Showing posts with label LN. Show all posts
Showing posts with label LN. Show all posts

Tuesday, August 23, 2016

doa

Jika awalnya kau begitu terganggu ketika keadaan mengharuskanmu menunggu, menjadi istri akan mengubah rasa terganggu itu menjadi sebuah doa. 

Menunggu suamimu pulang adalah untaian doa yang panjang. 

Tuesday, September 16, 2014

Gambang Semarang dan Kamandaka



Pembicaraan sambil menunggu kereta datang seringnya bermacam-macam, dan berloncatan topiknya. Sudah pernah menunggu di stasiun? Beberapa tahun ini aku akrab dengan stasiun. Hal yang tidak kusuka adalah mengantar, dan yang paling dinanti adalah menjemput. Aku sendiri belum pernah naik kereta api sungguhan. Yah setidaknya sebelum memiliki kesempatan berkereta, kuakrabi dulu ruang tunggu nya, parkirannya, suara-suara keretanya yang datang dan pergi.

Pembicaraan kami cukup acak-acakan kali ini. Mulai dari mbak-mbak yang gayanya mirip artis, hingga kaca patri di ruang tunggu stasiun.

Di sela obrolan kami, hidungku yang sedang flu terganggu aroma tembakau bakar, kepala ini menoleh seksama ke arah bau. Lalu aku bertanya, di dalam kereta boleh merokok? Dijawabnya “nggak boleh, wong di sini saja seharusnya tidak boleh kok.” Hah..masa iya tapi kenapa bapak ini merokok enak betul di sampingku. Kupandangi lah dia dan rokoknya. Kupandang dia sampai dia merasa tak enak hati kemudian pergi sambil mematikan rokoknya. Hehehe. Aku tentu saja tersenyum penuh kemenangan, lalu bapak itu lewat sambil melirik padaku.

Ruang tunggu tempat kami duduk bukanlah ruang tunggu yang resmi, alias di depan loket customer service. Jadi, percakapan kami adalah tentang apa saja yang lewat di depan kami, sore ini. Seorang lelaki bermata sipit, berperawakan mirip dengannya lewat. Kukatakan padanya, kalau mas putih, mungkin benaran dikira keturunan cina ya. “Jepanglah. Aku ini mirip arek Jepang.” Kuberi tatapan heran padanya, iyelah..iyelah..

“Aku bawa buku banyak, tidak bawa baju. Tas ini isinya buku semua.hahaha. habisnya mau beli rak lagi juga percuma, di kamar sudah tidak ada tempat.”, begitu katanya, ketika kuminta memindah posisi tas.

“Beli rumah, kak....beli rumah.”, jawabku. Langsung dibalas lirikan mata dengan seksama. Aku mesem saja. Hehehe.

Gending Gambang Semarang terdengar, itu pertanda kereta datang. Aku suka mendengarnya. Terbayang ketika akhirnya kereta berhenti dan kita sampai di tujuan, Semaraaaaang. Belagak treveler-treveler gitu. Hihihi. Jadi ingin tahu, di stasiun lain, gendingnya apa ya. :) Menyenangkan adalah ketika gending itu berbunyi dan dia muncul dari pintu keluar dengan senyumnya yang sumringah.

Percakapan kami melompat dari satu hal ke hal lain. Aku menoleh padanya. Kukatakan padanya bahwa tiap dia bangun tidur, wajah habis mandi langsung sirna. Ya, sebelum berangkat ke stasiun, dia mandi, dan terlihat segar dengan rambut kriwilnya yang basah. 
Dia bilang, “yah beginilah, mandi tidak mandi sama saja. Terlihat sudah mandi hanya ketika rambutku basah. Dan sayangnya rambut ini cepat kering, dan cepat mengembang kembali.”

Aku kembalikan pandanganku ke depan, menggumam “kuntringer ki ra ra perlu media ekspresi.... kuntring adalah bentuk eksperesi. kalo bisa menggak-menggok, ngeruwel kanapa harus mainstream lurus.”

“hah..apa?”

Kuulangi kalimatku, sambil menambahkan bahwa itu adalah kalimat milik Mas Nuramri Saja. Lalu dia bercerita tentang temannya itu. Teman yang pandai mengoperasikan corel dan sering memenangkan kontes design. 

Aku menggumam lagi, “design seharga dua ratus juta.”

“hah..apa?”

