Pagi itu dia dihadapkan pada
pilihan yang sulit. Dua anak perempuan yang memiliki keinginan yang berbeda.
Seorang ingin tinggal, seorang lagi ingin pergi. Mereka berdua bersikeras
dengan keinginannya masing-masing. Dan mereka berdua bersikeras ingin bersamanya.
Saya tahu itu pasti cukup sulit bagi dia. Dan terutama bagi si anak besar, yang
ingin pergi. Dia harus sabar sejenak menunggui si anak kecil. Si anak kecil tak
mengerti apa-apa, dia hanya ingin tinggal bersama dia dan si anak besar, di
rumah. Sedangkan dia juga ingin pergi, namun tak mungkin baginya meninggalkan
si anak kecil sendirian di rumah, itu terlalu mengkhawatirkan.
Drama pagi itu berlangsung selama
kurang lebih dua jam. Saya tak terlalu memperhatikan bagaimana ekspresi dia
dalam situasi itu.
Dua jam kemudian dia membelah
dirinya menjadi dua. Seperti planaria.
Ya, planaria yang jika kau potong
melintang tepat di tengah tubuhnya akan menjadi dua individu baru. Satu bagian
akan tumbuh ekor, satu bagian akan tumbuh kepala. Tentu jika terjadi pada
manusia, maka satu bagian akan tumbuh kaki, bukan ekor.
Kita lupakan tentang dia dan dua
anak perempuan itu. Sepertinya masalah sudah selesai, meskipun dengan ending
yang tidak terlalu memuaskan bagi si anak besar. Keinginannya pagi itu tidak
berjalan sesuai harapannya, dia tidak mendapatkan suasana yang dia inginkan.
Bubur ayam di Ungaran.
Planaria adalah cacing pipih
dengan kepala segitiga. Dia hidup di air yang jernih dan bersih. Jangan
membayangkan dia sebesar gambar dalam buku Taksonomi Hewan. Dia kecil, begitu
keciiiil, hingga supaya lebih jelas kau harus melihatnya menggunakan kaca
pembesar. Dengan mata telanjang memang bisa, namun akan lebih nyaman jika
menggunakan kaca pembesar atau mikroskop.
Pada suatu praktikum ekologi kami
pergi ke Semirang, sebuah tempat di Gunung Ungaran, yang memiliki air terjun. Air
terjun di gunung, pastilah berair yang jernih. Maka, sebelum mengukur kecepatan
aliran air, mengukur kadar O2 CO2, ketinggian, kelembaban tanah, dan perihal ke-ekologian yang lain, kami menyiapkan
sebuah umpan untuk sang planaria. Umpannya adalah sepotong daging atau hati
ayam. Ya, planaria senang makan daging, obyek yang berbau amis menyengat akan
dia dekati dan makan. Maka, potongan daging berukuran 2x2 cm itu kami letakkan
di dalam sebuah gelas plastik dan kami tempatkan di bawah bebatuan besar.
Planaria menyukai tempat-tempat gelap, maka ketika mengamati planaria ini, coba
letakkan daun dalam gelas pengamatan, planaria akan cenderung bersembunyi di
bawahnya, menghindari cahaya.
Setelah beberapa jam melakukan
segala hal berbau ekologi, maka kami mulai mengintip gelas umpan kami. Dan
voila, ada seekor planaria berenang di sana. Harus jeli. Karena mungkin ada
juga banyak bebatuan dan pasir yang masuk, dan sekali lagi, planaria ini begitu
kecil.
![]() |
| Planaria Dugesia |
Setelah semua mata kami mampu
mengidentifikasi kebaradaan planaria, maka ibu dosen meminta kami untuk
memotong planaria menjadi dua bagian, secara melintang. Sebenarnya secara
membujur juga bisa, hanya saja, karena begitu kecil, kami akan kesulitan
memotongnya, maka paling aman adalah secara melintang.
Sudah terpotong menjadi
dua.
Kami menunggu....menunggu...dan menunggu...menunggu...menunggu...menunggu...menunggu....mata
kami tidak lepas dari dua potongan planaria itu.
Lalu...taraaaa...sang ekor muncul
kepalanya dan sang kepala muncul ekornya. Ukurannya memang tidak langsung
seukuran dengan planaria sebelum dipotong. Ya, satu planaria menjadi dua
planaria yang lebih kecil. That’s awesome. Hahahaha. Menjadi mahasiswa biologi
memang tidak boleh gumunan. But, that’s
sooooo awesome. Hahaha. Setelah dua minggu ukurannya akan mejadi besar.
Tentu sebesar planaria pada umumnya. Tidak akan sebesar ikan lele. Trust me.
Planaria ini termasuk dalam
kingdom animalia, dalam filum Platyhelminthes (cacing pipih). Filum yang sama
dengan cacing pita dan cacing hati. Tahu kaaan? Cacing parasit yang
menggerogoti hati dan usus hewan ternak seperti babi dan sapi, dan bisa juga
hidup nyaman di usus dan hati manusia. Tapi planaria termasuk dalam cacing
pipih yang bukan parasit. Jenis yang kami amati, atau yang biasa ditemukan di
perairan gunung adalah genus Dugesia. Dia hidup bebas di air bersih. Dia juga
merupakan indikator alami perairan. Jika dalam aliran air gunung tercemar, maka
planaria tidak akan kita temukan di dalam nya. Kenapa? Karena dia planaria
bernapas menggunakan seluruh permukaan tubuhnya, sehingga air yang tercemar
juga akan mencemari kadar oksigen di dalamnya. Maka, wahai para manusia jangan
mandi di air terjun (sungai gunung) menggunakan sabun, shampo, pasta gigi dan
bahan kimia lainnya yaa. Itu akan mencemari lingkungan dan merusak habitat
alami di sana. Habitat alami yang rusak bukan tanpa akibat lhooo. Satu rantai
ekosistem rusak, bukan tidak mungkin satu semesta ini rusak.
Planaria ini memang makhluk hidup
yang nampak sepele, karena dia begitu kecil, tapi tuhan pasti menciptakan
segala sesuatu dengan maksud dan manfaatnya masing-masing.
Mari kita mulai menjaga
kelestarian alam ini.
Salam lestari.
Hihihihi.
foto planaria diunduh dari http://www.cdb.riken.jp/en/labtour/downloader/list/p-5.jpg

No comments:
Post a Comment