Aku ingin bertemu ibunya. Aku ingin
menjenguknya, mengupaskan buah-buahan yang kubawa, buah-buahan yang dititipkan
ibuku untuknya. Kemudian membujuknya makan.
Ya. Sebegitu besar harapan
bertemu ibunya dan bapaknya. Terlalu besar harapan hingga mudah kecewa. Diriku memang
tidak memiliki tingkat kesabaran yang cukup cerdas, hingga apa-apa yang
kuharapkan mudah kandas, terhempas. Berpegang teguh pada waktu yang mereka
sebut ‘selepas salat jum’at’, sampai adzan asar pun terlewat tak kunjung
berangkat. Tingkat sabarku yang tadi kusebut tidak cukup cerdas, membuatku
berbalik arah menuju rumah.
Keinginan untuk belajar menjadi
mantu yang baik pun tertunda. Ah mungkin semesta yang sempat berderai air mata
menginginkanku terlebih dahulu menjadi anak yang baik. Supaya pada ibuku
sendiri aku mampu berbakti. Memang harus demikian kurasa.
Belum mampu bertemu sapa, mari
melalui doa. Doa untuk ibuku, ibunya, bapakku, bapaknya, supaya selalu dinaungi
sehat bahagia. Diriku dan dirinya supaya selalu istiqomah meniti jalan menuju
masa depan yang kami impikan. Aamiin.
No comments:
Post a Comment