Saturday, March 07, 2015

Lupa kok sombong

"Dek, kenapa kamu selalu menyebut namaku dalam statusmu? Kan wagu. Dan kenapa kamu senang sekali menuliskan segala hal yang kita bicarakan." seperti biasa, itu Mbak Dian yang bertanya.

Karena Mbak, jika aku menyebutmu menggunakan kata ganti 'dia', nanti orang akan menyangka njenengan adalah kekasihku. Kan wagu. Aku hanya mengarsipkan, Mbak. Aku ini pelupa, meskipun aku tidak pernah bermaksud untuk bangga bahwa aku sering lupa.


Lah malah sekarang saya tulis di blog ya. hehehe. Sssttt....

Kadang kita tidak sadar kalau sering sombong. Menyombongkan kebiasaan lupa, bangga. Saya pun secara tidak sadar menunjukkan perilaku yang demikian. Berulang kali lupa, tapi tidak mau mencatat atau berusaha untuk evaluasi diri, piye carane ben gak lalinan. Mencatat sih sudah saya lakukan. Kebetulan akhir tahun 2014 saya beli ponsel pintar, yang di dalamnya berisi aplikasi untuk mencatat to-do-list. Tapi jeleknya adalah, apa yang luput dituliskan, ya luput untuk dikerjakan. :) Keterlaluan. Iya memang keterlaluan.

Lalu bagaimana?

Ya, teruslah berusaha, untuk mengingat. Janganlah kamu sadar betul kamu pelupa, tapi lantas menjadi permisif pada dirimu sendiri. Kan lali. *plak*

Kalau menjadi pelupa lalu kamu bangga, secara tidak langsung kamu menyepelekan kekuasaan Tuhan. Lho kok bisa?! Iya, karena kamu sudah diberi otak yang ciamik daya serap informasinya kok malah tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.

Beraaaat, jika sudah disangkutkan dengan Tuhan ya. hehehe. 

Tapi ya harus gitu. Jika teguran dari orang tua, atasan dan teman-teman sudah tidak mempan. Ya tho.

Iyain ajaaa.... :)

Selamat akhir pekan. 

*peluk leptop sudah sehat*

No comments:

Post a Comment