Saturday, June 29, 2013

Hutan dan Jalanan

Karena posisi yang sungguh krikkrik, bapak-bapak di depan yang nggak mau geser dan karena bus yang tetiba belok tidak melewati jalan yang seharusnya, membuat saya harus ah geser dengan tidak elit. Tapi cuek lah, bukan salah saya. hohoho. Harusnya bapak yang nggak mau minggir tadi saya tubruk aja ya. Tapi nanti fidodido ku lecet dan dia bapak-bapak, hehe, nggak mau ah.

Selama di perjalanan jadi ingat, mas lagi di hutan dan aku di jalanan. hehehe. Mas di hutan dan aku di perkotaan. uwo..uwooo..ah bisa jadi lagu.

Hehehe. Malam minggu nih. Terus kenapa? Deuh galak. Sensitip. Pasti mo bahas acara malam minggu kan. Basi. Hahahaha. Ih Selow...Mau ingat-ingat tentang hutan saja. Bagaimana? :) *senyum manis*

Jika beberapa tahun lalu kamu nggak minjemin dia novel 5cm dan dia belum sempat ngembaliin ketika pamit ke Jambi.
Jika beberapa tahun lalu, yang dia kunjungi bukan Jambi.
Jika beberapa tahun lalu, hutan yang dia jelajahi bukan hutan metropolitan.
Apa iya ada rindu yang tetiba menulusup?
Apa iya ada perasaan dirindukan?
Apa iya ada janji bertemu dan berkisah kopi?

Dulu karena saya tahu dia penjelajah maka iseng saya menawarkan novel 5cm. Novel yang bercerita tentang persahabatan 5 anak manusia, yang makin erat ketika mereka mendaki Gunung Semeru. Yang hingga beberapa bulan belum dia kembalikan bahkan ketika keberangkatannya ke Jambi. Dia menjadi volunteer di sebuah hutan sekunder, memasang kamera trap untuk harimau, ah entah, banyak detail cerita yang saya lupa. Setibanya di hutan dia terkejut karena camp yang dia tinggali lebih mirip kampung dari pada hutan dan lebih mirip kota metropolitan karena sinyal telepon lancar, pun ada internet. :)

Dia sering menghubungi, sms bahkan telepon, bercerita dan berbagi. Menyenangkan. Hingga dia harus masuk hutan yang sebenarnya, without signal and internet. Pun ketika itu saya bertolak ke Yogya, cuma sehari sih, tapi sebelum berangkat saya sempat mengirim sms, nggak terkirim pastinya. :)

Tak berkabar seminggu. Ada rindu menelusup. Entah dengan keberanian apa saya mengiriminya pesan, "aku kok kangen mas ya." Detik berikutnya saya merasa malu dan merasa bodoh. Hahaahaha. Aish..kenapa pula saya kirim pesan macam itu. :) Yah untungnya semua itu bersambut baik darinya. Hari-hari kepulangannya ku tunggu.

Ada rasa canggung, malu dan tersipu, ketika kami bertemu kembali. Saya berusaha untuk stay cool, padahal derap langkahnya dan suaranya menyapa teman-teman sudah saya dengar dari kejauhan, dan membuat dag dig dug tak karuan. Dia datang dengan rambut keriwilnya yang mengembang dan lebih panjang dari terakhir saya melihat tertutup topi bergambar gajah. Dia tersenyum. Dia memberi oleh-oleh kopi, kopi sidikalang.

Semakin dekat semakin sering bersapa. Kehadirannya sering kucari, diam-diam. Sekadar melihatnya dari kejauhan atau melihatnya lewat sejenak, sudah cukup membuat hati ini senang. Senyum-senyum. 

Pernah sekali saya melihat matanya menatap ke arah saya, degup jantung berdetak lebih cepat dan tentu saya tersipu malu ke-GR-an. hahahaha. Apa yang dia pikirkan saat itu ya. :)

Entah apa yang terjadi jika saat itu dia tidak berpamitan akan ke Jambi.
Entah bagaimana kami kini jika kangen itu tak pernah saya ucapkan.

Tapi saya bersyukur, semua berjalan seperti ini. :)
Semoga kami selalu menjadi yang terbaik.
Dia baik untuk saya, saya pun baik untuknya.

Amin.

hehehe. Kangen ya. Iya, kangen.

^_^

No comments:

Post a Comment