Anggrek. Kembang cantik itu kini yang memenuhi pikiranmu, tentu saja
gunung, kodok, burung, mangrove dan
yang lainnya juga masih setia mengisi hatimu. Senangnya kembali bercerita
denganmu. Aura semangat mu itu aku suka. Berjam-jam dengan dirimu bercerita
tentu saja aku betah. Hanya saja untuk mengalami hal ‘berjam-jam’ itu belum
memungkinkan untuk kita ya, pasti selalu ada sesuatu hal yang membuatmu pergi.
Senja kemarin, sambil memandang anggrek yang tertempel di pohon palem depan
lab aku mendengarkan ceritamu tentang anggrek. Pengalamanmu belajar tentang
anggrek, yang ternyata anggrek itu jenis nya banyak sekali dan banyak bentuk
anggrek yang tidak kita duga bahwa dia termasuk anggrek. Saat aku bertanya
memangnya nama ilmiah anggrek apa, lalu kau menyebutkan banyak nama genusnya. Dendrobium, Schoenorcis, Appendicula
dan lain-lain. Haaa kamu sudah hapal yaa. Hehehe. Jos. Aku Cuma tau satu, Dendrobium, dan Appendicula itu bukannya nama organ ya, eh itu apendiks ding. Hihihi.
Kemudian kau bercerita bagaimana masih kesulitan mengident anggrek kalau
sudah masuk hutan, karena refrensi buku yang masih terbatas. Dan kau bercerita
ada seorang teman dari Palembang yang punya buku ident anggrek, teman itu
diberi oleh seorang peneliti anggrek dari Inggris, dan teman itu bilang kalau
proposal funding ident anggrek-mu
didanai, nanti buku yang dia punya akan diberikan cuma-cuma. Wawawawa. Hahaha. Mari
kita amin’i bersama. Amiiin. Semoga ya.
Lalu kau bercerita bahwa tulisanmu tentang anggrek sudah selesai. Hal yang
sudah lama sekali tidak kau lakukan bukan? menulis. Dan kau sedikit geli karena
hasil tulisanmu yang ini terasa aneh, maklum sudah lama berkarat otaknya,
begitu katamu. Yap, tak apa, memulai lagi hal yang kita sukai setelah sekian
lama memang rasanya sedikit aneh, tapi menyenangkan. Aku melihat lagi pesonamu
yang sempat meredup diiringi karat-karat otakmu itu. Haha.
Tapi beneran ini, aku seperti bertemu kembali denganmu. Hal yang kuharap
kudapat sekembalinya kau dari hutan cangar. Entah apa yang bisa membuat mu
kembali, hmm..mungkin buku ya. Iya kaan? Kau membeli banyak sekali buku bulan
ini, habis duit hampir setengah juta kaan. Hihihi. Yang ini juga aku suka. Kau mulai
lagi membaca. Semua buku yang ingin kau baca kau beli. Semua buku yang sudah
kau beli tapi belum sempat tersentuh juga mulai kau baca. Jalan-jalan ke toko
buku bersamamu menyenangkan, karena kau tak semata-mata mengantarkan aku
membeli buku, tapi kau juga menikmati buku. Kita membahas buku-buku yang ada di
rak sastra, buku ini sudah kau punya, buku itu kau sudah baca, buku ini
harganya lebih murah di sana, buku yang itu terbit lagi dengan cover baru. Atau
di rak new release, pada salah satu buku
kau berkata “ini pasti terbitan komunitas bambu,” aku sudah punya yang –kau menyebutkan
salah satu judul buku-, lalu kau bilang, “aku mau koleksi semuanya biar lengkap
satu nusantara.” Di rak buku-buku religi kau mencari satu set buku syekh siti
djenar, satu set berisi tiga buku dan harganya sekitaran satu juta, kau bilang
kenapa tidak dijual terpisah yaa. Hehehehe. Kemudian kau bilang “yang ini aku
sudah pernah baca tapi mbuh bukunya
sekarang dimana,” sambil menunjuk salah satu buku. Bukumu banyak yaa, sampe
lupa dimana-nya sekarang. : )
Ah kapan kita bisa bercerita lagi, dengan leluasa dalam waktu yang cukup
panjang.
Pagi dan senja, banyak hal menyenangkan di sana. Aku
mencintai keduanya. Pada pagi terdapat semangat yang terbarukan, pada senja
terdapat suasana yang menenangkan. Dan pada keduanya terdapat dirimu. Pada pagi
terdapat salam selamat pagi, pada senja salam bagaimana harimu. Atas nama pagi
dan senja aku mencintaimu. Selamat pagi...: )
No comments:
Post a Comment