Sunday, June 22, 2014

Sentimental na..na..na..



Mungkin cuma gadis-gadis dalam drama Korea yang jika menangis hidung dan kelopak matanya tidak merah, atau hanya aku saja yang begitu.
Akhir-akhir ini aku begitu sentimental. Entah  karena masih merasa berkabung, atau karena sedang datang bulan. Mungkin alasan terakhir. Aku juga tak tahu pasti. Kadang merasa menyesal belum sempat bertemu ibu. Bukan ibu kandungku, tetapi ibu yang melahirkan mas. Malam ini tepat malam ketujuh beliau “pulang”.
Hari itu kami datang tepat ketika jenazah dibawa ke masjid untuk disalatkan terakhir kalinya. Mas memanggul tandu jenazah dan menyapa kami melalui lambaian tangan. Mas nampak tegar. Dia masih memakai kaos dan celana training, mungkin dia belum sempat berganti pakaian. Aku membayangkan, pagi hari dia masih melakukan aktivitas merawat ibu seperti biasanya, hingga dia mengirimiku sebuah kalimat, “ibu ku sudah ‘pulang’, nduk”. Ah tidakkah lelakiku itu begitu indah memilih kata. Dia sebut ‘pulang’, bukan meninggal.
Kami ikut mengantar hingga tempat peristirahatan terakhir. Hal yang ingin selalu kulihat adalah sosoknya, lelakiku itu. Entahlah, ada hal yang membuatku selalu mencari sosoknya di keramaian. Dia dan bapak. Bapak pun sama tegar, sesekali menghapus dan menahan air di sudut matanya.
Mengingat semua itu seringnya membuatku sesak. Oii..oii..hari itu ingin kupeluk dia.
Dan perasaan sentimental ini semakin menjadi karena bersamaan dengan datang bulan. Jreeng..jreeng..
Ah sesungguhnya aku ini sedang menunggu hujan, hujan cerita darinya. Sesungguhnya, jika dia bercerita, yang merasa lega adalah diriku, seperti sehabis hujan. Yah..perasaan semacam itu. Perasaan lega ketika matahari cerah, udara bersih beraroma tanah basah.

Semoga mas dan bapak, sehat-sehat selalu.
Teriring doa untuk ibu.

*Dan percayalah, besok pagi hidung dan kelopak mataku bengkak. Karena hanya gadis drama Korea yang hidung dan kelopak matanya tidak merah ketika menangis.*

No comments:

Post a Comment