Aku adalah sebatang ranting yang tumbuh cukup kokoh pada sebuah pohon. Manusia menyebut pohonku akasia. Aku tumbuh di sebuah lahan sewa. Pada sebuah universitas. Beberapa bulan yang lalu pohonku ditebang. Aku ini milik sebuah perusahan kertas. Bukan milik universitas. Dan beberapa bulan kemudian, aku tahu aku bukan lagi sebuah batang. Akulah kertas. Teman-temanku beruntung, menjadi kertas buku. Berisi tulisan penuh makna dan ilmu. Sedangkan aku, dilihat dari ukuranku, tentu aku tak mungkin menjadi buku.
Hari ini aku akan tahu aku menjadi apa.
Ah rupanya aku menjadi kertas yang bertuliskan nomor antrean. Pada sebuah bank. Aku bernomor 171. Seorang manusia menggenggamku. Tanpa membuatku kusut. Dia lalu mencari tempat duduk. Kukira dia lebih suka duduk di deret kursi belakang. Karena raut wajahnya ketika duduk di deret depan tak menunjukkan rasa senang.
Dia mulai mengeluarkan dompetnya, tapi dompet itu tak berisi uang. Hanya sebuah ponsel dan beberapa buku tabungan.
Beberapa kali dia melihat ke arah monitor nomor antrean. Waaah rupanya giliran dia masih cukup lama. Di monitor itu tertera angka 156.
Dia tahu gilirannya masih lama, tapi tetap saja ketika monitor itu bersuara, dia melihat ke arah monitor itu lalu ke melihatku. Dan kemudian menghela nafas. Aku memperhatikannya. Dia sering menghela nafas dan menguap. Dia juga sering melihat ke arah monitor, ke arahku, lalu ke meja teller. Sepertinya dia menghitung gilirannya. Apakah dia akan melakukan transaksi di konter satu ataukah dua. Sepertinya dia mengharapkan konter du. Maka dia selalu mengulang menghitung, terutama jika ada satu nomor antrean yang kosong.
Ooh...sepertinya dia bosan, dia mulai menguap lagi. Dia tidak lagi menghitung kapan gilirannya. Dia kini mengutak-atik ponselnya. Aku tak tahu apa yang dia mainkan, tidak nampak. Dia meletakkanku di antara ponsel dan dompetnya.
Ah sepertinya dia juga sudah mulai bosan pada ponselnya. Dia masukkan lagi.
Oh dia melihat ke arahku. Gawat. Dia mulai melipatku. Melipat dua. Kemudian dia lipat-lipat membentuk sesuatu. Tapi belum jelas aku jadi apa. Oh..oh..aku sekarang menjadi sebuah kapal. Aku jadi rindu ketika aku adalah sebuah batang. Dulu kukira aku akan menjadi sebuah perahu. Mengarungi laut dan samudera yang luas. Atau paling tidak menjadi rakit atau dayung. Sepertinya menyenangkan bersentuhan dengan air. Meskipun ketika aku adalah sebuah batang pohon aku juga bersentuhan dengan air hujan. Tapi tentu mengapung di sungai atau laut sangat menyenangkan. Ya..ya..mari kembali padanya.
Dia terlihat senang ketika aku berubah menjadi sebuah perahu kertas. Dia tersenyum. Ah dia mengernyitkan dahinya. Dia bongkar perahu kertasku.
Dia mulai melipat lagi. Dengan lipatan yang berbeda.
Errr...sepertinya dia bingung akan membuat apa. Setelah beberapa menit berkutat dengan sudut lipatan dan sesekali tersenyum geli, tampaknya telah jadi. Bentuk apa ini. Aku tak paham. Dia pun juga tampak tidak paham. Dia akan tertawa. Oh dia menahan tawanya.
Ah dia melepas lagi lipatan-lipatan ini. Apa sebenarnya yang dia pikirkan. Tapi aku senang, dia tampak puas bermain-main denganku. Kantuknya hilang. Bosannya terbang.
Waah...kini aku berbentuk seperti kipas, dengan nomor ku di depan nampak jelas berikut hiasan lipatan di kedua sisi. Hihihi.
Sepertinya kini sudah gilirannya melakukan transaksi. Aku dihadapkannya pada pegawai bank. Doanya tak terjawab. Hitungannya meleset. Dia dilayani di konter satu. Hahaha.
Nah selesai sudah tugasku. Sang pegawai bank mengambilku. Lalu membuangku ke tempat sampah di bawah meja.
Sekian tahun aku tumbuh sebagai pohon. Lalu manusia mengolahku menjadi kertas. Hanya tiga puluh menit aku bermanfaat. Sebagai nomor antrean. Dan dibuang. Menjadi sampah. Akankah aku bermanfaat lagi. Entahlah...
No comments:
Post a Comment