Showing posts with label superguy. Show all posts
Showing posts with label superguy. Show all posts

Tuesday, October 13, 2015

Merentang Rindu dari Jawa hingga Kaimana

Aku menemukanmu di hutan, pada gemersik serasah daun kering
Aku menemukanmu di gunung, pada desau angin malam
Aku menemukanmu di toko buku, pameran buku, pada keasikan menyelami tumpukan-tumpukan buku, pada baris-baris sinopsisnya
Aku menemukanmu di pameran seni, pada ide-ide coretan, sapuan kuas, pahatan kayu batu seniman
Aku menemukanmu di bus, pada perjalanan antar kota antar, pada suasana kota yang berlalu dari jendela tempatku duduk
Aku selalu (bisa) menemukanmu bahkan ketika ruang jarak dan waktu tak mempertemukan kita
Oleh karena aku melakukan perjalanan
Melalui buku, melalui lukisan, melalui lagu, puisi, melalui cerita, melalui jendela bus antar kota
Merentang Rindu dari Jawa hingga Kaimana


Tuesday, September 15, 2015

Ya. Itu benar.

Aku suka memandangimu lama-lama, supaya sel-sel otakku menyerap dengan baik bagaimana dirimu. Ada yang bilang, seseorang menabung rindu justru saat bertemu. Ya. Itu benar. Begitulah. Enam hari ke depan atau lebih, akan kulalui hari dengan 'membelanjakan' sedikit demi sedikit yang sudah kutabung selama empat jam kemarin.

Nulis kaya beginian mah paling aman di blog. :)

Saturday, September 05, 2015

superhero

Kemarin dia berseru memiliki dua superhero. Ultraman ribut dan satria baja hitam. Dua superhero yang menyelamatkannya dari bahaya laten terbawa arus perasaan. Yehaa. Aku mengingatkan, satu lagi superhero yang dia miliki. Superman atau ketika itu dia menyebutnya superguy.

Ya..ya..karakter yang dimiliki superhero-superhero itu selalu adalah seorang lelaki yang rendah hati, senang menolong, memiliki kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu singkat, bijak, tidak mudah marah dan senang belajar, selalu memperbaharui kemampuannya, dan sedikit misterius, tidak senang 'menunjukkan' dirinya.

Kamu punya superhero juga tak?

Monday, April 27, 2015

Karena Tulisan Merekatkan Ingatan


jika semua hal merekatkan ingatanku tentangmu, memangnya aku bisa lari ke mana?
mau dibikin sefiksi apapun tulisanku, toh ingatan mereka selalu tertuju padamu
aku ada karena mu
jika ingatan diibaratkan sehelai benang, maka dirimu adalah benang yang bercabang
setiap cabangmu tersulur dan terpaut pada benang lain
jika sudah begitu, memangnya aku bisa apa?
mencabutmu dari kepalaku?

Thursday, April 16, 2015

Hujan


Aku meminta sebuah kata padamu. Dirimu yang sedang asik bermain.


Untuk apa? tanyamu, tanpa menoleh.

Untuk dijadikan cerita. Aku sedang melatih diriku membuat minimal satu cerita dengan satu tema setiap hari.

Hujan. Katamu lirih sambil tersenyum.

Hujan yang turun menyambangimu tadi pagi ya. Deras dan cukup membuatmu ingin berlari menyongsongnya. Tapi kamu terpaksa mengurungkan inginmu itu. Bukan karena masih pagi, bukan karena banyak orang, tapi karena harus bekerja. Dunia orang dewasa. Harus bekerja.

Lalu nanti sore kamu akan bertanya, bagaimana tulisanmu tentang hujan?

Aku menulis tentang hujan sedikit. Lebih banyak menulis tentangmu.

Mungkin aku mulai rindu.

Monday, March 09, 2015

Mas Buku dan Rindu

Selamat pagi hari senin. Mari bercerita.

Kemarin sore, seorang teman berkunjung, dia ingin melihat dan membawa salah satu buku yang saya jual. Lalu saya bilang padanya bahwa saya memang menjual buku-buku. Ada banyak buku sastra dan buku lawas. Semua buku itu bukan milik saya, saya hanya bertugas menawarkan, menjual, mengatur transaksi dan mengirimkannya melalui pos indonesia atau melalui jasa pengiriman lainnya. Setelah saya keluarkan semua buku itu, dia tertarik dengan buku kumpulan cerpen kompas. Akhirnya justru buku yang dia beli, buku yang sebelumnya dia tawar, dia minta saya untuk menyimpannya.

