Showing posts with label rindu. Show all posts
Showing posts with label rindu. Show all posts

Tuesday, August 23, 2016

doa

Jika awalnya kau begitu terganggu ketika keadaan mengharuskanmu menunggu, menjadi istri akan mengubah rasa terganggu itu menjadi sebuah doa. 

Menunggu suamimu pulang adalah untaian doa yang panjang. 

Monday, March 09, 2015

Mas Buku dan Rindu

Selamat pagi hari senin. Mari bercerita.

Kemarin sore, seorang teman berkunjung, dia ingin melihat dan membawa salah satu buku yang saya jual. Lalu saya bilang padanya bahwa saya memang menjual buku-buku. Ada banyak buku sastra dan buku lawas. Semua buku itu bukan milik saya, saya hanya bertugas menawarkan, menjual, mengatur transaksi dan mengirimkannya melalui pos indonesia atau melalui jasa pengiriman lainnya. Setelah saya keluarkan semua buku itu, dia tertarik dengan buku kumpulan cerpen kompas. Akhirnya justru buku yang dia beli, buku yang sebelumnya dia tawar, dia minta saya untuk menyimpannya.

Dia masih terus melihat membolak-balik satu per satu buku-buku itu. Saya senang melihatnya. Entahlah, seperti merasakan bagaimana perasaannya, karena saya tahu bagaimana rasanya senang melihat banyak buku. Apalagi jika buku-buku itu adalah buku yang belum pernah saya tahu, dan terlebih lagi adalah buku-buku yang menarik.

Dia menyayangkan kenapa tidak ke rumah kemarin-kemarin, jadi dia bisa melihat lebih lama buku-buku itu. hehehe. Dia juga kadang berkeinginan berjualan buku, hanya saja batinnya tak kuasa untuk memiliki sendiri. hehehe. Saya juga kok. Ah buku itu milik Mas. Kami, saya dan Mas selalu beli buku dua eksemplar, jika buku itu menarik. Satu kami jual, satu lagi kami koleksi. Jika buku itu langka, tidak akan kami jual. Tapi tidak semua buku kami perlakukan demikian. Ada banyak juga yang kelar kami baca, akan kami jual.

Lalu teman bertanya, Mas yang saya maksud ini siapa? Pacar? Yaa, bisa dianggap demikian, saya lebih senang menyebutnya kekasih. Halah. Dan teman saya berseru, "asik betul punya pacar yang sama-sama senang membaca buku."

Hahaha. Iya. Ini sebetulnya yang ingin saya ceritakan. Pagi ini saya mensyukurinya lagi. Besok tepat sebulan kami tidak bertemu. Ini waktu terlama kami tidak bertemu. Mas memang sering ke luar kota, karena pekerjaannya. Kadang hanya tiga hari, satu minggu, dua minggu.

Saya katakan pada teman saya, bahwa Mas gila bukunya kadang tidak bisa saya imbangi. Jika kami pergi ke toko buku, maka kami akan asik dengan diri kami sendiri. Buku yang dia sukai selalu menarik minat saya. Buku yang saya suka, belum tentu dia suka. Tapi, ya, ada beberapa buku kesukaan dia yang belum bisa saya cerna dengan baik. Buku tulisan Pramoedya AT. Kata Mas, membaca buku Pram harus dimuali dari membaca cerpennya. Bukunya banyak.

Lalu teman saya bertanya, "Mas mu cah sastra mesti." hahaha. Bukan. Cah Biologi juga kok. Dan dia orang baik. Baik sampai kadang saya minder. hahaha. Iya. Dia, selama yang saya kenal, jarang berprasangka. Dia lebih sering diam atau bercanda jika saya sudah mulai bersungut-sungut mengeluhkan polah orang lain. Rupanya teman saya pun juga demikian, memiliki calon suami yang baik. Dan katanya, dia jadi mengenal dirinya dan berdoa bisa saling melengkapi. aamiin.

Setelah lebaran tahun ini mereka menikah. Aamiin.

Banyak doa baik mengalir kemarin. :)

Dan pagi ini saya merindu.

"Rindu bukan tentang berapa lama kita tak berjumpa. Rindu adalah sesering kita mengingat manis cerita. Rindu adalah seberapa banyak kita baik-baik berdoa."