Dia suka sekali bagian itu, -hah-apa- nya itu. Kuulang kalimatku, “design seharga 200juta, itu logo pt kai itu.”

“ooh...yang bikin Farid Stevy ya..”

“iya...”, sebenarnya aku ingin bertanya, kalau dia dapat uang 200juta, mau dia pakai apa. Tapi tidak kutanyakan. Rasanya aku pun akan malas diberi pertanyaan seperti itu.

Dia teringat pada temanku, yang bekerja di pt kai, apakah temanku itu menjadi masinis. Kujawab tak tahu, karena aku sungguh tak tahu. Aku jadi ingat cerita tentang masinis. Kuceritakan pula padanya. Bahwa masinis tugas dinas/menyopiri kereta 3-5 jam. informasi ini kudapatkan dari teman yang juga bekerja di pt kai. Aku punya tiga teman yang bekerja di pt kai. Tapi aku tidak tahu tugas mereka sebagai apa.

Teman memberi contoh kereta Jakarta-Semarang yang mengalami satu kali pergantian masinis. Sang masinis, mari kita sebut beliau Pak Arman. Pak Arman bertugas menyopiri kereta dari Jakarta dengan tujuan Semarang, ketika sampai di stasiun Cirebon, dia akan digantikan temannya. Mari kita sebut beliau Pak Baskoro. Pak Baskoro inilah yang akan melanjutkan tugas Pak Arman, menyopiri kereta dari stasiun Cirebon sampai tujuannya yaitu Semarang. Lalu bagaimana dengan Pak Arman? Apakah dia akan pulang? Tidak, Pak Arman akan kembali menyopiri kereta itu keesokan harinya, dari stasiun Cirebon menuju Jakarta, menggantikan Pak Baskoro. Teman menyebutkan bahwa mereka bekerja seperti jatah jam kerja pegawai pada umumnya, yaitu 8 jam sehariatau 40 jam seminggu. Nah, masinis menyopiri kereta selama empat jam dan istirahat selama empat jam, jadi totalnya pas 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Asik ya, istirahatnya masinis itu dihitung bekerja. Tapi tanggung jawabnya besar. Dan nyopiri kereta tentu tidak semudah menyopiri sepeda roda tiga, belum kalau tiba-tiba ada truk BBM berhenti di pintu kereta. Ngerem kereta nggak sesimpel ngerem pakai sendal swalow. Di mana para masinis itu beristirahat? Di mess yang disediakan atau menginap di penginapan, ku rasa begitu, aku belum menanyakan tentang itu pada temanku.

“hmm...berarti keretamu tidak mengalami pergantian masinis. Waktu tempuh hanya tiga jam kan?”

“Iya, sekarang jam berapa?”

“Jam setengah empat. Kereta mu berangkat jam berapa?”

“Empat dua lima.”

“Masih lama.”

“Adik itu ngeliatin terus.”

“Hah..mana..”

“Itu tadi..”

“Mana..”

“Itu tadi yang lewat digandeng ibunya. dari sebelah sana sampai sana, liatin aku terus.”

“Mungkin karena rambut kriwilmu.”

“Hahaha.iya.”

Kemudian lewatlah ibu-ibu hamil tua berbaju pink cerah. Perutnya besar sekali. Kami berdua menatap perutnya.

“Lucu.”, katamu.

“Apanya..”

“Perutnya. Besar.”

“Iya, mungkin bayinya besar.”

Lalu lewat serombongan mas-mas pecinta alam. Kenapa aku bisa tahu? Karena mereka kluwus tapi menarik. Hahaha.

“Kenapa mas-mas yang seperti itu selalu menarik untuk dilihat?”

Dia diam saja, sepertinya tidak paham.

Terdengar keributan. Ada (kemungkinan) copet ngeles, dan minta dikasihani. Lalu dipiting dua lelaki dan diamankan bersama Pak Satpam.

Kami pandang area parkiran. Ramai dengan mobil dan sepeda motor.

“Ini hari minggu ya.”

“Iya.”

“Pantas. Ramai. Tapi tidak biasanya mobil sebanyak ini. Pada ngapain sih di sini.”

Aku diam saja. Aku juga heran. Tapi tak kupikirkan.

*sigh* Aku benci mengantar. Karena nanti pulangnya sendirian. Tapi aku lebih benci tidak mengantar, karena nanti dia sendirian.

“Jam berapa?”

“Jam empat lebih lima.”

Dia kenakan kemeja flanel kotak-kotak, yang sedari tadi dia lipat.

