Masa-masa semester akhir adalah saat kesolid'an hubungan pertemanan diuji. Bawaannya sensi kalo ada yang nanya/sms tentang skripsi dan kampus.
"Gimana skripsi mu?"
"Kapan ujian skripsi nya?"
"Ke kampus gak?" bahkan pertanyaan simpel
"Gimana kabarmu?" *karena pertanyaan itu akan menjurus ke "Sudah sampai mana skripsimu?"
Nah..bagi yang paling eneg mendapat sms seperti di atas, pasti bakal males ngebalesnya. Dan kalo udah gak bales begitu, pasti yang sms bakal emosi. Dibilang sombonglah, dibilang gak kenal teman lah, dibilang gak mau dikasih semangat lah.
Berikutnya, teman yang lain akan ikut menengahi perselisihan kecil tersebut dengan memberi masukan kepada yang tidak mau membalas, supaya sms teman-temannya dibalas.
Dan di situasi seperti ini, butuh batu es, biar adhem. Butuh waktu yang cukup panjang untuk menjelaskan, dan butuh kalimat yang tepat untuk menghindari kesalahpahaman ganda. *nahwe*
Saya hanya pendengar tapi ada kalimat yang menggelitik yang diucapkan si penengah.
"yah..tiap orang kan beda karakter. tapi mbok yao sms teman dibalas."Saya jadi ingin bilang,
"yaa...kalo gitu kamu juga harus pahami karakter orang yang gak mau bales sms kaya gitu dong."hahahaha..*dikeplak* itu bukan menengahi tapi memperkeruh suasana.
Yah..pada akhirnya dua pihak eh tiga pihak deng, harus ketemu dan berembug dengan baik dan benar.
Intinya harus sama-sama berkepala dingin,
*heh..kalo semua berkepala dingin mah gak bakal ada konflik*
Ya bagus dong kalo nggak ada konflik.
*trus komunikasinya dimana?kan kadang konflik itu memicu komunikasi.*
Hmm..mungkin perlu pihak keempat. Heh..kamu itu jangan cuma jadi pendengar. Noh jadi pihak keempat, biar jelas semua masalah.
*iyelah..iyelah..*
#mulai lagi deh#
No comments:
Post a Comment