Sunday, November 23, 2014

Planaria


Pagi itu dia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dua anak perempuan yang memiliki keinginan yang berbeda. Seorang ingin tinggal, seorang lagi ingin pergi. Mereka berdua bersikeras dengan keinginannya masing-masing. Dan mereka berdua bersikeras ingin bersamanya. Saya tahu itu pasti cukup sulit bagi dia. Dan terutama bagi si anak besar, yang ingin pergi. Dia harus sabar sejenak menunggui si anak kecil. Si anak kecil tak mengerti apa-apa, dia hanya ingin tinggal bersama dia dan si anak besar, di rumah. Sedangkan dia juga ingin pergi, namun tak mungkin baginya meninggalkan si anak kecil sendirian di rumah, itu terlalu mengkhawatirkan.

Drama pagi itu berlangsung selama kurang lebih dua jam. Saya tak terlalu memperhatikan bagaimana ekspresi dia dalam situasi itu.

Dua jam kemudian dia membelah dirinya menjadi dua. Seperti planaria.

Ya, planaria yang jika kau potong melintang tepat di tengah tubuhnya akan menjadi dua individu baru. Satu bagian akan tumbuh ekor, satu bagian akan tumbuh kepala. Tentu jika terjadi pada manusia, maka satu bagian akan tumbuh kaki, bukan ekor.

Kita lupakan tentang dia dan dua anak perempuan itu. Sepertinya masalah sudah selesai, meskipun dengan ending yang tidak terlalu memuaskan bagi si anak besar. Keinginannya pagi itu tidak berjalan sesuai harapannya, dia tidak mendapatkan suasana yang dia inginkan. Bubur ayam di Ungaran.

Planaria adalah cacing pipih dengan kepala segitiga. Dia hidup di air yang jernih dan bersih. Jangan membayangkan dia sebesar gambar dalam buku Taksonomi Hewan. Dia kecil, begitu keciiiil, hingga supaya lebih jelas kau harus melihatnya menggunakan kaca pembesar. Dengan mata telanjang memang bisa, namun akan lebih nyaman jika menggunakan kaca pembesar atau mikroskop.

Pada suatu praktikum ekologi kami pergi ke Semirang, sebuah tempat di Gunung Ungaran, yang memiliki air terjun. Air terjun di gunung, pastilah berair yang jernih. Maka, sebelum mengukur kecepatan aliran air, mengukur kadar O2 CO2, ketinggian, kelembaban tanah,  dan perihal ke-ekologian yang lain, kami menyiapkan sebuah umpan untuk sang planaria. Umpannya adalah sepotong daging atau hati ayam. Ya, planaria senang makan daging, obyek yang berbau amis menyengat akan dia dekati dan makan. Maka, potongan daging berukuran 2x2 cm itu kami letakkan di dalam sebuah gelas plastik dan kami tempatkan di bawah bebatuan besar. Planaria menyukai tempat-tempat gelap, maka ketika mengamati planaria ini, coba letakkan daun dalam gelas pengamatan, planaria akan cenderung bersembunyi di bawahnya, menghindari cahaya.

Planaria Dugesia
 Setelah beberapa jam melakukan segala hal berbau ekologi, maka kami mulai mengintip gelas umpan kami. Dan voila, ada seekor planaria berenang di sana. Harus jeli. Karena mungkin ada juga banyak bebatuan dan pasir yang masuk, dan sekali lagi, planaria ini begitu kecil.

Setelah semua mata kami mampu mengidentifikasi kebaradaan planaria, maka ibu dosen meminta kami untuk memotong planaria menjadi dua bagian, secara melintang. Sebenarnya secara membujur juga bisa, hanya saja, karena begitu kecil, kami akan kesulitan memotongnya, maka paling aman adalah secara melintang. 

Sudah terpotong menjadi dua. 

Kami menunggu....menunggu...dan menunggu...menunggu...menunggu...menunggu...menunggu....mata kami tidak lepas dari dua potongan planaria itu. 

Lalu...taraaaa...sang ekor muncul kepalanya dan sang kepala muncul ekornya. Ukurannya memang tidak langsung seukuran dengan planaria sebelum dipotong. Ya, satu planaria menjadi dua planaria yang lebih kecil. That’s awesome. Hahahaha. Menjadi mahasiswa biologi memang tidak boleh gumunan. But, that’s sooooo awesome. Hahaha. Setelah dua minggu ukurannya akan mejadi besar. Tentu sebesar planaria pada umumnya. Tidak akan sebesar ikan lele. Trust me.

Planaria ini termasuk dalam kingdom animalia, dalam filum Platyhelminthes (cacing pipih). Filum yang sama dengan cacing pita dan cacing hati. Tahu kaaan? Cacing parasit yang menggerogoti hati dan usus hewan ternak seperti babi dan sapi, dan bisa juga hidup nyaman di usus dan hati manusia. Tapi planaria termasuk dalam cacing pipih yang bukan parasit. Jenis yang kami amati, atau yang biasa ditemukan di perairan gunung adalah genus Dugesia. Dia hidup bebas di air bersih. Dia juga merupakan indikator alami perairan. Jika dalam aliran air gunung tercemar, maka planaria tidak akan kita temukan di dalam nya. Kenapa? Karena dia planaria bernapas menggunakan seluruh permukaan tubuhnya, sehingga air yang tercemar juga akan mencemari kadar oksigen di dalamnya. Maka, wahai para manusia jangan mandi di air terjun (sungai gunung) menggunakan sabun, shampo, pasta gigi dan bahan kimia lainnya yaa. Itu akan mencemari lingkungan dan merusak habitat alami di sana. Habitat alami yang rusak bukan tanpa akibat lhooo. Satu rantai ekosistem rusak, bukan tidak mungkin satu semesta ini rusak.

Planaria ini memang makhluk hidup yang nampak sepele, karena dia begitu kecil, tapi tuhan pasti menciptakan segala sesuatu dengan maksud dan manfaatnya masing-masing.

Mari kita mulai menjaga kelestarian alam ini.

Salam lestari.

Hihihihi.

foto planaria diunduh dari http://www.cdb.riken.jp/en/labtour/downloader/list/p-5.jpg

No comments:

Post a Comment