“Jam berapa? Sudah lebih lima belas belum?”

“Sudah.”

Kami beranjak menuju pintu pemeriksaan tiket. Antre. Lalu kami mengedarkan pandang mencari kaca patri yang pernah kami lihat fotonya di laman fesbuk milik teman. Kaca patri pada jendela ruang tunggu. Kaca patri nan cantik bergambar lokomotif. Kaca patri yang cantik. Ciamik.

“Aku tidak pernah memperhatikan itu, ada kaca patri ciamik.”

Ah dia memang jarang memperhatikan hal seperti ini. Gending Gambang Semarang yang berbunyi juga pasti luput dari perhatiannya. Gending Gambang Semarang yang dibunyikan ketika kereta datang. Gending Gambang Semarang yang seolah menyambut datangnya para penumpang di Kota Semarang. Jawa Semarang. Aku sering membayangkan, menginjakkan kaki turun dari kereta dan disambut gending ini. Macak turis.

Tiba giliran tiket miliknya diperiksa. Dia pamit. Kutunggu hingga dia hilang dari pandangan, berbaur bersama penumpang lain, menuju Kamandaka.

Aku pulang, menyusur jalan yang sama dengannya beberapa jam yang lalu. Sendiri.

*Ditulis dengan ingatan pada tanggal 14 September 2014*

Friday, April 04, 2014

Mas yang rambutnya diikat



Mas yang gelangnya berkurang satu ketika rambutnya diikat di belakang, dan dari jauh membuatnya menjadi mirip Shikamaru Nara.

Saya pernah tidak mengenali sosoknya di antara teman-temannya. Gegara rambutnya yang diikat. Perlu menoleh dua kali pada kerumunan itu untuk bisa mengenalinya. 
Ya, karena saya merasa ada yang kurang pada kerumunan jika tak menemukan sosoknya. Dia selalu ada di antara mereka.

Mas yang gelangnya berkurang satu ketika rambutnya diikat ke belakang.

 *foto nyomot dari laman facebook nya*

Wednesday, April 02, 2014

Bajigur.



Mari kita bercerita tentang bajigur. Kata yang akhir-akhir ini akrab di telinga saya.

Coba saja googling dengan kata kunci “bajigur” maka akan muncul di laman teratas yaitu definisi dari wikipedia: “Bajigur is a hot and sweet beverage native to the Sundanese people of West Java, Indonesia. The main ingredients are coconut milk and Aren sugar; usually to add taste, a small amount of ginger and a small pinch of salt. Traditionally fragrant pandan leaves were added, but now often artificial vanilla powder is used. It can also include kopi tubruk, finely pounded coffee.” Ya, bajigur adalah nama minuman hangat yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, pada hasil penelusuran mesin google akan banyak laman yang menunjukkan resep minuman ini.

Pada umumnya bajigur terdiri dari santan, gula aren, jahe, kayu manis, sedikit garam, bubuk kopi dan daun pandan. Namun ada juga yang menambahkan bubuk pala, sereh dan cengkeh, serta menambahkan kolang kaling dan serutan daging kelapa muda. Saya sendiri belum pernah mencoba membuat minuman ini, belum pernah tertarik.

Bajigur bagi masyarakat Sunda adalah jenis minuman. Namun, bajigur bagi masyarakat Jawa Tengah dan DIY, bisa berarti umpatan. Masih menurut wikipedia, “In Javanese language, the term "bajigur" was used as euphemism for the swear word bajingan".

Pada kamusslang.com disebut bahwa kata bajigur adalah adik dari kata bajingan. Bajingan artinya apa saya tidak tahu, yang saya tahu bajing adalah nama hewan. Oh mungkin bajingan adalah sebutan bagi orang yang kelakuannya mirip bajing. Kelakuan bajing seperti apa, saya tidak tahu. Tapi jika bertanya pada orang tua, apa arti bajingan maka dapat dipastikan kita akan di-huss-kan, yang berarti –tidak boleh bicara seperti itu, itu kata-kata kasar-.

Masih menatap hasil penelusuran google, saya menemukan Kyai Bajigur. Tempo.co menulis tentang sebuah pondok pesantren di Sumenep Jawa Timur, Pondok Pesantren Salafiyah Al-Bajigur. Salah seorang kyai nya yaitu K.H Abdurrahman sering disebut sebagai Kyai Bajigur.