Dia masih terus melihat membolak-balik satu per satu buku-buku itu. Saya senang melihatnya. Entahlah, seperti merasakan bagaimana perasaannya, karena saya tahu bagaimana rasanya senang melihat banyak buku. Apalagi jika buku-buku itu adalah buku yang belum pernah saya tahu, dan terlebih lagi adalah buku-buku yang menarik.

Dia menyayangkan kenapa tidak ke rumah kemarin-kemarin, jadi dia bisa melihat lebih lama buku-buku itu. hehehe. Dia juga kadang berkeinginan berjualan buku, hanya saja batinnya tak kuasa untuk memiliki sendiri. hehehe. Saya juga kok. Ah buku itu milik Mas. Kami, saya dan Mas selalu beli buku dua eksemplar, jika buku itu menarik. Satu kami jual, satu lagi kami koleksi. Jika buku itu langka, tidak akan kami jual. Tapi tidak semua buku kami perlakukan demikian. Ada banyak juga yang kelar kami baca, akan kami jual.

Lalu teman bertanya, Mas yang saya maksud ini siapa? Pacar? Yaa, bisa dianggap demikian, saya lebih senang menyebutnya kekasih. Halah. Dan teman saya berseru, "asik betul punya pacar yang sama-sama senang membaca buku."

Hahaha. Iya. Ini sebetulnya yang ingin saya ceritakan. Pagi ini saya mensyukurinya lagi. Besok tepat sebulan kami tidak bertemu. Ini waktu terlama kami tidak bertemu. Mas memang sering ke luar kota, karena pekerjaannya. Kadang hanya tiga hari, satu minggu, dua minggu.

Saya katakan pada teman saya, bahwa Mas gila bukunya kadang tidak bisa saya imbangi. Jika kami pergi ke toko buku, maka kami akan asik dengan diri kami sendiri. Buku yang dia sukai selalu menarik minat saya. Buku yang saya suka, belum tentu dia suka. Tapi, ya, ada beberapa buku kesukaan dia yang belum bisa saya cerna dengan baik. Buku tulisan Pramoedya AT. Kata Mas, membaca buku Pram harus dimuali dari membaca cerpennya. Bukunya banyak.

Lalu teman saya bertanya, "Mas mu cah sastra mesti." hahaha. Bukan. Cah Biologi juga kok. Dan dia orang baik. Baik sampai kadang saya minder. hahaha. Iya. Dia, selama yang saya kenal, jarang berprasangka. Dia lebih sering diam atau bercanda jika saya sudah mulai bersungut-sungut mengeluhkan polah orang lain. Rupanya teman saya pun juga demikian, memiliki calon suami yang baik. Dan katanya, dia jadi mengenal dirinya dan berdoa bisa saling melengkapi. aamiin.

Setelah lebaran tahun ini mereka menikah. Aamiin.

Banyak doa baik mengalir kemarin. :)

Dan pagi ini saya merindu.

"Rindu bukan tentang berapa lama kita tak berjumpa. Rindu adalah sesering kita mengingat manis cerita. Rindu adalah seberapa banyak kita baik-baik berdoa."


Monday, February 02, 2015

Om Farid

Kami diam di eskalator. Badan kami yang diam, tidak berjalan. Iya, yang berjalan eskalatornya.hehehe. Tapi mulut kami tidak diam. Pikiran kami juga, hati kami juga.
Ketika lantai dua sudah nampak, dia berseru "wah ada om farid." Saya pun berseru, "mana..mana..mana.."
"Itu..." Saya melihat ke arah jarinya menunjuk. Tampaklah seorang lelaki yang mirip om farid.
Hahahahahaha. Kami tertawa bersama.
Dia punya sisi itu. Sisi lucu. Yang spontan. Dan menyenangkan.
Saya senang. Dia juga. (semoga)
Lalu kenapa saya menulis ini.
Ah namanya juga rindu.
Saya toh tidak ingat kenapa kami di eskalator.
Dan karena riuh di dalam kepala ini belum juga reda.

