Sesungguhnya terkadang aku begitu merinduimu,
Merindui senyum yang selalu kau sematkan di wajahku jika melihatmu
Bahkan walau hanya sekilas atau di kejauhan
Namun,
Pun benar adanya terkadang aku jenuh
Jenuh dengan ekspresi datarmu
Jenuh dengan sikapmu yang terkadang begitu manis dan begitu acuh
Kata seorang kawan, terkadang ketika kita jenuh justru dia akan mendekat
Entah dirimu, begitukah??
Kadang, aku terlalu membayangkan bagaimana dirimu jika bersamaku
Membayangkan dirimu mengenakan kemeja warna gelap dan jas warna senada, dengan celana kain, dan sepatu kets, aku tau takkan mampu menyentuh rambutmu itu, karna itulah identitasmu, yang aku suka.
Ah..bukan aku tak suka penampilanu, aku suka semua tentangmu bahkan ketika kau berjibaku dengan hewan kesayanganmu itu, atau hewan lain nan cantik itu, atau semua tetek bengek kecintaanmu pada alammu.
Yaa..hanya saja membayangkan ketika ada satu saat dimana kau dan aku bersanding mengenakan hal yang bukan kita berdua.
Kau dengan jas dan aku dengan atribut feminin.
Hanya rambutmu sepertinya yang tak ingin kurubah dalam satu saat itu
Nah..kau pasti cakep.
Apa kau tau? Aku berusaha selalu, jika ada hal tentangmu yang tak kupahami,
Aku akan mencarinya dan bertanya kesana kemari, demi supaya aku bisa juga membicarakannya denganmu.
Jangan tertawa, aku seperti itu karena selain supaya aku tidak tampak bodoh, supaya aku juga belajar tentang hal-hal yang kau sukai, juga karena supaya ada hal yang bisa kita bicarakan bersama,
Kau pasti tak tau, setiap kalimat yang kususun semalam jika akan berjumpa denganmu, akan selalu menguap begitu sudah berada di hadapmu.
Dan hari ini aku jenuh, karena selalu bertanya tentang perasaanmu,
Siapa seseorang yang kau sukai.
Hmmm..
Terkadang menerapkan kalimat “nikmati saja dulu semuanya”, tidak mudah.
No comments:
Post a Comment