Monday, February 02, 2015

Om Farid

Kami diam di eskalator. Badan kami yang diam, tidak berjalan. Iya, yang berjalan eskalatornya.hehehe. Tapi mulut kami tidak diam. Pikiran kami juga, hati kami juga.
Ketika lantai dua sudah nampak, dia berseru "wah ada om farid." Saya pun berseru, "mana..mana..mana.."
"Itu..." Saya melihat ke arah jarinya menunjuk. Tampaklah seorang lelaki yang mirip om farid.
Hahahahahaha. Kami tertawa bersama.
Dia punya sisi itu. Sisi lucu. Yang spontan. Dan menyenangkan.
Saya senang. Dia juga. (semoga)
Lalu kenapa saya menulis ini.
Ah namanya juga rindu.
Saya toh tidak ingat kenapa kami di eskalator.
Dan karena riuh di dalam kepala ini belum juga reda.

Thursday, February 27, 2014

Merbabu yang terlambat diceritakan



Bagaimana jika kita bercerita tentang gunung Merbabu. Ini cerita yang sedikit terlambat. Dua tahun yang lalu. 15-17 November 2012. Saya menyanggupi dan memberanikan diri mendaki Gunung Merbabu bersama teman-teman. Rombongan yang sebenarnya belum pernah saya temui. Saya dan Risky, dari Semarang. Mbak Chopie, Mbak Tyas, Ian dan Drajat, dari Surabaya. Mas Adhi dan Mas Nanang dari Wonosobo. Mas Dhanny, Zie, Rizqon dan Arif dari Yogyakarta. Kami berduabelas.

Saya ini pendaki amatir. Baru sekali itu mendaki gunung, dalam artian menggapai puncak yang sesungguhnya. Karena pernah beberapa kali mendaki gunung Ungaran tapi tidak sampai puncak, masih jauuuh bahkan yang saya kira saat itu sudah di tengah-tengah menuju puncak. Eh ke Candi Gedong Songo dan sampai di candi paling atas itu juga naik gunung lho. *ngeles*

Karena saya amatir, rombongan sempat dibagi menjadi dua. Rombongan yang menemani saya mandeg-mandeg, awalnya ditemani Risky, Mas Nanang dan Mas Adhi. Kemudian mereka bergantian. Hehehe. Bahkan, tas ransel saya dibawakan. Sungguh terlalu. *nyengir*. Dan rombongan yang jalannya bebas hambatan. Sungguh saya melongo, mereka seperti jalan kaki di jalanan yang datar saya. Padahal Mbak Tyas mengenakan rok. *gumunan* Begitu sampai di atas ternyata banyak mbak-mbak berkerudung yang mengenakan rok. Dan bukan hanya mengenakan rok, mereka menggendong ransel yang –gaban aja kalah gede-, duh gumun lagi. Ah siapalah aku ini.

Tapi memang dasar amatir, cuma bawa badan aja masih sering berhenti. *nyahahaha*

Saya menjadi mengenal banyak hal. Tentang ketinggian itu sendiri, kebersamaan dan alam. Tentang trik dan bagaimana bersikap. Bagaimana mengendalikan ego. Bagaimana berkomunikasi. Bagaimana mengolah raga dan pikiran.

Ketika berangkat, ah iya, kami naik melalui jalur Wekas. Saya dan Risky berangkat dari Ungaran menggunakan bus dan turun di Pasar Sapi, kemudian naik bus kecil menuju Wekas. Sebelum menuju Wekas, kami mampir ke minimarket, membeli beberapa rokok dan baterai untuk headlamp. Rokoknya Risky lho yaa, bukan saya. Di minimarket ini, Risky menghabiskan minumnya kemudian meremas botol, menggepengkan dan menyimpannya ke dalam ransel. Awalnya saya bingung, tapi nantinya saya akan tahu, botol itu di atas sana akan ditiup lagi, mengembung lagi dan diisi lagi dengan air gunung.