Lalu, manakah bajigur yang sering saya dengar? Tidak satupun dari definisi di atas. Bajigur yang saya dengar adalah ungkapan takjub. Separuh mengumpat, separuh tak percaya (gumun) pada apa yang dilihat, bisa jadi juga separuh memuji. Hehehe.

Awalnya memang janggal, namun kemudian saya terbiasa, bahkan kadang saya sudah memprediksi kapan kata itu akan saya dengar.

Siapa yang mengucapkannya? Dia adalah guru imaji bagi seseorang. Meskipun hingga sekarang imaji yang bagaimana saya juga masih tak begitu paham. Orang ini memang menarik.

Mari saya ceritakan, ‘bajigur’ yang membuat saya menoleh cepat pada pengucapnya. Dua kali bajigur yang membuat saya memahami definisi baru. Bajigur yang pertama adalah ketika saya ngeyel untuk menulis judul pada kaset CD. Setelah selesai saya menuliskan judul isi kaset CD tersebut, dia berujar “bajigur!”, saya bertanya apanya yang bajigur, dia menjawab “tulisane apik..”. Seperti yang saya utarakan tadi, definisi pengucapan bajigur olehnya adalah wujud takjub, separuh mengumpat, separuh gumun dan separuh memuji.

Bajigur kali kedua adalah ketika kami melihat anggrek hutan di Sumowono, ada anggrek kecil, anggrek se-upil, yang belum pernah dia lihat, yang akhirnya kami beli, dan kini nangkring di pohon sukun belakang rumah saya. Percayalah, dia sudah banyak melihat anggrek se-upil, se-upil garing, se-kutil, se-andeng-andeng, se-jerawat batu. Ya, ketika melihat anggrek se-upil itu, dia berujar “bajigur!”. itu adalah ungkapan takjub, gumun dan memuji. Biarpun saya menyebutnya se-upil, tolong jangan membayangkan anggrek ini buruk rupa, anggrek ini cantik, sungguh, jika dilihat menggunakan kamera makro atau mikroskop. Hehehe. Hmm...nama anggrek ini Appendicula purpurascens Blume.

Bajigur yang bukan lagi berarti umpatan kasar, bajigur yang bukan berarti minuman. Bajigur yang mengungkapkan ketakjuban yang sulit diungkapkan oleh kata-kata.

Bajigur oh bajigur....

Saya jadi lapar.

Monday, November 12, 2012

Aku rinduuu padamu :)


Masih ingat kan kalau aku suka menulis ulang sms yang kau kirim untukku. Ya, tadi sesiangan aku tulis sms mu yang masih ku simpan, inbok nya sudah penuh jadi musti dihapus sebagian. Ada buku tempat aku menulis cerita dan semua hal termasuk tentangmu, ku tulis sms-sms itu di sana. Dan kubaca lagi yang sudah tertulis. Aku rindu. Heiii...
Malam ini aku tidur lebih awal karena merasa migrain akan datang. Dan terbangun pukul 20.30, ku tengok ponsel ku, tidak ada pesan darimu, cemas menyergap, ah langsung ingat mimpi buruk barusan. Aku mencoba membuka mata, melafalkan dzikir dalam hati, berusaha bangun kemudian minum air putih. Ku ketik sms untukmu, “bagaimana senut-senutnya? Masih mumet?” menunggu hingga setengah jam dan kau tidak membalas. Ah mungkin kau sudah tidur. Tak apa. Baik-baik kau ya. Sehat kau ya. Semoga kau baik-baik saja...hanya doa yang mampu ku kirim untukmu ketika kita dibentangkan jarak seperti ini. Duh...aku rindu padamu.
Ku alihkan pikiranku dan kubuka twitter, sebuah akun per-kopi-an menulis “Minum kopi secangkir berdua adalah salah satu hal romantis (bagi yang sudah memiliki pasangan) :D”. Aku teringat padamu, kita berdua suka minum kopi, dan kau pernah mengirimiku pesan “couple of coffee and we talks”.
Pernah kita berangan suatu pagi nanti aku dan kamu, kita berdua, duduk di teras rumah saling menatap dan menikmati kopi, menikmati pepohonan yang menghadirkan kicauan burung-burung. Ah betapa pagi itu akan luar biasa. Yah..semakin rindu lah aku.

Nah...sleepwell sayang. Baik-baik kau ya.
Mari sholat isya dulu, sepertinya mimpi buruk tadi dikarenakan aku belum sholat.

