Tuesday, January 13, 2015

Lelaki Kecil

Sore ini saya bertemu seorang anak kecil. Lelaki kecil. Matanya bening. Bulatan hitamnya masih besar. Mungkin mata anak kecil lah yang mengilhami produsen kontak lensa mata. Supaya mata terlihat lebih besar. Supaya mata mereka tampak bening seperti anak-anak. Ekspresi anak itu lucu. Ndowoh begitu seseorang menyebutnya. Rambutnya hitam dan tebal. Nanti ketika ia cukup besar, ia tahu rambut itu disebut keriting. Dan dia akan protes pada ibunya. Mengurung diri di dalam kamar. Dan berteriak kenapa di antara saudara-saudara sekandungnya, hanya dia yang keriting. Peristiwa itu akan cepat ia lupakan. Dan hadir kembali dalam ingatan ketika sang ibu bercerita. Ia dan ibu akan sama-sama menertawakan. Dan mungkin ia akan jadi rindu. Betapa pada masa itu, menjadi kanak-kanak memiliki banyak kesenangan yang sederhana. Bermain gundu, bermain air di kali, bermain lumpur di sawah, berkubang air hujan di lapangan sepakbola atau sekadar menunggu ibu lengah dan kabur bermain bersama teman-teman di siang hari saat ia harus tidur. Betapa ia akan merasa beruntung tak harus disibukkan dengan berbagai les mata pelajaran ini, kursus itu, harus pandai begini dan begitu, seperti kebanyakan anak jaman sekarang. Betapa dia mensyukuri tak perlu khawatir iri pada gawai yang dimiliki teman-temannya. Karena mainan pada masa itu bisa mereka buat sendiri bersama-sama. Mobil dari debog pisang beroda potongan sandal jepit, atau permainan yang hanya membutuhkan tanah lapang dan banyak kawan. Masa  kecil akan berkelebat dalam ingatannya dan ibu. Ketika saling bercerita. Ia mungkin akan menyangkal tak percaya. Dan ibu akan tetap meyakinkan sambil tertawa. Dan saya hanya menduganya demikian. Karena saya hanya bertemu anak itu dalam sebuah foto. Saya hanya menduga semua cerita masa kecilnya itu dari sinar mata dalam foto dan sekelumit cerita yang pernah ia utarakan.
Ia menjadi dewasa dengan caranya. Ia menjadi dewasa dengan bahagia.
Sehat selalu ya.
😊

No comments:

Post a Comment