Jangan tanya bagaimana dinginnya udara di sana, padahal baru di beskemnya (belum puncak dan perjalanannya). Kaki dan tangan sudah dinginnn, tiap bicara, mulut mengeluarkan uap, dan berkali-kali ingin buang air kecil. Saya suka kamar mandinya, khas pemukiman kaki gunung, bak besar dan air terus mengalir. Jangan tanya dingin airnya seperti apa. Jangan tanya, karena saya akan menceritakan. *hehehe*. Airnya seperti air es dalam botol yang diam-diam saya letakkan di dalam kulkas, dan diam-diam saya minum jika ibu sedang tidak di rumah. Saya suka air dingin sedingin air es, tapi ibu sering melarang saya minum air es, nanti pilek katanya. Tapi saya memang ndableg, jadi seringnya diam-diam minum es. Dan di kamar mandi itu, saya minum airnya, bukan yang dari bak, tapi yang mengalir melalui keran, yang di dalam bak memang lebih dingin tapi ada ikannya, masa iya saya minum air campur pipis ikan. *hihihihi* Eh tapi nikmat lho airnya. Saya minum satu gayung penuh.

Setelah dirasa siap nanjak, kami foto-foto dulu di depan beskem, Risky bilang “tenang saja mbak, lihat nih petanya, kita udah separuh dari ketinggian Merbabu kok.” Kalimat yang saat itu memicu saya untuk tambah semangat, namun kemudian, beberapa jam selanjutnya saya ragukan kebenarannya. Iya, masih jauh, dan masih tinggi.

Tapi sepertinya memang adatnya sesama pendaki, ketika bertemu, pendaki yang turun gunung akan menyemangati pendaki yang baru naik, “semangat mas, mbak...sebentar lagi sampai kok..duluan ya.” Percayalah, yang mereka katakan tidak detil, sampai di manaaaaa???? *hehehe*

Sempat bertemu rombongan pendaki yang cukup unik, dari kejauhan terdengar suara kelintingan sapi. Rupanya, di tas atau baju mereka, dipasang lonceng yang suaranya mirip lonceng pada gerobak sapi. Mungkin maksudnya, kalau ada yang nyasar jadi mudah ditemukan.

Nge-camp semalam. Jangan tanya bagaimana rasanya tidur di tempat sedingin itu, dan badan pegel-pegel. Nggak bisa tidur. Berkali-kali merubah posisi perlahan karena takut membangunkan Mbak Chopie dan Mbak Tyas, sempat keram dan nggak bisa gerak. Dan karena geli betapa saya ini lucu sekali kok bisa-bisa nya ikut munggah gunung, geli dan takjub -akhirnya tidur di gunung-, *ndeso pancenan*  karena tertawa itulah saya bisa bergerak lagi. Sini, saya ceritakan bagaimana cara saya merubah posisi tidur. Tidur menggunakan sleeping bag, jadi mirip enthung –pupa ulat-, nah pernahkah mencoba membalik ulat? coba saja, ulat yang sedang berjalan dibalik menggunakan kayu atau ranting, nanti dia perlahan akan memutar tubuhnya kembali seperti semula, nah begitu pula cara saya merubah posisi, hadap kiri, hadap kanan, hadap atas. Nikmat pegelnya. Malam terasa sangat panjaaaaang.

Pos helipad, jembatan setan, persimpangan puncak syarif. Sempat ragu naik atau tidak ke sana, tapi kapan lagi? Akhirnya naiklah saya ke puncak syarif, ditemani Arif. Foto-foto khas pendaki, pegang tulisan Puncak Syarif. Foto-foto sama Rizqon yang rambutnya kriwil. *bukan karena ada Rizqon yang berambut kriwil lantas saya ingat sesosok rambut kriwil yang di Merapi, tapi memang sepanjang niat naik Merbabu, dia nyangkut terus di pikiran*

Tentang rambut kriwil, sesungguhnya dia tidak merestui saya naik Merbabu, karena dia harus ke Merapi. Eh tapi semoga dia memahami bahwa kini, saya jadi tahu betul bagaimana perasaannya jika sedang di rimba raya. Dan saya kembali menertawakan diri saya sendiri, yaelah bro, sampe segitunya untuk mencoba memahami.