Saturday, June 16, 2012

doa pencinta



bila penantian terasa sia-sia dan sunyi malam mengentalkan rindu, semoga bintang tak berhenti berkabar gembira tentang cerah pagi,
bila saat perjumpaan terasa tak lama dan perpisahan merisaukan kalbu, semoga harapan-harapan tak mati bersama keperkasaan cinta di hati,
bila janji pertemuan dibatalkan dan gejolak hati tak terkirakan, semoga bukan karena kekasih murka dan tak lagi sudi bersuabila hati terlupa, semoga kekasihku tetap mengingatku
bila hati ini teringatmu o kekasih semoga karena kau mengingatku. Amin

by : gus mus

Monday, May 14, 2012

Jatuh

kata-kata mu menjatuhkan ku dari ranting pohon tempat ku tertahan sejenak setelah aku terperosok dari atas tebing.
JATUH!
semakin dalam.
sakit.

Saturday, May 05, 2012

Anggrek, buku, dan kamu


Anggrek. Kembang cantik itu kini yang memenuhi pikiranmu, tentu saja gunung, kodok, burung, mangrove dan yang lainnya juga masih setia mengisi hatimu. Senangnya kembali bercerita denganmu. Aura semangat mu itu aku suka. Berjam-jam dengan dirimu bercerita tentu saja aku betah. Hanya saja untuk mengalami hal ‘berjam-jam’ itu belum memungkinkan untuk kita ya, pasti selalu ada sesuatu hal yang membuatmu pergi.
Senja kemarin, sambil memandang anggrek yang tertempel di pohon palem depan lab aku mendengarkan ceritamu tentang anggrek. Pengalamanmu belajar tentang anggrek, yang ternyata anggrek itu jenis nya banyak sekali dan banyak bentuk anggrek yang tidak kita duga bahwa dia termasuk anggrek. Saat aku bertanya memangnya nama ilmiah anggrek apa, lalu kau menyebutkan banyak nama genusnya. Dendrobium, Schoenorcis, Appendicula dan lain-lain. Haaa kamu sudah hapal yaa. Hehehe. Jos. Aku Cuma tau satu, Dendrobium, dan Appendicula itu bukannya nama organ ya, eh itu apendiks ding. Hihihi.
Kemudian kau bercerita bagaimana masih kesulitan mengident anggrek kalau sudah masuk hutan, karena refrensi buku yang masih terbatas. Dan kau bercerita ada seorang teman dari Palembang yang punya buku ident anggrek, teman itu diberi oleh seorang peneliti anggrek dari Inggris, dan teman itu bilang kalau proposal funding ident anggrek-mu didanai, nanti buku yang dia punya akan diberikan cuma-cuma. Wawawawa. Hahaha. Mari kita amin’i bersama. Amiiin. Semoga ya.
Lalu kau bercerita bahwa tulisanmu tentang anggrek sudah selesai. Hal yang sudah lama sekali tidak kau lakukan bukan? menulis. Dan kau sedikit geli karena hasil tulisanmu yang ini terasa aneh, maklum sudah lama berkarat otaknya, begitu katamu. Yap, tak apa, memulai lagi hal yang kita sukai setelah sekian lama memang rasanya sedikit aneh, tapi menyenangkan. Aku melihat lagi pesonamu yang sempat meredup diiringi karat-karat otakmu itu. Haha.
Tapi beneran ini, aku seperti bertemu kembali denganmu. Hal yang kuharap kudapat sekembalinya kau dari hutan cangar. Entah apa yang bisa membuat mu kembali, hmm..mungkin buku ya. Iya kaan? Kau membeli banyak sekali buku bulan ini, habis duit hampir setengah juta kaan. Hihihi. Yang ini juga aku suka. Kau mulai lagi membaca. Semua buku yang ingin kau baca kau beli. Semua buku yang sudah kau beli tapi belum sempat tersentuh juga mulai kau baca. Jalan-jalan ke toko buku bersamamu menyenangkan, karena kau tak semata-mata mengantarkan aku membeli buku, tapi kau juga menikmati buku. Kita membahas buku-buku yang ada di rak sastra, buku ini sudah kau punya, buku itu kau sudah baca, buku ini harganya lebih murah di sana, buku yang itu terbit lagi dengan cover baru. Atau di rak new release,  pada salah satu buku kau berkata “ini pasti terbitan komunitas bambu,” aku sudah punya yang –kau menyebutkan salah satu judul buku-, lalu kau bilang, “aku mau koleksi semuanya biar lengkap satu nusantara.” Di rak buku-buku religi kau mencari satu set buku syekh siti djenar, satu set berisi tiga buku dan harganya sekitaran satu juta, kau bilang kenapa tidak dijual terpisah yaa. Hehehehe. Kemudian kau bilang “yang ini aku sudah pernah baca tapi mbuh bukunya sekarang dimana,” sambil menunjuk salah satu buku. Bukumu banyak yaa, sampe lupa dimana-nya sekarang. : )

