Sunday, November 09, 2014

Ibu nya

Sore tadi saya lihat seorang anak yang sudah sukses, tidak mau turun dari mobil sekadar untuk menyapa ibunya.

Saya hidup 26 tahun bersama ibu. Dan tahu betul bagaimana seorang ibu ketika rindu pada anaknya.

Entah bagaimana perasaan sang ibu itu yang telah menua seiring halusinasi nya pada makhluk gaib. Ya, mungkin si ibu ini kesepian hingga "siapa" saja yang muncul di hadapannya dia ajak bicara. Terkadang saya pun dia libatkan dalam persoalan "tamu" nya itu. Seringkali dia bertanya apakah saya lihat seseorang yang terluka atau saya ditanyai nya tentang seorang yang minta makan padanya atau apakah saya melihat anak-anak yang berlarian. Kadang saya takut, seringnya tidak, karena sudah terbiasa. 

Dalam pikiran saya tadi sore, apa sih susahnya turun sebentar dan menyapa ibunya, sukur-sukur salim bawa oleh-oleh. Saya tahu, si anak sukses oleh usahanya sendiri, orang tuanya hanya menyekolahkannya hingga tamat SMU, dia mengusahakan sendiri kuliah di universitas terbuka, kursus bahasa inggris ini itu. Apa yang dia capai kini sebagai pegawai bank yang sukses adalah usahanya sendiri. Tapi tidakkah ia sadar, doa orang tua nya jua yang membuatnya demikian. Atau setidaknya berterima kasih karena anaknya ia titipkan di rumah si ibu. Si cucu ini yang begitu sayang pada uti nya. Padahal dia baru kelas 5 SD.

Saya masih belum paham, bagaimana bisa dia tidak turun dan menyapa ibu kandungnya, sedangkan mereka hanya berjarak sepuluh langkah. Dan kejadian itu tidak hanya sekali dua kali saja.

Entahlah.

Sepertinya saya sedang waras, biarpun hanya sedikit.

No comments:

Post a Comment