Bau neraka menyengat, meski dari jarak ribuan kilometer, itu bagi calon
penghuninya. Baiklah, itu bahasan yang terlalu tinggi untuk saya. Saya akan
membicarakan atmosfer neraka di bumi, versi saya.
Atmosfer neraka, salah satunya adalah rumah yang sedang dilanda ketegangan
tingkat tinggi. Ketika kondisi rumah sedang tidak kondusif. Yaitu ketika ibu
murka. Can you imagine? Ibu yang mengurus rumah tangga, segala keperluan
anggota rumah tangga. Ibu yang di telapak kakinya adalah surga.
Ridho tuhan berasal dari ridho ibu, ridho orang tua. Bahkan nabi
menyebutnya tiga kali, ibu, ibu, ibu kemudian bapak, ketika ditanya siapa orang
tua yang pertama kali dihormati.
Ketika ibu merasa diabaikan, dilupakan, tidak dihargai, dan disakiti, maka
saat itu murka tuhan perlahan akan turun. Dan ketika itulah suasana rumah
beratmosfer neraka.
Namun, ibu takkan melupakan kewajibannya, mengurus rumah tangga, menjadi
ibu dan istri yang luarbiasa, tapi tetap saja pedih dan kecewanya membuat
suasana hujan seperti menyesakkan. Dan
sakit kepala melanda. Ibu, mungkin tidak akan membanting pintu, memecahkan
gelas, dan melempar piring ketika marah, hanya diam. Tapi diam itu seperti
menusuk nusuk seluruh sudut rumah. Atmosfer neraka merebak.
Ibu dengan semua kelembutannya, kesabarannya, dan dalam diamnya.
Ketika ibu merasa tak marah dan kecewa, semua itu masih melekat hanya saja
sekali lagi saya bilang, atmosfer neraka merebak.
*sigh* bahkan kopi dan teh, tidak mampu meredam sakit kepala ini, tak mampu
setidaknya mengurangi efek atmosfer neraka ini.
Saya nulis apa sich ini.huwaaaahhhh....
No comments:
Post a Comment