Ah kapan kita bisa bercerita lagi, dengan leluasa dalam waktu yang cukup panjang.

Pagi dan senja, banyak hal menyenangkan di sana. Aku mencintai keduanya. Pada pagi terdapat semangat yang terbarukan, pada senja terdapat suasana yang menenangkan. Dan pada keduanya terdapat dirimu. Pada pagi terdapat salam selamat pagi, pada senja salam bagaimana harimu. Atas nama pagi dan senja aku mencintaimu. Selamat pagi...: )

Thursday, May 03, 2012

Tentang pagi dan senja

seseorang mencintai senja saja
seorang yang lain memuja pagi saja
aku mencintai keduanya
pada pagi terdapat semangat yang terbarukan
pada senja terdapat suasana yang menenangkan

pada keduanya terdapat kamu
pagi terdapat salam semangat pagi
dan senja terdapat salam "bagaimana harimu?"

cerita cerita yang mengisi keduanya menjadi penanda
bagaimana hari itu akan menyenangkan.

selamat pagi.. ^_^

Tuesday, April 24, 2012

Teman baik


Dia tidak mau hubungan kami disebut sebagai pacaran. Seringnya dia menyebut saya sebagai kekasih, sesekali disebutnya saya adalah calon istri. *senyum-senyum*
Hanya, ternyata mindset saya tentang kekasih masih saja melulu tentang rindu yang harus diungkapkan, tentang rasa sayang yang selalu dikatakan, tentang keinginan selalu bertemu yang seringnya bikin saya badmood, tanpa memikirkan kesibukannya.
Kadang saya rindu dulu, saat perasaan ini tersimpan rapi, saat rindu ini terbayar hanya dengan melihat sosoknya, senyum, dan mata sipitnya. Saat menunggu-nunggu pesan singkat darinya menjelang lelap. Saat tak harus tahu dimana dengan siapa dan sedang berbuat apa?*heheheh*

Sampai segala keruwetan ini saya bikin sendiri. Tentang ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan kuat. Sampai-sampai dia harus mengatakan, “aku memang jarang mengatakan rindu atau sayang padamu, tapi jangan dianggap aku tak rindu atau tak sayang padamu.”

Teman baik yang menjadi kekasih itu bagus, tapi lebih bagus lagi jika kekasih itu bisa menjadi teman baik.

Sebuah quote yang entah saya dapat darimana, tapi cukup membuat saya berpikir, iya yaa.

Saya ingat yang dulu itu, ya kami teman baik, kini menjadi lebih dekat, tapi mungkin menjadi tidak begitu baik. Mungkin sikap-sikap rewel saya membuatnya tidak nyaman, hingga dia merasa belum bisa membuat saya bahagia dengan jarang bertemunya kami.

Kini ketika ada yang memastikan tentang kami, “pacarnya?” bukan. “kekasih ya?” hemm..mungkin. “calon suami?” *senyum*.

Kami teman baik, semoga tuhan merestui, hingga akhir hayat kami diijinkan bersama saling menyayangi. Amin.

Ya..saya akan membuat hubungan ini menjadi lebih nyaman untuk kami. Sebagai teman baik. Dia sebagai teman baik saya yang menemani hidup saya nanti. Begitupun sebaliknya. Amin.

Ah semoga dia membaca tulisan ini...^^


Sunday, April 15, 2012

Rindu dulu

terkadang aku rindu dulu..
dulu ketika segala hal tentang mu adalah kejutan
dulu ketika segala pesan mu adalah senyum
dulu ketika kita sibuk dengan spontanitas..

spontan berpesan-pesan
spontan merindu
spontan teringat sosokmu
rindu mengingat sosokmu

tak ada batas untuk bertegur sapa
tak ada batas untuk berbagi cerita
tak ada batas untuk mengucap selamat malam
tak ada batas untuk mengecup selamat pagi
tak ada batas untuk merindu dalam diam

ya..terkadang aku rindu..
atau haruskah aku bersikap seperti dulu
merindumu dalam diam
mengagumimu dalam sepi
sambil berharap suatu saat semua itu berbalas.


