Tuesday, September 16, 2014

Gambang Semarang dan Kamandaka



Pembicaraan sambil menunggu kereta datang seringnya bermacam-macam, dan berloncatan topiknya. Sudah pernah menunggu di stasiun? Beberapa tahun ini aku akrab dengan stasiun. Hal yang tidak kusuka adalah mengantar, dan yang paling dinanti adalah menjemput. Aku sendiri belum pernah naik kereta api sungguhan. Yah setidaknya sebelum memiliki kesempatan berkereta, kuakrabi dulu ruang tunggu nya, parkirannya, suara-suara keretanya yang datang dan pergi.

Pembicaraan kami cukup acak-acakan kali ini. Mulai dari mbak-mbak yang gayanya mirip artis, hingga kaca patri di ruang tunggu stasiun.

Di sela obrolan kami, hidungku yang sedang flu terganggu aroma tembakau bakar, kepala ini menoleh seksama ke arah bau. Lalu aku bertanya, di dalam kereta boleh merokok? Dijawabnya “nggak boleh, wong di sini saja seharusnya tidak boleh kok.” Hah..masa iya tapi kenapa bapak ini merokok enak betul di sampingku. Kupandangi lah dia dan rokoknya. Kupandang dia sampai dia merasa tak enak hati kemudian pergi sambil mematikan rokoknya. Hehehe. Aku tentu saja tersenyum penuh kemenangan, lalu bapak itu lewat sambil melirik padaku.

Ruang tunggu tempat kami duduk bukanlah ruang tunggu yang resmi, alias di depan loket customer service. Jadi, percakapan kami adalah tentang apa saja yang lewat di depan kami, sore ini. Seorang lelaki bermata sipit, berperawakan mirip dengannya lewat. Kukatakan padanya, kalau mas putih, mungkin benaran dikira keturunan cina ya. “Jepanglah. Aku ini mirip arek Jepang.” Kuberi tatapan heran padanya, iyelah..iyelah..

“Aku bawa buku banyak, tidak bawa baju. Tas ini isinya buku semua.hahaha. habisnya mau beli rak lagi juga percuma, di kamar sudah tidak ada tempat.”, begitu katanya, ketika kuminta memindah posisi tas.

“Beli rumah, kak....beli rumah.”, jawabku. Langsung dibalas lirikan mata dengan seksama. Aku mesem saja. Hehehe.

Gending Gambang Semarang terdengar, itu pertanda kereta datang. Aku suka mendengarnya. Terbayang ketika akhirnya kereta berhenti dan kita sampai di tujuan, Semaraaaaang. Belagak treveler-treveler gitu. Hihihi. Jadi ingin tahu, di stasiun lain, gendingnya apa ya. :) Menyenangkan adalah ketika gending itu berbunyi dan dia muncul dari pintu keluar dengan senyumnya yang sumringah.

Percakapan kami melompat dari satu hal ke hal lain. Aku menoleh padanya. Kukatakan padanya bahwa tiap dia bangun tidur, wajah habis mandi langsung sirna. Ya, sebelum berangkat ke stasiun, dia mandi, dan terlihat segar dengan rambut kriwilnya yang basah. 
Dia bilang, “yah beginilah, mandi tidak mandi sama saja. Terlihat sudah mandi hanya ketika rambutku basah. Dan sayangnya rambut ini cepat kering, dan cepat mengembang kembali.”

Aku kembalikan pandanganku ke depan, menggumam “kuntringer ki ra ra perlu media ekspresi.... kuntring adalah bentuk eksperesi. kalo bisa menggak-menggok, ngeruwel kanapa harus mainstream lurus.”

“hah..apa?”

Kuulangi kalimatku, sambil menambahkan bahwa itu adalah kalimat milik Mas Nuramri Saja. Lalu dia bercerita tentang temannya itu. Teman yang pandai mengoperasikan corel dan sering memenangkan kontes design. 

Aku menggumam lagi, “design seharga dua ratus juta.”

“hah..apa?”

Dia suka sekali bagian itu, -hah-apa- nya itu. Kuulang kalimatku, “design seharga 200juta, itu logo pt kai itu.”

“ooh...yang bikin Farid Stevy ya..”

“iya...”, sebenarnya aku ingin bertanya, kalau dia dapat uang 200juta, mau dia pakai apa. Tapi tidak kutanyakan. Rasanya aku pun akan malas diberi pertanyaan seperti itu.

Dia teringat pada temanku, yang bekerja di pt kai, apakah temanku itu menjadi masinis. Kujawab tak tahu, karena aku sungguh tak tahu. Aku jadi ingat cerita tentang masinis. Kuceritakan pula padanya. Bahwa masinis tugas dinas/menyopiri kereta 3-5 jam. informasi ini kudapatkan dari teman yang juga bekerja di pt kai. Aku punya tiga teman yang bekerja di pt kai. Tapi aku tidak tahu tugas mereka sebagai apa.