Sampai mana kita tadi. Puncak Syarif. Kemudian menuju puncak Kenteng Songo. Percayalah, kalimat “ayo semangat, sebentar lagi sampai.”, tidak akan pernah absen dari pendengaranmu, jika kau mendaki gunung. Bahkan kalimat, “ayo, kurang sakkilan meneh.”, sakkilan adalah satu jengkal tangan. Sungguh jarak yang pendek, bukan. Iya, tapi tolong bayangkan bahwa satu jengkal tangan itu dilihat sambil mendongak ke atas. Nah, ini baru mendaki, nggremet. Dan begitu sampai di atas, saya adalah yang terakhir, teman-teman bertepuk tangan, “horeeeee....akhirnya Dani sampai di atas.”. Saya. Terharuuuu. Bahagia. Tapi ini bukan jenis bahagia yang sederhana. Naik gunung tidak pernah sederhana. Namun di atas sana kau akan dengan mudah menyadari bahwa kau adalah makhluk yang sederhana di mata Tuhan, sederhana dalam semesta. Kadang, di tengah gemerlap lampu kota, di antara kemudahan mendapatkan sesuatu, kita sulit mengakui bahwa kita ini makhluk sederhana. Kecil. Tak berdaya. Di atas sana, akan ada banyak hal yang kau syukuri, udara yang bersih, tanah yang subur, padang menghijau sepanjang pandang, dan teman-teman yang baik, sangat baik. Bahkan sesama pendaki yang tidak dikenal pun serasa saudara sekampung.

Kenteng Songo berkabut, Merapi bersembunyi, tapi bahkan kebahagiaan kami serasa mampu menembus kabut dan nampaklah sang Merapi. Gerimis datang. Kami membentangkan terpal, berdesakan menikmati rintik hujan, menikmati kebersamaan dan menikmati kurma yang manis. Hujan reda, dan betapa waktu cepat berlalu, kami harus bergegas turun, supaya tidak kemalaman. Kali ini, ransel saya bawa sendiri. Kata mas Dhanny, “beneran mau dibawa sendiri?Mbak Dani kuat?”. Kuat. Turun mah tinggal ngglundung aja kan?! Pemikiran tersebut akan segera saya ralat. Turun itu harus lebih hati-hati. Ngglundung sih bisa aja, tapi....*langsung kebayang ndrojog dari puncak triangulasi* Turun ini saya belajar satu hal, setelah lihat mas-mas turun sambil lari. Iya, lari. Tapi zig-zag. Saya ikutan, eh beneran lebih enteng lho. Ngeremnya juga lebih pakem.

Haus..haus..dan haus. Hujan turun perlahan. Kami melewati ribuan pohon edelwis. Bukit luas yang mirip tempat tinggal teletubis. Lapangan luas yang dikelilingi bukit.

Mengingatnya lagi membuat saya rindu Merbabu. Ah. Sesungguhnya cerita ini tertulis karena saya memang sedang kangen Merbabu. Merbabu yang kemarin sedikit digoyang gempa. Merbabu yang tenang. Merbabu yang mengajari saya untuk lebih bisa mengendalikan ego. Sesungguhnya perjalanan dua tahun yang lalu itu, saya belum mampu mengendalikan ego saya. Saya masih sering mengeluh sepanjang perjalanan. Dan sejujurnya, jika perjalanan itu kami tidak turun di Selo, mungkin di pertengahan jalan, saya menyerah dan memilih kembali ke beskem.

Oh iya, mendaki Merbabu membuat bayangan saya selama ini tentang gunung yang berbentuk segitiga, buyar sudah. Gunung tidak sesederhana itu.

Dan sampai sekarang, jika saya memandang gunung, akan saya amati detilnya, liuknya, padang rumputnya, lembah-bukitnya, dan membayangkan bagaimana rute dan rasa berjalan di sana.

Saya rindu Merbabu. Saya rindu mendaki.

Gunung yang dari kejauhan berwarna abu, semakin dekat berwarna biru dan semakin dekat lagi berwarna hijau.

Gunung yang dalam masa kanak-kanak adalah tempat keluarnya matahari, dan ujung dari jalan raya, seolah semua jalan raya bermuara di kaki gunung.

Perjalanan membawa kami pada suatu waktu yang dinamakan senja. Gerimis menderas. Haus seolah mengejek, begitu banyak air hujan dan kau merasa haus.

Senang, begitu melihat banyak kemah. Saya berlari menuju teman-teman yang lebih dulu sampai. Mereka nampak menunggu sesuatu. Menunggu air terkumpul cukup banyak di atas terpal kemah. Kemudian meminumnya. Dan haus mengalahkan perasaan –itu air kotor nggak ya-.

