuesday, June 03, 2014
Bianglala
Bianglala dalam ingatanku adalah
pacar yang tetiba bilang sayang setelah sekian tahun tidak. Namun kini pacar
itu telah menjadi mantan.
Bianglala dalam ingatanku adalah
janin yang tidak disadari seorang teman hadir dalam rahimnya. Janin itu sudah
lahir, sehat dan kini sudah masuk TK.
Bianglala dan halilintar dalam
ingatanku adalah keinginan untuk kelak ketika aku menikah, aku ingin menaiki
semua wahana di Dufan itu bersama suami.
Bianglala mengingatkanku pada
sore yang hujan dan berangin lembut yang membuatku tak bisa merasakan kegilaan menaiki
tornado, ontang anting dan wahana ekstrim lainnya.
Bianglala mengingatkanku pada
senja di ibukota.
Bianglala mengingatkanku akan
keceriaan dan sendu dalam waktu bersamaan.
Bianglala mengingatkan ku akan
rindu, padamu...
Subscribe to:
Posts (Atom)