Tuesday, January 13, 2015

Lelaki Kecil

Sore ini saya bertemu seorang anak kecil. Lelaki kecil. Matanya bening. Bulatan hitamnya masih besar. Mungkin mata anak kecil lah yang mengilhami produsen kontak lensa mata. Supaya mata terlihat lebih besar. Supaya mata mereka tampak bening seperti anak-anak. Ekspresi anak itu lucu. Ndowoh begitu seseorang menyebutnya. Rambutnya hitam dan tebal. Nanti ketika ia cukup besar, ia tahu rambut itu disebut keriting. Dan dia akan protes pada ibunya. Mengurung diri di dalam kamar. Dan berteriak kenapa di antara saudara-saudara sekandungnya, hanya dia yang keriting. Peristiwa itu akan cepat ia lupakan. Dan hadir kembali dalam ingatan ketika sang ibu bercerita. Ia dan ibu akan sama-sama menertawakan. Dan mungkin ia akan jadi rindu. Betapa pada masa itu, menjadi kanak-kanak memiliki banyak kesenangan yang sederhana. Bermain gundu, bermain air di kali, bermain lumpur di sawah, berkubang air hujan di lapangan sepakbola atau sekadar menunggu ibu lengah dan kabur bermain bersama teman-teman di siang hari saat ia harus tidur. Betapa ia akan merasa beruntung tak harus disibukkan dengan berbagai les mata pelajaran ini, kursus itu, harus pandai begini dan begitu, seperti kebanyakan anak jaman sekarang. Betapa dia mensyukuri tak perlu khawatir iri pada gawai yang dimiliki teman-temannya. Karena mainan pada masa itu bisa mereka buat sendiri bersama-sama. Mobil dari debog pisang beroda potongan sandal jepit, atau permainan yang hanya membutuhkan tanah lapang dan banyak kawan. Masa  kecil akan berkelebat dalam ingatannya dan ibu. Ketika saling bercerita. Ia mungkin akan menyangkal tak percaya. Dan ibu akan tetap meyakinkan sambil tertawa. Dan saya hanya menduganya demikian. Karena saya hanya bertemu anak itu dalam sebuah foto. Saya hanya menduga semua cerita masa kecilnya itu dari sinar mata dalam foto dan sekelumit cerita yang pernah ia utarakan.
Ia menjadi dewasa dengan caranya. Ia menjadi dewasa dengan bahagia.
Sehat selalu ya.
😊

Wednesday, December 10, 2014

Rock Heart Tour dan hati yang kebat kebit

Karena hujan di ungaran dan di semarang sedikit berbeda,
musim hujan di hatiku dan di hatimu tak pernah sama,
bahkan ketika cuaca di pikiranku cerah, di pikiranmu mendung menggantung,

Tapi semua itu hanya perkara musim dan cuaca, iklim di perahu kita toh tetap sama.

Belajar tentangnya adalah juga memahami diri sendiri. 
Kami berdua akhirnya bisa nonton Rocket Rockers manggung dong. Huhuy... Sejujurnya, saya sudah lama ndak dengerin RR nyanyi, bahkan album-albumnya mangkrak begitu saja. Dan kencan spontan sekaligus nekat itu akhirnya membawa saya mengingat beberapa tahun yang lalu. Ya, sebelum Ucay hengkang dari RR. Tapi Aska pun sungguh ciamik. RR tidak berubah. Lelaki yang di samping saya yang sedikit berbeda. Iye, dia pusing mikir bagaimana saya nanti pulang sendirian malam-malam. hehehe. Dia tidak menikmati RR, band indie favoritnya itu manggung, gegara saya. hehehe.

Ini kali pertama setelah beberapa tahun tidak nonton live music. Duh kangeeeeen. Lagu-lagu yang dibawakan RR kemarin seingat saya adalah Hitam Putih Dunia, Reuni, Hariku Untukmu, Better Season, Dia, Klassix, Hidup adalah Film Terbaik Sepanjang Masa, Ingin Hilang Ingatan, Terobsesi, Merekam Jejak, dan dua lagu lagi bukan lagu mereka yaitu Rude, All of Me. 

Show Tour mereka kali ini bertajuk Rock Heart Tour Happily Ever After #3. Aska sungguh bikin saya berdebar. hahaha. Narasi yang dia ucapkan setiap akan menyanyikan satu judul lagu bisa bikin saya mesam mesem. Jangan tanya bagaimana lelaki saya, dia sedang berpikir keras. hehehe. Jadinya saya cuma humming (karena lupa lirik lagu) sambil sedikit goyang-goyang bahu kaki kepala menikmati musik yang RR bawakan.

Ketika lagu Reuni dinyanyikan saya sedikit mengutip liriknya dan saya kirim via sms, padanya, iya, sekalipun dia di sebelah saya. hahaha. Kaulah yang bisa membuatku lepas tertawa di saat kita berbagi, kaulah yang bisa membuatku bahagia dan itu sangat berarti. Wes jan norak tenan aku ki. hahaha.