Friday, April 06, 2012

Enam April

Kangen sama mas. Tapi musti sabar. Hemmm...sekalian belajar kalau2 nanti ditinggal ke luar jawa dalam waktu lama dan nggak ada sinyal.
huhuhu...dia kangen juga nggak yaa. ^^

Sunday, April 01, 2012

Malang

Pagi tadi dia sudah menginjakkan kaki di Malang, setelah semalaman berada di dalam kereta, alat transportasi favoritnya. Tadinya sedikit khawatir dengan kondisi kesehatannya yang sedikit terganggu oleh mumet dan flu. Tapi mungkin kerinduannya terhadap kereta lah yang membuatnya merasa baikan.
Beberapa jam kemudian dia mengabari bahwa hutan tempatnya main-main kali ini (pun) sinyal ponsel sulit di dapat. It's oke sayang. Selamat bersenang-senang di sana, yang penting nanti pulang dalam keadaan sumringah dan tambah ganteng. hahaha.

Monday, February 27, 2012

Take a Deep Breath

take a deep breath...take a deep breath...take a deep breath...

Mulai deh 'penyakit' ruwet ini. Kewarasan saya dalam tahap kritis.
Kalau sudah begini, pengennya :

  1. Nulis yang aneh-aneh
  2. Ngopi terus
  3. Masak
  4. Bikin kerajinan
  5. Maen kemana gitu
  6. Nonton film 
  7. Maen game
  8. Ketemu kekasih
  9. Dandan
Point 1, 2, 3, 4, 9, bisa dilakukan di rumah jika keadaaan memungkinkan (ada bahan-bahannya gitu).
Point 5 tergantung banget sama cuaca.
Point 6 wohoooo...yang nyetok film lagi studi ke luar negri, nyewa juga tergantung cuaca.
Point 7 huh..lagi krisis game yang bagus ya.
Point 8 tergantung cuaca, tergantung kesibukan (terutama kesibukan dia), tergantung di angan-angan semata.

Lah wes ayok masak aja.

Kekasih

Dia jauh berbeda dari yang pernah singgah
Satu nya persamaan adalah dia mampu membuatku selalu menoleh padanya
selalu membuat hati ini mencari nya
Tinggi, keriting, kurus, bola matanya coklat, senang bersenanadung, suka puisi, suka sastra, penulis, cinta buku, nggak akan pernah selesai jika harus menjelaskan bagaimana dia, di mataku.


Friday, February 24, 2012

Ruang dan Waktu

mungkin dunia ini tidak cukup luas untuk kita berdua.
hanya berdua saja.

Thursday, January 26, 2012

membiarkan diriku

aku sedang serius belajar memasak
aku sedang serius membiasakan bangun lebih pagi
aku sedang serius mengerjakan dan menyelesaikan apa yang sudah saya mulai
aku sedang serius untuk mulai lagi berolahraga
aku sedang serius belajar bikin kopi yang lebih enak lagi
aku sedang serius unntuk menjadi sabar

Sunday, January 22, 2012

banyuwindu

banyuwindu, 22 januari 2012
Sebuah dusun di Desa Limbangan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, terletak di kaki gunung ungaran. hari ini saya ikut kekasih yang mengambil data populasi julang di sana. keputusan yang mendadak dan pada akhirnya membuat saya merutuki diri sendiri.

Friday, January 20, 2012

satu-satunya

dia itu spesial.
jadi aku ingin menjadikannya satu-satunya.
dan aku takkan menghiraukan yang lain.
masa lalu ya masa lalu.
terimakasih sudah menghormati apa yang ku tempuh kini.

this weekend will be a loooooong weekend.
will be alooooneeee weekend.

have a nice weekend

Saturday, December 24, 2011

gunung prau

hari ini si kekasih berangkat ke gunung prau buat survey. mungkin nanti akhir tahun GC (green community) bakal pendadaran angkatan baru di sana. huhu. gak ada sinyal kayaknya. hehe. gapapa, yang penting dia dalam keadaan baik-baik saja ya. soalnya di Ungaran hujan, takutnya di sana juga ujan deres.
nah malam minggu cuma maen game sama onlen. biasanya smsan sama si kekasih. :D