Monday, September 01, 2014

kami mesra dengan cara kami sendiri, saya rasa demikian. :)
dan tidak perlu orang lain tahu bagaimana.

*menggumam sambi nonton anime*

mungkin karena kami belum menikah
tapi...
saya rasa, setelah kami menikah pun
tak penting mengumbar kemesraan di ruang publik

:)

Wednesday, August 20, 2014

Coffee and cigarette



Kamu dan rokok. Kamu dan kopi. Kamu, kopi dan rokok. Takkan ada yang menduga kamu dekat dengan mereka berdua. Ah maaf aku lupa satu lagi. Buku. Kamu dan buku. Kamu, kopi dan buku. Teman kuliahmu pernah berkata padaku bahwa dulu kamu tak suka membaca. Jangankan buku-buku sastra, buku kuliah pun malas kau buka, apalagi baca. Itu kata dia. Aku tak percaya. Buku adalah salah satu hal yang mendekatkanmu padaku, setelah lagu-lagu indie. Masih ingat novel yang tahun kemarin dibikin filmnya, yang kemudian membuat hampir seluruh pemuda Indonesia berbondong-bondong mendaki puncak tertinggi Jawa. Yah...novel yang itu.

Ah..mari kembali pada kamu, kopi dan rokok. Aku pun tak menduga kamu dan rokok, memiliki hubungan sedekat itu. Sejujurnya tak mampu kubayangkan bagaimana kamu mengisap rokok itu dalam dalam dan mengembuskan asapnya. Yehaa dalam bayanganku kamu akan terbatuk-batuk dan berhenti mengisap bakaran daun tembakau itu. Apalagi mengingat kamu pernah punya sakit pernapasan. Tapi kamu pernah bercerita, jika kawan-kawan mu menawari dan kamu sedang tak sanggup menolak, sebatang saja akan kamu cicipi, menghargai katamu. Itu cerita lama. Dan aku pun mendengarnya karena aku bertanya. Kamu tahu? Aku tak suka lelaki perokok, dan waktu itu kriteria lelakiku adalah bukan perokok. Ah itu masa ketika usiaku usia-perempuan-yang-memiliki-kriteria-lelaki-idaman.

Sampai aku menemukan sebungkus rokok dalam tasmu, waktu itu kamu bilang itu milik temanmu. Seminggu setelahnya kutanya lagi, kamu bercerita itu milikmu. Entah mana yang benar. Aku hanya akan terus mengingatkan, rokok itu menggerogoti paru mu, tubuh mu, bahkan mungkin cinta di sekelilingmu.

Ya..ya..aku juga pernah merokok. Sekali atau dua kali, aku tak ingat. Dulu. Itupun rokok gratisan. Ada event di suatu tempat, aku beli karcis masuk dan diberi bonus rokok satu bungkus. Aku merokok ketika pikiranku saat itu sedang kalut. Kututup rapat kamar kos, jendela, gordennya. Jangan kamu bayangkan aku mampu menelan semua asap itu, sedikit-sedikit saja. Yang bikin senang saat itu bukan asap rokok yang enak tapi senang karena melakukan hal nakal. Pernah kuceritakan padamu bahwa aku sekali merokok, ekspresimu seperti melihat setan pocong lewat. Hahaha, aku tertawa. Pernah bukan berarti aku perokok, kutekankan itu padamu, dan teman laki lainnya yang ekspresinya sama sepertimu.

Cerita tentang kopi pun sama. Kopi juga hal yang mendekatkan kita. Kopi sidikalang. Masih ingat? Kopi sidikalang dan topi gajah. Entah di mana topi kece mu itu sekarang. Tiap ada yang tanya, sudah pernah minum kopi sidikalang, aku dengan bangga menjawab sudah, dan lantas ingat padamu.

Kopi dan rokok. Aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya jika dua hal itu dinikmati bersama. Nah kan kenapa kamu melotot seperti itu. Tenang saja, aku tak berniat mencobanya. Tapi, kau sudah pernah kan? Bagaimana rasanya? Nikmat mana dibanding kopi sambil bercerita bersamaku. Ah kau diam terlalu lama, ya..ya..aku tahu jawabnya.

Sebaiknya jangan lagi kamu merokok, kesehatanmu lho.