Lagu Hariku Untukmu dan Better Season itu favorit juga. :)
Katakan semua yang ada di benak kita, jadikan sederhana, tanpa kata cela dan buat bermakna. Tunjuk satu bintang luapkan harapan, terbang tinggi, menuju resah yang ada, aku dan dirimu tentukan pilhan, nanti. 

Even you don't care about my feeling , I'm still your friend when you get pain. I remember when you were dreaming, I was the ghost when you are lost. Yes I do, yes I do...I want to spend rest of my life with you... Yes I do, yes I do...I'll be your friend and your number one fan.

Aska bilang, "lagu berikutnya adalah yang sering mengalami perjalanan dari Bandung-Jakarta, Bandung-Jogja, Jogja-Jakarta... Yak...lagu ini khusus yang lagi LDR. Siapa di sini yang LDR???" hihihi. Jogja-Semarang, uhuy juga dong yaa...saya lirik mas-mas di sebelah. Musik mulai dimainkan, Aska mulai nyanyi Di sisi jendela kereta yang mulai perlahan, melaju meninggalkan panas kotamu, kudiam terpaku saat kereta t’lah melaju kencang dan menjauh... Saya mlongo sejenak, oh ini lirik lagunya RR toh. hahahaha.

Bagian yang saya suka ketika menghadiri live music adalah ketika penonton ikut menyanyi. Rasanya di hati itu nyessss...saya terharu. hehehe. Iya, dan di acara kemarin juga begitu. RocketRockFriend (sebutan untuk teman-teman RR) Semarang Kendal pancen ciamik. EH Ungaran juga punya dong, RRF Ungaran. Dan dulu RR pernah manggung di Ungaran. 

Nah saya tertegun ketika Aska bilang asu. hahaha. Tapi mesra lho rek. hahaha. asuuuu. Enteng banget dia ngucapin. Dan tidak ada nada kasar. Itulah, memaki itu kan cuma perkara niat. Ngucapin kata telo juga jadi kasar kalau niatnya adalah menghina, kan. :) 

Kita semua ambil nada Aaaaaaaa.....ketika Aska akan memulai lagu Dia. Dia tlah berubah, tak seperti dulu, menemaniku dan tak ada lagi, senyumnya. Weeeh...mirip lelaki di sebelah saya yah. hihihi. Lagu ini saya ikutan nyanyi lho...

Sejak malam kemarin saya ngefans sama Aska. :)



RR kelar nyanyi sekitar pukul sebelas, dilanjutkan Alone at Last. Karena saya ndak ngeh sama Alone at Last, dan lelaki di sebelah saya sudah berkerut-kerut, maka saya minta ijin mendengar setengah lagu pertama. Setelah dirasa saya tidak bisa menikmati lagu tersebut, kami pulang. hehehe. Wajahnya agak cerah. hehehe. Dan malam itu, Semarang lengang. Agak kaget juga ketika saya dibilang riwil. hehehe. Ya..ya..dia khawatir dan saya bandel. Kayaknya kok ndak akan ada lagi agenda nonton konser malam-malam. heuheuheu...

Yasudah...diganti agenda munggah gunung saja yuk. *dipendeliki*

Fiuh...

:)

Wednesday, August 20, 2014

Coffee and cigarette



Kamu dan rokok. Kamu dan kopi. Kamu, kopi dan rokok. Takkan ada yang menduga kamu dekat dengan mereka berdua. Ah maaf aku lupa satu lagi. Buku. Kamu dan buku. Kamu, kopi dan buku. Teman kuliahmu pernah berkata padaku bahwa dulu kamu tak suka membaca. Jangankan buku-buku sastra, buku kuliah pun malas kau buka, apalagi baca. Itu kata dia. Aku tak percaya. Buku adalah salah satu hal yang mendekatkanmu padaku, setelah lagu-lagu indie. Masih ingat novel yang tahun kemarin dibikin filmnya, yang kemudian membuat hampir seluruh pemuda Indonesia berbondong-bondong mendaki puncak tertinggi Jawa. Yah...novel yang itu.

