Thursday, October 03, 2013

Tentang tembok

Sebenarnya apa yang membuatmu marah?
Karena aku berkata tentang tembok, kemudian kau merasa aku menganggapmu seperti tembok?
Coba teliti lagi kalimatku.

“ada seseorang yang berujar: lebih mending ngobrol sama tembok daripada yang diajakin ngobrol nggak nyambung.
Dalam hati aku menjawab: kalau sudah nyadar yang kamu ajak ngobrol itu nggak nyambung, anggap saja dia tembok.”

Maksudku adalah, daripada kamu berpaling mencari tembok dan mengajaknya (tembok itu) ngobrol, alangkah lebih simpelnya jika kau menganggap orang di hadapanmu itu sebagai tembok. Kalimat pertama itu orang lain yang bilang, aku mengucapkan dalam hati kalimat keduanya. Karena menurutku, ya itu tadi, daripada kamu repot-repot mencari tembok untuk kau ajak bicara hanya karena orang di depanmu itu nggak nyambung ngobrol sama kamu, kan mending orang yang kamu sadari betul sudah tidak nyambung itu kau anggap sebagai tembok, tetap saja berbicara padanya, tetap saja bercerita, masalah dia menanggapi ceritamu dengan tidak nyambung, abaikan saja, toh dia tembok.

Apa aku melanjutkan smsan ku denganmu? Tidak kan? Itu artinya aku tidak  menganggapmu sebagai tembok, tapi aku sudah sadar betul kau sedang tidak nyambung denganku, maka aku pergi. Aku hanya mengirimimu ulang pesan yang mungkin luput kau baca dengan seksama, supaya kau baca ulang.

Sepertinya kau sedang lelah, dengan aktivitasmu di Jogja, aktivitas apa, aku tidak tahu. Kemarin kau berhenti mengirimiku cerita. Dan aku enggan bertanya, bukan karena aku tidak peduli padamu, tapi karena aku takut aku tidak bisa menguasai diriku sendiri untuk tidak cemburu pada teman-temanmu. Bukan cemburu seperti ketika perempuan cemburu pacarnya punya banyak teman perempuan, bukan, tapi cemburu karena jika kau bersama teman-teman Jogja mu itu, kau terasa jauh. Ah sudah, aku tak mau menceritakan detilnya. Tapi aku senang jika kau mau menceritakan kegiatanmu di sana. Seperti ketika kau bercerita sedang mengamati capung di gunung kidul.

Eneg ketika aku tahu kegiatanmu dari halaman muka itu. Entah kenapa, padahal biasanya aku mencari tahu kegiatanmu juga dari halaman itu. Tapi kali ini aku bosan. Mungkin aku merasa bukan lagi seorang yang spesial, karena kabar yang ku tahu tentangmu sama seperti kabar yang di baca orang lain, melalui halaman muka.

Ah aku menulis sepanjang ini, rasanya semua ini yang ingin kuungkapkan padamu. Tapi aku tahu betul kau sedang tak ingin berdebat. Kau itu, sudah sensitip, tidak mau menerima penjelasan orang lain. Ooooooooh maiiiii....apa iya kita berdua selalu akan memproses semua masalah dengan cara seperti ini. Kapan kita berdua bisa dewasa menyelesaikan perseteruan seperti ini.


Dan aku tahu kau tidak akan mengirimiku pesan sehari berikutnya. Kemudian kau tambah waktu menginapmu di Jogja. Dari tiga atau empat hari menjadi seminggu.

No comments:

Post a Comment