::separuh fiksi separuh tenanan::
 gambar nyomot semena-mena dari google image

Friday, August 01, 2014

menjelma adriana

atau apakah aku harus menjelma Adriana terlebih dahulu dan menciptakan petualangan untukmu, wahai kekasih
atau aku harus menjelma penjelajah dan menemanimu bertualang,
aku pernah mencoba dan kau khawatir luar biasa,
atau ah ini pilihan terakhir, menjelma cenayang sekaligus penulis...
meraba pikiranmu kemudian menuliskannya
hingga menjadi novel
setelah kau baca tamat novel itu, kau akan kehilangan..
begitu?

Saturday, July 26, 2014

Menikahi Malaikat

Ya, hari ini kuputuskan menikahi malaikat itu
Malaikat yang seharusnya tidak mudah diperdaya oleh kalian
Kalianlah setan

Mungkin ia bukan malaikat yang sesungguhnya
Tapi setidaknya ia membuatku meyakini
Kalian setan.......
Licik....

Tuesday, July 22, 2014

Jatuh Cinta itu Biasa Saja, yang tidak biasa adalah rindunya



Kita berdua hanya berpegangan tangan tak perlu berpelukan
Kita berdua hanya saling bercerita tak perlu memuji
Kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
Kita berdua tak hanya jalani cinta tapi menghidupi
Ketika rindu menggebu-gebu kita menunggu..
Jatuh cinta itu biasa saja
Saat cemburu membelenggu cepat berlalu
Jatuh cinta itu biasa saja
Jika jatuh cinta itu buta berdua kita akan tersesat
Saling mencari di dalam gelap
Kedua mata kita gelap
Lalu hati kita gelap
Hati kita gelap
Lalu hati kita gelap

::Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta Itu Biasa Saja::

Monday, July 07, 2014

Tegakkan kerah jaketmu, 
kenakan kaos kaki dan sarung tanganmu, 
letakkan senyum manis di bibirmu. 
Ungaran dingin. 
Hangatkan hatimu. :)

Monday, June 30, 2014

hai kamu yang sedang rindu masa lalu
lihatlah aku di sini
menunggu kau hiraukan
berdoa menjadi masa depan
mu



Sunday, June 22, 2014

Sentimental na..na..na..



Mungkin cuma gadis-gadis dalam drama Korea yang jika menangis hidung dan kelopak matanya tidak merah, atau hanya aku saja yang begitu.
Akhir-akhir ini aku begitu sentimental. Entah  karena masih merasa berkabung, atau karena sedang datang bulan. Mungkin alasan terakhir. Aku juga tak tahu pasti. Kadang merasa menyesal belum sempat bertemu ibu. Bukan ibu kandungku, tetapi ibu yang melahirkan mas. Malam ini tepat malam ketujuh beliau “pulang”.
Hari itu kami datang tepat ketika jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan terakhir kalinya. Mas memanggul tandu jenazah dan menyapa kami melalui lambaian tangan. Mas nampak tegar. Dia masih memakai kaos dan celana training, mungkin dia belum sempat berganti pakaian. Aku membayangkan, pagi hari dia masih melakukan aktivitas merawat ibu seperti biasanya, hingga dia mengirimiku sebuah kalimat, “ibu ku sudah ‘pulang’, nduk”. Ah tidakkah lelakiku itu begitu indah memilih kata. Dia sebut ‘pulang’, bukan meninggal.
Kami ikut mengantar hingga tempat peristirahatan terakhir. Hal yang ingin selalu kulihat adalah sosoknya, lelakiku itu. Entahlah, ada hal yang membuatku selalu mencari sosoknya di keramaian. Dia dan bapak. Bapak pun sama tegar, sesekali menghapus dan menahan air di sudut matanya.
Mengingat semua itu seringnya membuatku sesak. Oii..oii..hari itu ingin kupeluk dia.
Dan perasaan sentimental ini semakin menjadi karena bersamaan dengan datang bulan. Jreeng..jreeng..
Ah sesungguhnya aku ini sedang menunggu hujan, hujan cerita darinya. Sesungguhnya, jika dia bercerita, yang merasa lega adalah diriku, seperti sehabis hujan. Yah..perasaan semacam itu. Perasaan lega ketika matahari cerah, udara bersih beraroma tanah basah.

Semoga mas dan bapak, sehat-sehat selalu.
Teriring doa untuk ibu.