Ah..mari kembali pada kamu, kopi dan rokok. Aku pun tak menduga kamu dan rokok, memiliki hubungan sedekat itu. Sejujurnya tak mampu kubayangkan bagaimana kamu mengisap rokok itu dalam dalam dan mengembuskan asapnya. Yehaa dalam bayanganku kamu akan terbatuk-batuk dan berhenti mengisap bakaran daun tembakau itu. Apalagi mengingat kamu pernah punya sakit pernapasan. Tapi kamu pernah bercerita, jika kawan-kawan mu menawari dan kamu sedang tak sanggup menolak, sebatang saja akan kamu cicipi, menghargai katamu. Itu cerita lama. Dan aku pun mendengarnya karena aku bertanya. Kamu tahu? Aku tak suka lelaki perokok, dan waktu itu kriteria lelakiku adalah bukan perokok. Ah itu masa ketika usiaku usia-perempuan-yang-memiliki-kriteria-lelaki-idaman.

Sampai aku menemukan sebungkus rokok dalam tasmu, waktu itu kamu bilang itu milik temanmu. Seminggu setelahnya kutanya lagi, kamu bercerita itu milikmu. Entah mana yang benar. Aku hanya akan terus mengingatkan, rokok itu menggerogoti paru mu, tubuh mu, bahkan mungkin cinta di sekelilingmu.

Ya..ya..aku juga pernah merokok. Sekali atau dua kali, aku tak ingat. Dulu. Itupun rokok gratisan. Ada event di suatu tempat, aku beli karcis masuk dan diberi bonus rokok satu bungkus. Aku merokok ketika pikiranku saat itu sedang kalut. Kututup rapat kamar kos, jendela, gordennya. Jangan kamu bayangkan aku mampu menelan semua asap itu, sedikit-sedikit saja. Yang bikin senang saat itu bukan asap rokok yang enak tapi senang karena melakukan hal nakal. Pernah kuceritakan padamu bahwa aku sekali merokok, ekspresimu seperti melihat setan pocong lewat. Hahaha, aku tertawa. Pernah bukan berarti aku perokok, kutekankan itu padamu, dan teman laki lainnya yang ekspresinya sama sepertimu.

Cerita tentang kopi pun sama. Kopi juga hal yang mendekatkan kita. Kopi sidikalang. Masih ingat? Kopi sidikalang dan topi gajah. Entah di mana topi kece mu itu sekarang. Tiap ada yang tanya, sudah pernah minum kopi sidikalang, aku dengan bangga menjawab sudah, dan lantas ingat padamu.

Kopi dan rokok. Aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya jika dua hal itu dinikmati bersama. Nah kan kenapa kamu melotot seperti itu. Tenang saja, aku tak berniat mencobanya. Tapi, kau sudah pernah kan? Bagaimana rasanya? Nikmat mana dibanding kopi sambil bercerita bersamaku. Ah kau diam terlalu lama, ya..ya..aku tahu jawabnya.

Sebaiknya jangan lagi kamu merokok, kesehatanmu lho.

::separuh fiksi separuh tenanan::
 gambar nyomot semena-mena dari google image

Sunday, June 22, 2014

Sentimental na..na..na..



Mungkin cuma gadis-gadis dalam drama Korea yang jika menangis hidung dan kelopak matanya tidak merah, atau hanya aku saja yang begitu.
Akhir-akhir ini aku begitu sentimental. Entah  karena masih merasa berkabung, atau karena sedang datang bulan. Mungkin alasan terakhir. Aku juga tak tahu pasti. Kadang merasa menyesal belum sempat bertemu ibu. Bukan ibu kandungku, tetapi ibu yang melahirkan mas. Malam ini tepat malam ketujuh beliau “pulang”.
Hari itu kami datang tepat ketika jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan terakhir kalinya. Mas memanggul tandu jenazah dan menyapa kami melalui lambaian tangan. Mas nampak tegar. Dia masih memakai kaos dan celana training, mungkin dia belum sempat berganti pakaian. Aku membayangkan, pagi hari dia masih melakukan aktivitas merawat ibu seperti biasanya, hingga dia mengirimiku sebuah kalimat, “ibu ku sudah ‘pulang’, nduk”. Ah tidakkah lelakiku itu begitu indah memilih kata. Dia sebut ‘pulang’, bukan meninggal.
Kami ikut mengantar hingga tempat peristirahatan terakhir. Hal yang ingin selalu kulihat adalah sosoknya, lelakiku itu. Entahlah, ada hal yang membuatku selalu mencari sosoknya di keramaian. Dia dan bapak. Bapak pun sama tegar, sesekali menghapus dan menahan air di sudut matanya.
Mengingat semua itu seringnya membuatku sesak. Oii..oii..hari itu ingin kupeluk dia.
Dan perasaan sentimental ini semakin menjadi karena bersamaan dengan datang bulan. Jreeng..jreeng..
Ah sesungguhnya aku ini sedang menunggu hujan, hujan cerita darinya. Sesungguhnya, jika dia bercerita, yang merasa lega adalah diriku, seperti sehabis hujan. Yah..perasaan semacam itu. Perasaan lega ketika matahari cerah, udara bersih beraroma tanah basah.