Dan bahagia itu sederhana adalah ketika ada seorang bapak tua gondrong menatap saya meneguk air hujan itu. Begitu saya selesai minum, bapak itu berkata “alhamdulillah”. Saya tersenyum padanya. Alhamdulillah. 

Hujan pun tersenyum. Bagaimana? Bisa kau bayangkan perasaan saya saat itu.

Hari menggelap. Tanah licin. Sering terpleset. Jatuh bangun. Semakin waspada. Kebelet pipis pula.

Titik-titik lampu perkampungan membuat kami sedikit lega. Sebentar lagi sampai. Kini bukan lagi kalimat –ayo sebentar lagi sampai- yang sedikit melegakan. Namun, gurat kecewa akan mendadak hadir ketika kau belok kanan, titik-titik lampu tadi lenyap. Seolah fatamorgana. Dan terbayang di benak saya adalah film Jurasic Park. Terbayang zaman purba. Kenapa saya membayangkan zaman dan film yang bahkan belum pernah saya tonton sampai tuntas. Entahlah.

Duh dengkul dan kempol sudah kaku. Sulit melangkah. Kewaspadaan sedikit buyar.

Di sisa energi dan semangat, nampak serombongan pendaki. Mereka berteriak (lagi, kalimat itu) “ayo semangat, sudah sampai lho”. Kali ini mereka bersungguh-sungguh. Dan sampailah kami di gerbang pendakian via Selo. Subhanallah.

Para pendaki di beskem senyum-senyum. Entah mereka juga baru turun atau baru akan naik esok hari.

We’re home.

Bersih-bersih, mandi dengan air es. Jangan tanya bagaimana keadaan kaki saya. Kakuuuuu. Hahahahaha. Saya sudah boleh tertawa keras kan. Lega. Sambil menunggu soto dan teh, kami berbincang. Saya bersuara. Ya, percayalah. Selama perjalanan di gunung, saya anteng. Sungguh.

Setelah sampai di beskem Selo, saya bersuara dan bahkan melucu.

Teh panas, soto panas, tidak akan terasa panas di sana. Tapi esoknya, kau akan merasakan lidahmu kebas.
Istirahat kembali dalam sleepingbag, kali ini alasnya datar. Bisa selonjor dengan nyaman. Bisa tidur. Dan tidak mau bangun subuhan. *keplak*

Paginya sumringah, meskipun tetap dingin.

Dengan sebuah pesan, “....... Selamat menapaki jalanmu di usia yang semakin jauh. Bahagia senantiasa.” Di luar, di bukit belakang beskem, saya lihat dua ekor elang terbang. Hae mas, bagaimana kabar Merapi. Maturnuwun sudah merestuiku mendaki Merbabu.

Masih mau dilanjutkan.

Dingin pagi dan kopi tentu tak terpisahkan. Ngopi menggunakan cangkir –yang baru saja dipakai untuk bekam-. Tetap sehat lah ya. Menu lainnya adalah wedang roti plus santan. Masih ingat kan, lidah yang kebas. Santan berasa susu kental manis.

Sudah empat halaman cerita. Cerita yang bahkan ketika ingatan masih hangat, luput tertulis. Kini muncul kembali. Berawal dari kangen Merbabu dan cecuit di socmed, kami mengingat detil perjalanan itu.

Perjalanan yang hingga kini saya syukuri, dan separuh saya rutuk betapa saat itu saya begitu merepotkan teman. Hyahahaha. 

Semoga semua pada enteng jodohnya, dimudahkan skripsinya, dilancarkan rejekinya dan selalu diberkahi sehat bahagia. Aamiin.

Friday, February 01, 2013

#gie #pangrango

selamat pagi... ^^

"...dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara, aku terima ini semua, melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu. aku cinta padamu Pangrango. karena aku cinta pada keberanian hidup." (Gie)

saya belum pernah bertemu pangrango, tapi melalui apa yang diungkapkan Gie pada deret deret lembut kalimat di atas, saya rasa saya pun akan jatuh cinta pada pangrango. edelwisnya, anginnya, atmosfernya, apapun yang ada di sana.. :)

semoga suatu saat saya berjodoh dengan pangrango, bertemu dan berpeluk dengannya. :)

selamat pagi... ^_^

Friday, January 25, 2013

when you far awayyy

rindu itu pas banget sama cuaca januari, mendung mendayu dayu kemudian hujan.
no, hujan itu menyenangkan, rindu juga menyenangkan.