*Dan percayalah, besok pagi hidung dan kelopak mataku bengkak. Karena hanya gadis drama Korea yang hidung dan kelopak matanya tidak merah ketika menangis.*

Saturday, June 14, 2014

Uswatun



Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera di paket yang ia bawa adalah Uswahdani. Jika aku sedang tidak menunggu paket datang, namun nama itu yang tertera maka paket itu hanya mampir saja. Tak apa. Aku senang. Toh paket itu boleh kubuka dan kubaca. Ya. Isi paket yang sering datang ke rumah adalah buku. Ada seseorang sering memanggilku Uswahdani, aku pun jadi sering menggunakan nama itu. Nah, ketika datang paket padahal aku tidak sedang menunggu paket, dan nama itu yang tertera, pastilah paket itu miliknya. Kadang dia memanggilku Ni atau Nik. Panggilan yang sering digunakan ibu dan bapak untuk memanggilku, menurutnya menyenangkan memanggil nama ku dengan sebutan Ni atau Nik, saja. Oh iya, dia memanggilku Uswahdani supaya tidak nampak dia sedang ‘berbicara’ dengan lelaki, Dani memang ‘terdengar’ seperti nama lelaki.

Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera pada paket adalah Uswahdani. Orang memang lebih familiar dengan nama Uswatun, Uswatun Khasanah adalah salah satu sebutan untuk Nabi. Artinya adalah teladan yang baik. Mungkin bapak ingin anaknya memiliki sifat baik yang bisa diteladani, seperti Nabi. Lalu kenapa menjadi Uswahdani? Mungkin karena ibuku tidak ingin aku memiliki nama panggilan, Atun. Hehehe. Dan menurut ibu, orang yang beliau kenal, yang bernama Dani, pastilah keren dan pandai. Aamiin.

Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera pada paket adalah Uswahdani. Pak Pos langsung menuju rumahku, tidak lagi bertanya di mana rumah si anak bernama Uswatun ini. Ya, Pak Pos sudah hapal di mana letak rumahku, rumah yang berada di pojok kiri, depan lapangan badminton yang kini sudah tidak tampak lagi seperti lapangan badminton. Pak Pos sudah hapal lantaran beliau sering mengantarkan paket ke rumah. Seringnya paket-paket itu berasal dari Jogja. Para penjual buku dari Jogja memang lebih senang memakai jasa Pos Indonesia, aku pun begitu, jika berat paket yang ku kirim kurang dari 100 gram. Hehehe.

Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera pada paket adalah Uswahdani. Pak Pos yang baik dan murah senyum. Pak Pos yang wajahnya mirip Jeremy Tetti. Pak Pos yang sejak aku kecil sering menyambangi kompleks rumah untuk mengantar surat, kartu pos atau paket. Seingatku tidak pernah berganti dengan Pak Pos yang lain.

Pak Pos menyebut namaku Uswatun, meskipun nama yang tertera pada paket adalah Uswahdani. Siang ini kukoreksi, “Uswahdani, Pak.” Beliau menengok nama pada paket di tangannya, “Oh iya, Uswahdani. Seringnya kan Uswatun. Hehehe. Biasanya rumah ini tutupan, jadi saya titipin ke mbah.” Mbah yang beliau maksud adalah tetangga depan rumah.

Pak Pos menyebut namaku Uswatun,, meskipun nama yang tertera pada paket adalah Uswahdani. Tapi mungkin, lain kali jika ada paket untukku, beliau akan menyebut namaku Uswahdani. Dan jika saat itu tiba, aku akan bilang “Boleh juga dipanggil Dani, Pak.” 

Postingan ini sesungguhnya narsis saja.

Tuesday, June 03, 2014

Bianglala



Bianglala dalam ingatanku adalah pacar yang tetiba bilang sayang setelah sekian tahun tidak. Namun kini pacar itu telah menjadi mantan. 

Bianglala dalam ingatanku adalah janin yang tidak disadari seorang teman hadir dalam rahimnya. Janin itu sudah lahir, sehat dan kini sudah masuk TK.

Bianglala dan halilintar dalam ingatanku adalah keinginan untuk kelak ketika aku menikah, aku ingin menaiki semua wahana di Dufan itu bersama suami.

Bianglala mengingatkanku pada sore yang hujan dan berangin lembut yang membuatku tak bisa merasakan kegilaan menaiki tornado, ontang anting dan wahana ekstrim lainnya.

Bianglala mengingatkanku pada senja di ibukota.

Bianglala mengingatkanku akan keceriaan dan sendu dalam waktu bersamaan.

Bianglala mengingatkan ku akan rindu, padamu...