Teman memberi contoh kereta Jakarta-Semarang yang mengalami satu kali pergantian masinis. Sang masinis, mari kita sebut beliau Pak Arman. Pak Arman bertugas menyopiri kereta dari Jakarta dengan tujuan Semarang, ketika sampai di stasiun Cirebon, dia akan digantikan temannya. Mari kita sebut beliau Pak Baskoro. Pak Baskoro inilah yang akan melanjutkan tugas Pak Arman, menyopiri kereta dari stasiun Cirebon sampai tujuannya yaitu Semarang. Lalu bagaimana dengan Pak Arman? Apakah dia akan pulang? Tidak, Pak Arman akan kembali menyopiri kereta itu keesokan harinya, dari stasiun Cirebon menuju Jakarta, menggantikan Pak Baskoro. Teman menyebutkan bahwa mereka bekerja seperti jatah jam kerja pegawai pada umumnya, yaitu 8 jam sehariatau 40 jam seminggu. Nah, masinis menyopiri kereta selama empat jam dan istirahat selama empat jam, jadi totalnya pas 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Asik ya, istirahatnya masinis itu dihitung bekerja. Tapi tanggung jawabnya besar. Dan nyopiri kereta tentu tidak semudah menyopiri sepeda roda tiga, belum kalau tiba-tiba ada truk BBM berhenti di pintu kereta. Ngerem kereta nggak sesimpel ngerem pakai sendal swalow. Di mana para masinis itu beristirahat? Di mess yang disediakan atau menginap di penginapan, ku rasa begitu, aku belum menanyakan tentang itu pada temanku.

“hmm...berarti keretamu tidak mengalami pergantian masinis. Waktu tempuh hanya tiga jam kan?”

“Iya, sekarang jam berapa?”

“Jam setengah empat. Kereta mu berangkat jam berapa?”

“Empat dua lima.”

“Masih lama.”

“Adik itu ngeliatin terus.”

“Hah..mana..”

“Itu tadi..”

“Mana..”

“Itu tadi yang lewat digandeng ibunya. dari sebelah sana sampai sana, liatin aku terus.”

“Mungkin karena rambut kriwilmu.”

“Hahaha.iya.”

Kemudian lewatlah ibu-ibu hamil tua berbaju pink cerah. Perutnya besar sekali. Kami berdua menatap perutnya.

“Lucu.”, katamu.

“Apanya..”

“Perutnya. Besar.”

“Iya, mungkin bayinya besar.”

Lalu lewat serombongan mas-mas pecinta alam. Kenapa aku bisa tahu? Karena mereka kluwus tapi menarik. Hahaha.

“Kenapa mas-mas yang seperti itu selalu menarik untuk dilihat?”

Dia diam saja, sepertinya tidak paham.

Terdengar keributan. Ada (kemungkinan) copet ngeles, dan minta dikasihani. Lalu dipiting dua lelaki dan diamankan bersama Pak Satpam.

Kami pandang area parkiran. Ramai dengan mobil dan sepeda motor.

“Ini hari minggu ya.”

“Iya.”

“Pantas. Ramai. Tapi tidak biasanya mobil sebanyak ini. Pada ngapain sih di sini.”

Aku diam saja. Aku juga heran. Tapi tak kupikirkan.

*sigh* Aku benci mengantar. Karena nanti pulangnya sendirian. Tapi aku lebih benci tidak mengantar, karena nanti dia sendirian.

“Jam berapa?”

“Jam empat lebih lima.”

Dia kenakan kemeja flanel kotak-kotak, yang sedari tadi dia lipat.

“Jam berapa? Sudah lebih lima belas belum?”

“Sudah.”

Kami beranjak menuju pintu pemeriksaan tiket. Antre. Lalu kami mengedarkan pandang mencari kaca patri yang pernah kami lihat fotonya di laman fesbuk milik teman. Kaca patri pada jendela ruang tunggu. Kaca patri nan cantik bergambar lokomotif. Kaca patri yang cantik. Ciamik.

“Aku tidak pernah memperhatikan itu, ada kaca patri ciamik.”

Ah dia memang jarang memperhatikan hal seperti ini. Gending Gambang Semarang yang berbunyi juga pasti luput dari perhatiannya. Gending Gambang Semarang yang dibunyikan ketika kereta datang. Gending Gambang Semarang yang seolah menyambut datangnya para penumpang di Kota Semarang. Jawa Semarang. Aku sering membayangkan, menginjakkan kaki turun dari kereta dan disambut gending ini. Macak turis.

Tiba giliran tiket miliknya diperiksa. Dia pamit. Kutunggu hingga dia hilang dari pandangan, berbaur bersama penumpang lain, menuju Kamandaka.

Aku pulang, menyusur jalan yang sama dengannya beberapa jam yang lalu. Sendiri.

*Ditulis dengan ingatan pada tanggal 14 September 2014*

No comments:

Post a Comment