Semoga mas dan bapak, sehat-sehat selalu.
Teriring doa untuk ibu.

*Dan percayalah, besok pagi hidung dan kelopak mataku bengkak. Karena hanya gadis drama Korea yang hidung dan kelopak matanya tidak merah ketika menangis.*

Tuesday, June 03, 2014

Bianglala



Bianglala dalam ingatanku adalah pacar yang tetiba bilang sayang setelah sekian tahun tidak. Namun kini pacar itu telah menjadi mantan. 

Bianglala dalam ingatanku adalah janin yang tidak disadari seorang teman hadir dalam rahimnya. Janin itu sudah lahir, sehat dan kini sudah masuk TK.

Bianglala dan halilintar dalam ingatanku adalah keinginan untuk kelak ketika aku menikah, aku ingin menaiki semua wahana di Dufan itu bersama suami.

Bianglala mengingatkanku pada sore yang hujan dan berangin lembut yang membuatku tak bisa merasakan kegilaan menaiki tornado, ontang anting dan wahana ekstrim lainnya.

Bianglala mengingatkanku pada senja di ibukota.

Bianglala mengingatkanku akan keceriaan dan sendu dalam waktu bersamaan.

Bianglala mengingatkan ku akan rindu, padamu...

Ibunya



Aku ingin bertemu ibunya. Aku ingin menjenguknya, mengupaskan buah-buahan yang kubawa, buah-buahan yang dititipkan ibuku untuknya. Kemudian membujuknya makan.

Ya. Sebegitu besar harapan bertemu ibunya dan bapaknya. Terlalu besar harapan hingga mudah kecewa. Diriku memang tidak memiliki tingkat kesabaran yang cukup cerdas, hingga apa-apa yang kuharapkan mudah kandas, terhempas. Berpegang teguh pada waktu yang mereka sebut ‘selepas salat jum’at’, sampai adzan asar pun terlewat tak kunjung berangkat. Tingkat sabarku yang tadi kusebut tidak cukup cerdas, membuatku berbalik arah menuju rumah.

Keinginan untuk belajar menjadi mantu yang baik pun tertunda. Ah mungkin semesta yang sempat berderai air mata menginginkanku terlebih dahulu menjadi anak yang baik. Supaya pada ibuku sendiri aku mampu berbakti. Memang harus demikian kurasa.

Belum mampu bertemu sapa, mari melalui doa. Doa untuk ibuku, ibunya, bapakku, bapaknya, supaya selalu dinaungi sehat bahagia. Diriku dan dirinya supaya selalu istiqomah meniti jalan menuju masa depan yang kami impikan. Aamiin.

Tuesday, May 27, 2014

Balada susu stobeli

Pada suatu hari dia datang ke ruangan tempat saya mengerjakan proyek akhir untuk kelulusan saya. Dia datang membawa satu botol mizone dan dua buah susu UHT Ultrajaya, satu rasa vanila, satu rasa stobeli. Saya suka menyebut stroberi dengan sebutan stobeli. 

Senang. Tentu saja. Susu stobeli yang kami bicarakan sehari sebelumnya. Pembicaraan separuh mengeluh, karena lapar dan haus di sela pekerjaan riweuh yang sulit untuk ditinggalkan. Apalagi ruangan tempat saya bekerja itu berada di sudut bangunan, dan bangunannya pun paling ujung di area kampus kami. Butuh banyak waktu untuk meninggalkannya, sedangkan pekerjaan memerlukan rangkaian waktu yang menuntut ketepatan. 

Saat itu bulan puasa, dan tentu saja keluar ruangan untuk beli minum rasanya terlalu rikuh. Itu juga salah satu keluhan saya, yang dengan bodohnya saya ulang di hari berikutnya. Tapi dia datang, bersama satu botol mizone dan dua buah susu UHT Ultrajaya, satu rasa vanila dan satu rasa stobeli.
Botol mizone saya simpan. Saya beri label pada badan botol beserta tutupnya menggunakan spidol marker, "Dari Masfi."