Sunday, May 01, 2011

aku yang membuka jalannya, siapa yang membuka jalanku nanti.

30 april 2011. Dia yang pernah menjadi terkasihku sah menyandang gelar Sarjana Hukum. Ikut senang pasti. Kecewa juga tentunya. apalagi setelah melihat foto-foto wisudanya bersama kekasihnya yang baru di tengah-tengah keluarga. Satu hari sebelumnya, dia menyapaku melalui chatt facebook. Bercanda dan mengingat kenangan kami dulu. Kuucapkan selamat padanya. Dia pun mengucap terimakasih. Karena menurutnya, aku yang telah banyak membantunya sejak dia mendaftar dan ujian. Entah apa maksutnya ucapan terimakasih itu. tapi semoga adalah hal yang baik. Dia menawariku untuk datang ke acara wisudanya, "sekalian ketemu ibu" katanya. Kupikir dia hanya bercanda, tapi keesokan paginya dia menghubungiku lagi dan menanyakan kesediaanku. Sebelum kuiyakan, aku memastikan apakah ada kekasih barunya itu. Awalnya dia tidak mau menjawab, setelah ku desak, ternyata memang ADA.
Rasanya campur aduk. Betapa bodohnya aku percaya padanya. Dia belum berubah. Apa yang ada dalam pikirannya, mempertemukan aku dengan keluarganya LENGKAP dengan kekasihnya.
Akan ada dua situasi yang tercipta jika aku benar-benar datang.

  1. Anggapan bahwa aku adalah mantan bodoh yang tak tau malu. Hadir kembali diantara dia dan kekasihnya.
  2. Sakit hati kekasihnya, akan kehadiranku.
Well...dua-duanya tidak bagus untukku, tentu saja.
Dan hari ini aku melihat foto-foto wisudanya ituuuu....sakit rasanya. Betapa nampak perempuan itu diterima ditengah-tengah keluarganya. Hal yang belum pernah kurasakan dulu.
Pernah kutanyakan alasan kenapa aku tak pernah dikenalkan pada keluarganya. Jawabannya adalah karena dulu dia belom boleh pacaran/membawa pulang pacar.#hahaha#
Dan kutanyakan kenapa kekasihnya yang sekarang bisa? Jawabannya, karena orang tuanya sedih melihatnya putus dan memperbolehkan dia punya pacar.#haahahahaah#
Entah kenapa semua itu seolah aku yang membuka jalan untuk perempuannya.
Lalu aku??siapa yang membuka jalanku?

Ada suara menggema, "waahhh...perempuan itu hoki dong yaa berarti gara-gara kandasnya hubunganmu."

Aku menggeleng. Aku adalah salah satu orang yang tidak percaya adanya kebetulan, hoki, keberuntungan. Semua adalah karena sikap kita, usaha kita, amal baik kita sendiri. Semua hal-hal baik yang meskipun kecil, yang kita lakukan dengan ikhlas, akan menjadi tabungan untuk kelak diberikan pada kita pada saat yang tepat. Aku jadi berpikir, mungkin memang perempuan itu adalah gadis baik. Yang memang ditakdirkan untuk mendampingi mantanku. Yah..pada akhirnya tetap aku harus mendoakan yang terbaik untuk mereka bukan. Akan ada jalanku sendiri. Yang pastinya terbaik untukku. Dan ini memicuku untuk terus melakukan yang terbaik dalam hidupku, untuk orang-orang terkasihku.

Ya Rabb, ingatkan hamba untuk terus berprasangka baik pada kehendakMU, pada ketetapanMU, Engkaulah yang berkendak atas semua kejadian atas diriku, Engkaulah yang selalu membukakan jalan yang tepat untukku. amin

No comments:

Post a Comment