Sebenarnya apa yang membuatmu marah?
Karena aku berkata tentang tembok,
kemudian kau merasa aku menganggapmu seperti tembok?
Coba teliti lagi kalimatku.
“ada seseorang yang berujar:
lebih mending ngobrol sama tembok daripada yang diajakin ngobrol nggak
nyambung.
Dalam hati aku menjawab:
kalau sudah nyadar yang kamu ajak ngobrol itu nggak nyambung, anggap saja dia
tembok.”
Maksudku adalah, daripada kamu berpaling
mencari tembok dan mengajaknya (tembok itu) ngobrol, alangkah lebih simpelnya
jika kau menganggap orang di hadapanmu itu sebagai tembok. Kalimat pertama itu
orang lain yang bilang, aku mengucapkan dalam hati kalimat keduanya. Karena menurutku,
ya itu tadi, daripada kamu repot-repot mencari tembok untuk kau ajak bicara
hanya karena orang di depanmu itu nggak nyambung ngobrol sama kamu, kan mending
orang yang kamu sadari betul sudah tidak nyambung itu kau anggap sebagai
tembok, tetap saja berbicara padanya, tetap saja bercerita, masalah dia
menanggapi ceritamu dengan tidak nyambung, abaikan saja, toh dia tembok.
Apa aku melanjutkan smsan ku denganmu? Tidak
kan? Itu artinya aku tidak menganggapmu
sebagai tembok, tapi aku sudah sadar betul kau sedang tidak nyambung denganku,
maka aku pergi. Aku hanya mengirimimu ulang pesan yang mungkin luput kau baca
dengan seksama, supaya kau baca ulang.
Sepertinya kau sedang lelah, dengan
aktivitasmu di Jogja, aktivitas apa, aku tidak tahu. Kemarin kau berhenti
mengirimiku cerita. Dan aku enggan bertanya, bukan karena aku tidak peduli
padamu, tapi karena aku takut aku tidak bisa menguasai diriku sendiri untuk tidak
cemburu pada teman-temanmu. Bukan cemburu seperti ketika perempuan cemburu
pacarnya punya banyak teman perempuan, bukan, tapi cemburu karena jika kau
bersama teman-teman Jogja mu itu, kau terasa jauh. Ah sudah, aku tak mau
menceritakan detilnya. Tapi aku senang jika kau mau menceritakan kegiatanmu di
sana. Seperti ketika kau bercerita sedang mengamati capung di gunung kidul.
Eneg ketika aku tahu kegiatanmu dari
halaman muka itu. Entah kenapa, padahal biasanya aku mencari tahu kegiatanmu
juga dari halaman itu. Tapi kali ini aku bosan. Mungkin aku merasa bukan lagi
seorang yang spesial, karena kabar yang ku tahu tentangmu sama seperti kabar
yang di baca orang lain, melalui halaman muka.
Ah aku menulis sepanjang ini, rasanya
semua ini yang ingin kuungkapkan padamu. Tapi aku tahu betul kau sedang tak
ingin berdebat. Kau itu, sudah sensitip, tidak mau menerima penjelasan orang
lain. Ooooooooh maiiiii....apa iya kita berdua selalu akan memproses semua
masalah dengan cara seperti ini. Kapan kita berdua bisa dewasa menyelesaikan
perseteruan seperti ini.
Dan aku tahu kau tidak akan mengirimiku
pesan sehari berikutnya. Kemudian kau tambah waktu menginapmu di Jogja. Dari tiga
atau empat hari menjadi seminggu.
No comments:
Post a Comment