Mungkin cuma gadis-gadis dalam drama Korea yang jika menangis hidung
dan kelopak matanya tidak merah, atau hanya aku saja yang begitu.
Akhir-akhir ini aku begitu sentimental. Entah karena masih merasa berkabung, atau karena
sedang datang bulan. Mungkin alasan terakhir. Aku juga tak tahu pasti. Kadang merasa
menyesal belum sempat bertemu ibu. Bukan ibu kandungku, tetapi ibu yang
melahirkan mas. Malam ini tepat malam ketujuh beliau “pulang”.
Hari itu kami datang tepat ketika jenazah dibawa ke masjid untuk
disalatkan terakhir kalinya. Mas memanggul tandu jenazah dan menyapa kami
melalui lambaian tangan. Mas nampak tegar. Dia masih memakai kaos dan celana
training, mungkin dia belum sempat berganti pakaian. Aku membayangkan, pagi
hari dia masih melakukan aktivitas merawat ibu seperti biasanya, hingga dia
mengirimiku sebuah kalimat, “ibu ku sudah ‘pulang’, nduk”. Ah tidakkah lelakiku
itu begitu indah memilih kata. Dia sebut ‘pulang’, bukan meninggal.
Kami ikut mengantar hingga tempat peristirahatan terakhir. Hal yang
ingin selalu kulihat adalah sosoknya, lelakiku itu. Entahlah, ada hal yang membuatku
selalu mencari sosoknya di keramaian. Dia dan bapak. Bapak pun sama tegar,
sesekali menghapus dan menahan air di sudut matanya.
Mengingat semua itu seringnya membuatku sesak. Oii..oii..hari itu ingin
kupeluk dia.
Dan perasaan sentimental ini semakin menjadi karena bersamaan dengan
datang bulan. Jreeng..jreeng..
Ah sesungguhnya aku ini sedang menunggu hujan, hujan cerita darinya. Sesungguhnya,
jika dia bercerita, yang merasa lega adalah diriku, seperti sehabis hujan. Yah..perasaan
semacam itu. Perasaan lega ketika matahari cerah, udara bersih beraroma tanah
basah.
Semoga mas dan bapak, sehat-sehat selalu.
Teriring doa untuk ibu.
*Dan percayalah, besok pagi hidung dan kelopak mataku bengkak. Karena hanya gadis drama Korea yang hidung dan kelopak matanya tidak merah ketika menangis.*
No comments:
Post a Comment