banyuwindu, 22 januari 2012
Sebuah dusun di Desa Limbangan Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, terletak di kaki gunung ungaran. hari ini saya ikut kekasih yang mengambil data populasi julang di sana. keputusan yang mendadak dan pada akhirnya membuat saya merutuki diri sendiri.
pos pengamatan berada di gunung tampok, naiknya nggak sampai puncak sich, tapi cukup bikin saya ngos-ngosan. sebentar-sebentar berhenti, dan oleh karena itu saya merutuki diri sendiri. aaargh...begini ini gegara nggak pernah olahraga.
sebelum sampai di pos pengamatan, kami sudah melihat dua julang melintas.
ah iya, saya ikut kekasih bersama dua orang temannya. jadi kami berempat.dan saya perempuan the one and only. satu hal yang kadang membebani saya ketika dalam kondisi tersebut adalah takut merepotkan. yang capek lah...yang pengen buang air lah, yang manja lah, yang merengek lah, mengingat sudah lamaaa sekali terakhir saya melakukan perjalanan seperti ini. dan dia menyarankan saya untuk sering-sering olahraga, minimal lari.
karena saya yang begitu lambat, perjalanan yang dimulai pukul delapan pagi menjadi sangat lama dan baru sampai di pos pukul sembilan lebih tiga puluh menit. setelah persiapan selesai, kami mulai menunggu sang julang melintas. saya yang baru pertama kali ikut mengamati, mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. pepohonan besar tinggi dan beraneka ragam, semuanya hijau, rimbun dan dingin. terdengar suara angin yang begitu kencang tapi tidak saya rasakan 'ia' menyentuh kulit, ya..angin hanya menggoyangkan dedaunan pohon, bercengkerama dan bercanda mesra. tak hanya dengan angin pepohonan itu bercengkerama, dengan segala satwa yang berlindung padanya pun 'dia' tertawa. draco draco yang berterbangan dari satu pohon ke pohon lain, seolah sedang bermain petak umpet di setiap sisi badan pohon.
punggung saya mulai tidak nyaman, kemudian saya bersandar pada pohon besar yang menaungi kami, waktu menunjukkan pukul sebelas siang, suhu udara masih begitu dingin bahkan cahaya matahari yang hadir diantara rimbun daun dan menerpa wajah saya, hangatnya seperti pukul delapan pagi. yaaa...suhu yang begitu dingin juga membuat air minum sedingin air minum dari dalam coolkas.
kekasih berseru "wah ada takur, berarti pohon itu sednag berbuah." awalnya saya bingung apa itu takur, kemudian saya membuka buku panduan pengamatan burung yang dipinjamkan pada saya, ternyata takur adalah salah satu jenis burung. bwihihihi...
saya benar-benar menikmati suasana di sana...berada di antara orang-orang yang luar biasa, berada di alam yang luar biasa. ah bagaimana mahameru ya. tapi kekasih bilang, "kaya gini mau naik mahameru.olahraga dulu.." yayaya...hahahaha...
yang jelas saya ingat adalah mereka, orang-orang luar biasa itu begitu mencintai dunia mereka, dan kekasih beneran terlihat hmmm...dia mencintai dunianya, dan dia mengenalkan dunianya itu pada saya. he's looks more ganteng. hehe
sayangnya penantian kami tak berbuah manis, sang julang yang dinanti tak jua melintas, rasa lelah kian menghimpit dan sayaaaa seperti yang saya takutkan adalah kepengen buang air. maka, ketika seorang teman meng-ide-kan untuk turun saya dengan sumringah menyambutnya. ayo turun..hahaha.
dan perjalanan turun tak semudah yang dibanyangkan, jalur yang licin kerap menggelincirkan kami. tapi ini juga menyenangkan, karena kami bertemu kupu-kupu yang cantik, serangga-serangga yang menarik, dan buah-buahan yang belum pernah saya lihat. hehe.
karena pada pos utama kami tak melihat satu pun julang melintas, maka kami membuat pos-pos bayangan, dan berhenti cukup lama untuk kembali menanti julang cantik. eh sudahkah saya sebutkan bahwa ketika julang itu melintas suara kepakan sayapnya terdengar keras menghentak udara..wut..wut..wut..wut..wut.. namun sekali lagi kami tak jua melhat julang melintas. tapi tak apa, perjalanan ini bukan tidak mendapatkan hasil, karena pada perjalanan naik kami melihat dua julang melintas.
sepertinya baru ini yang bisa saya tuliskan...dan ini menjadi perjalanan yang spesial untuk saya.
oh iya..selamat tahun baru imlek..
No comments:
Post a Comment