Air ledeng di rumah saya nggak
ngalir sejak kemarin sore. Padahal saya kalau mandi sore seringnya malam, air
dalam bak semalam sudah menipis. Tadinya niat nggak mandi, tapi kok sumuk kali.
Eh pukul 11 malam airnya ngalir, buru-buru saya mandi, saya nandon air di ember
dan mengisi bak. Bisa tidur tanpa kegerahan. Tapi pagi-pagi tadi ibu telpon
penjual galon air minum langganan, pesan dua galon. Air ledeng tidak ngalir
lagi sodara sodara... jadi, pagi ini saya sukses tidak mandi. Hohoho. Jadi
ingat jaman ngekos dulu, tiap masuk musim kemarau selalu minim air. Kosan dulu
pakai air sumur, yang tiap kemarau selalu sepi. Jadi kalau mandi harus ngungsi
ke toilet masjid atau pom bensin. Alhamdulillahnya sih mushola rektorat itu
airnya banyak. Hehehe.
Tema hari ketiga ini tentang
ketakutan.
Saya takut berada di tempat yang
sempit, gelap dan sendirian. Seperti misalnya di kamar mandi ketika mandi dan tiba-tiba
mati lampu. Tidak selalu tiga unsur itu yang hadir secara bersamaan sih. Berada
di tempat sempit sendirian meskipun tidak gelap juga membuat saya takut, di
dalam lift misalnya. Takut tiba-tiba lift nya mati dan kehabisan oksigen, kayak
yang di film film gitu. Melewati terowongan panjang dan cukup luas tapi
remang-remang juga membuat saya takut, meskipun ketika itu mengendarai motor. Ketika
dibonceng pun, tangan saya selalu menggenggam erat baju atau jaket si
pembonceng jika melewati terowongan. Dan keparnoan itu semakin bertambah ketika
setahun yang lalu saya ditabrak dari belakang oleh motor lain, di dalam
terowongan. Takut dan sakit.
Ada lagi ketakutan yang saya
miliki, saya takut menyesal. Klise ya. Oleh sebab itu sebisa mungkin sendiko
dawuh nya ibu dan bapak, saya jalankan. Saya hanya tidak mau nantinya menyesal
tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Bukan pada hal-hal besar. Justru hal-hal
kecil seperti tidak pulang terlambat atau ngabari dulu jika pulang terlambat. Karena
saya sejak kecil selalu punya jiwa pembangkang, nggak nurut dan ngeyel. Memang bukan
ngeyel yang ngotot, ngeyel saya adalah ngeyel yang diam. Dan hal-hal seperti
tidak boleh ikut kegiatan fisik atau kegiatan ekstrim. Naik gunung, ikut menwa,
keluar malam. Sekarang sudah lebih mendingan, bisa lebih mikir rumah, tidak
melulu mikirin kesenangan diri sendiri. Berusaha lebih sering nyenengin dan
memperhatikan mereka berdua, seperti membawa jajanan ketika pulang dari dolan. Hehehe.
Beliau berdua suka capucino cincau lho. Hehehe.
Saya takut dengan kecelakaan lalu
lintas. Salah satu hal yang menyedihkan adalah kematian karena kecelakaan lalu
lintas. Jika tiba-tiba di dalam perjalanan saya lihat kecelakaan, otomati kecepatan
saya kurangi. Itu spontan saja. Dan degup jantung lebih kencang. Dalam pikiran
saya adalah bagaimana perasaan keluarga para korban. Kehilangan yang mendadak
adalah kecelakaan lalu lintas. Dan itu pasti sedih sekali. Maka, budayakan keselamatan
sebagai kebutuhan. Ya, tanamkan dalam diri bahwa keselamatan diri sendiri dan
orang lain adalah kebutuhan, kewajiban juga, saya rasa.
Ketakutan di dalam diri adalah
hal yang manusiawi. Ketakutan-ketakutan itu bukan penghalang untuk kita menjadi
lebih baik. Dengan kita tahu ketakutan yang kita miliki, kita jadi bisa
mengolahnya menjadi suatu kewaspadaan dan lebih positif. Kok isi tulisan ini
jadi begini. Ya yang penting adalah jangan menyerah pada rasa takut.
Be brave, tapi tetap behave. Yaelah...
No comments:
Post a Comment