bagaimana tidak menyenangkan jika segala sesuatu dapat mengingatkanmu pada yang dirindu. SEGALA SESUATU. *yap, nggak usah di capslock ctrl+B juga kali Dan. hehehe.*

seperti semalam, niat banget ngerjain pe'er dari dosen. malah buka twitter, buka fesbuk. kemudian merubah foto profil, kemudian mengamati dengan seksama foto tersebut dan menyadari(lagi) bahwa aku ayu. huahahaha. monggo silahkan ketawa dan toyor saya. dan biasanya langsung sms mas, "aku kok ayu ya" dan kemudian dibalas, "hahaha.iya ayu. lagi ngaca ya" >>>>tettoott ingat sama mas.

oke. berusaha mengalihkan perhatian untuk tidak memikirkan mas. kemudian saya ngetwit, "bagian wajah yang kamu suka apa?" dijawab sama plapti, "mata" kemudian plapti nanya "kalo dani apa?" mata juga, idung, gigi, pipi, andeng andeng di pipi. semua lah sewajah aku suka, that's why saya bilang aku ayu. muahahaha.

twitt berikutnye menjelaskan saya suka main eyeshadow di kelopak mata, sering nya dibikin gelap cokelat atau smokey eyes gitulah. dan twit bego selanjutnya adalah "kalo lagi sms an sama mas kemudian aku belagak galak, mas pasti jawab "iku mesti matane karo mendelik"" >>>>ingat sama mas lagi.

hadaaaa....

jadi, niat untuk mengerjakan pe'er gagal sodara-sodara.

masih sepuluh hari lagi si mas pulang dari Borneo. oiya, belum cerita ya, dia berangkat ke Borneo dengan semangat. mau tahu nggak dia ngapain di sana? ngukur panjang ikan di sei sekonyer. sei itu sungai. iya, dia nangkep ikan di sana terus diukur panjang dan di foto, terus dilepas lagi. kemarin katanya dapat arwana dua ekor, dilepas lagi. aku tanya kenapa nggak dimakan? enggak enak? enak katanya, tapi kan dilindungi. uwowww...kok aku nggak tahu ya. *halah..kamu tahunya apa to Dan.*

iya masih sepuluh hari lagi tapi pasti molor deh, dulu aja di Jambi juga gitu molor sampai dua minggu, mampir-mampir dulu. dia temennya banyak. :) jadi mari kita anggap lima belas hari lagi baru dia kembali dari Borneo. *kita??kamu kali Dan*

terkadang saya mengkhawatirkan kesehatannya kalo lagi jauh, secara dia itu superguy tapi kalo udah capek ya gitu deh..hemh. dan ketika khawatir saya jadi ingat pembicaraan dengan mba aida, kita bisa mengirim energi positif kepada orang lain, jika kita rutin mengirim energi positif itu saat memikirkannya. ajaib kan? semacam doa alfatihah yang dikirim untuk orang sakit. doa itu atau energi itu nggak akan salah tempat. misal ni ya, saat kita nggak fokus sama sosok wajahnya sebutkan nama lengkapnya saja, misal anita firdaus binti wardoyo. nah nggak bakal deh salah alamat ke anita firdaus yang lain deh.

semoga mas sehat-sehat, bahagia dan semangat di sana. amien. :)

nah, Dani ayo dikerjakan. hari ini lho...


Sunday, April 15, 2012

Rindu dulu

terkadang aku rindu dulu..
dulu ketika segala hal tentang mu adalah kejutan
dulu ketika segala pesan mu adalah senyum
dulu ketika kita sibuk dengan spontanitas..

spontan berpesan-pesan
spontan merindu
spontan teringat sosokmu
rindu mengingat sosokmu

tak ada batas untuk bertegur sapa
tak ada batas untuk berbagi cerita
tak ada batas untuk mengucap selamat malam
tak ada batas untuk mengecup selamat pagi
tak ada batas untuk merindu dalam diam

ya..terkadang aku rindu..
atau haruskah aku bersikap seperti dulu
merindumu dalam diam
mengagumimu dalam sepi
sambil berharap suatu saat semua itu berbalas.