Niatan kami adalah makan, tapi
prasmanan membuat kami tak berselera. Kami memesan es kofimiks dan jus jambu
tanpa es. Kami memilih satu meja, di sudut ruang dengan empat kursi. Dua kursi
untuk kami berdua, dan dua kursi lainnya untuk tas punggung kami. Pesanan
datang, segelas es kofimiks dan segelas jus jambu dengan es. Dia berdiri
memesan gelas kosong, untuk es yang tak seharusnya hadir. Es yang nantinya
menjadi air seiring cerita kami yang tak akan menguap.
Segelas es kofimiks kataku, bukan
secangkir, bagaimana rasanya? Manis, ya, karena bu pujasera menambah satu
sendok teh gula pasir. Tak mengapa, semanis kenangan yang melekat di tiap sudut
tempat itu. Hampir semuanya masih sama seperti dulu, hanya mendoan yang
berubah. Gorengan dingin itu tak senikmat seperti yang ada dalam ingatanku.
Entah karena kami hanya berdua atau ibu penggoreng sudah berbeda.
Segelas jus jambu dengan es.
Mungkin bu pembuat jus lupa dengan pesan kami. Tidak pakai es. Atau mungkin bu
pembuat jus merasa salah dengar, mana ada jus tanpa es.
Pesanan kami hanya dua gelas
minuman tapi kami bertahan dua jam, duduk bercerita. Dia bercerita, sambil
mengaduk jus jambunya. Dia angkat sesendok cairan jus, dia tuang di dinding
gelasnya, begitu dia lakukan hingga seluruh dinding gelas buram, kemudian dia
bersihkan. Begitu terus hingga ceritanya selesai. Agaknya kenangan yang dia
ceritakan seolah muncul dalam tiap butir jus jambu. Aku mendengarkan sambil
mengaduk es kofimiks ku. Es kofimiks yang kusesap sedikit demi sedikit. Cerita
kami pasti panjang, aku tak ingin memesan es kofimiks manis lagi. Manis gelas
kedua tidak akan nikmat lagi. Oh ini hanya berlaku untuk es kofimiks.
Serombongan mahasiswa asing
datang, bersama juru foto dan penerjemah, mereka makan kemudian pergi. Kami
masih asyik dengan cerita-cerita kami. Hingga ibu pujasera membereskan meja
yang penuh piring dan gelas kotor. Es dalam gelas mencair. Es kofimiks habis.
Kami beranjak. Berjanji bertemu di tempat lain. Cerita yang lain.
Semarang, 5 September 2014
No comments:
Post a Comment