Thursday, June 20, 2013

Dipilih, akibatnya nanti banyak manfaatnya ataukah mudharatnya.. #dialog #imajiner

Ada hal-hal yang memang seharusnya saya tahu, serapih apapun manusia lain menyembunyikannya dari saya, Tuhan akan menunjukkan. Namun, adakalanya Tuhan sengaja ingin saya memilih untuk tahu atau tidak, ya tinggal dilihat info itu ada manfaatnya atau justru bawa mudharat.
Yaaa...akhir-akhir ini saya dalam edisi syariah sepertinya. hehehe.

Disaat diri ini tenggelam dalam jurnal jurnal yang memualkan dan bikin sedikit enggak waras, datang sebuah cerita. Cerita yang sekejap membuat semangat saya kendur. Cerita yang sebenarnya sudah sering saya dengar, cerita yang bikin capek setengah hidup setengah mati. Dan kondisi tubuh saya mati-matian meregulasi emosi. Bukan semata emosi marah, tapi emosi campur aduk, antara jengkel eneg dan muak, tapi juga ada perasaan terima kasih sebegitunya perhatian kepada saya. :)

Tentang apa sih? tentang beberapa orang yang membicarakan saya dibelakang, tentu jika berurusan dengan belakang tentu bukan dalam intonasi yang baik.

Well...bermula dari sebuah komentar di akun fesbuk, yang FYI aja komentar tidak nyambung dengan status yang saya buat. Itu saja sudah bikin saya eneg. Kemudian isi komentar yang bikin ndak nyaman, yaitu tentang saya yang dibicarakan dengan nada tidak menyenangkan. Duh langsung semangat yang bangun dengan mata semrepet jadi buyar. Ada apa dengan orang-orang ini. :)

Eh btw setelah ada komentar itu, statusnya langsung saya hapus dan akun saya deaktifkan.

Ada dua pihak yang sedang saya maksudkan. Satu pihak adalah yang berkomentar di status saya tersebut, pihak kedua yaitu yang dimaksudkan pihak satu.

Intinya pihak pertama tidak suka dengan isi pembicaraan pihak kedua. Pihak kedua ini terdiri dari beberapa orang, saya kenal mereka. Pihak pertama merasa saya tidak pantas diperlakukan demikian. :) Saya berterimakasih untuk itu, pihak pertama ini perhatian sekali pada saya. 

Pihak kedua juga perhatian lho, secara mereka sepertinya membahas saya mendetail. *piye ora perhatian jal nek mereka ngerti saya sampai detil begitu? :)* Saya ndak tahu bagaimana detilnya pembicaraan pihak kedua ini, karena sungguh saya tidak ingin mendengar. :)

Semangat dan motivasi saya untuk maju sekarang ini belum cukup tangguh, masih tersengal dan masih butuh dikuatkan. Dan saya ingin menguatkan diri saya dengan hal yang positif. Belum cukup kuat iman saya untuk mendengar hal-hal negatif. :) 

Jadi saya akan menjaga jarak, memilah milih apa-apa yang perlu saya dengar.

Cerita tentang pihak kedua yang bla..bla..bla..sudah sering saya dengar. Bukan salah mereka jika pada akhirnya mereka berpikir buruk tentang saya, toh mungkin selama ini yang mereka lihat tentang saya adalah yang buruk, yang saya perlihatkan mungkin yang buruk, jadi ya bukan salah mereka. Yang ingin saya lakukan sekarang adalah memperbaiki diri. Menjadi sesuatu yang berarti. Menunjukkan bahwa saya sedang berusaha menjadi baik. Itu saja.

Jika saya mendengar lagi detail pebicaraan mereka maka mungkin saya akan menjadi tidak suka lagi kepada mereka, dan tentu itu akan mempengaruhi proses saya menjadi baik, proses saya memperbaiki diri. Ada kenyataan yang memang harus kita tahu, sepandai apapun manusia lain menyembunyikannya dari kita, Tuhan yang akan menunjukkan, namun adakalanya kita harus pandai membaca apakah Tuhan sedang menunjukkan pada kita atau meminta kita untuk memilih. Memilih untuk tahu atau tidak tahu. Saya tahu dampaknya jika saya terus mendengarkan apa yang pihak pertama bicarakan maka saya akan menjadi tidak bersemangat dan bahkan akan membenci, maka saya memilih untuk tidak lagi mendengarkan. Pun ketika akhirnya dia beberkan semuanya tanpa menghormati keputusan saya, saya berada pada kesadaran bahwa saya tak  perlu membenci. Namun, karena saya paham betul iman ini masih cethek, maka saya tutup segala akses untuk mendengarkan hal-hal yang berkonotasi negatif. NO! Saya tidak ingin dengar apapun tentang mereka pihak kedua, saya sedang dalam tempo tertatih berproses menjadi baik. Daripada akhirnya kebobolan, maka saya cukupkan. 

Yang ngerti kapasitas diri ya diri sendiri, jangan sok menjadi superior jika akhirnya tidak. :)

Salam super...hahaha..

No comments:

Post a Comment