Sunday, June 16, 2013

Ganteng dan Passion

Sebuah pertanyaan tiba-tiba nangkring di inbox.
Survey, diantara 1. Jejaka ganteng pemalas, 2. Duda rajin dan kecukupan, manakah yang akan kalian pilih?
Saya ini tipikal orang yang jaga imej, jadi setiap ada pertanyaan yang mengharuskan saya untuk memilih, saya pasti berpikiran bahwa oh orang ini pasti mau menilai saya, dari jawaban yang saya utarakan. hahahaha. Pede bangettt *toyor*. Sebelum saya menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu memastikan itu duda cerai atau duda ditinggal meninggal, hehehe. Saya jawab poin kedua lah. Duda tapi rajin dan kecukupan. heuheuheu... Itu jawaban untuk survey lho yaa, kenyataannya tetep saya milih Mas yang ganteng (dialem dewe).

Ini survey biasa saja jadi kepada pesurvey saya tidak mengungkapkan bahwa defini ganteng menurut saya adalah dari apa yang terpancar di wajah pria. Jadi, menurut saya, lelaki malas itu nggak ganteng. Tentu dengan definisi malas yang berkonotasi negatif, malas bekerja, malas berkarya, bahkan untuk memiliki cita-cita pun malas. Sudah pasti lelaki seperti itu nggak ada ganteng-gantengnya.

Nah balik ke definisi ganteng, untuk saya, lelaki ganteng adalah lelaki yang punya passion, punya mimpi, punya cita-cita. Itu semacam inner beauty. Pasti terpancar di wajahnya. Lelaki ganteng sama lelaki cakep itu beda, menurut saya. Ganteng seperti definisi saya tadi, sedang cakep itu physically, fisiknya cakep. Ganteng itu menarik, nggak ngebosenin, nah kalau cakep itu ya udah cakep aja, cakep dari sononya.

hahahahaha........ini kalau dijelasin panjang bener yaaaa....

Dan kenapa tetiba pertanyaan semacam itu nangkring di hidupku sore ini?

Well....sejujurnya ini bikin saya mikir. Mikir. Saya selalu menganggap Mas ganteng, terutama jika kembali dari hutan. Atau ketika membicarakan hal-hal yang dia sukai, atau hal-hal yang ingin dia wujudkan.

ketika dia birdwatching di Merapi
Dan sore ini saya jadi flashback, bagaimana dia, sorot matanya, senyumnya, kegiatan-kegiatannya, ketika bersama teman-temannya. Yes, dia ganteng. Dan beberapa bulan ini saya mengurangi kadar kegantengannya, atau lebih jelasnya mengurangi kadar kegantengannya ketika sedang bersama saya.

Sungguh saya tidak tahu diri. hahaha.

Saya merasa saya membatasi geraknya. Hanya karena dia terlalu sibuk, dan menjadi sedikit berubah, saya menunjukkan ketidaksukaan yang bertolak belakang dengan sikap saya dulu. huhuhu. Egosistem saya. Iya egosistem yang perlu disiangi.

Jadi, begitulah tuhan mengurai ruwet yang ada dalam diri saya. Lewat sebuah pertanyaan yang membuat saya berdiskusi dan melihat lebih luas. jreng..jreeeng...

Ah...selamat sore, semoga masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan.

:)

::gambar dicrop semena-mena dari halaman fesbuk-nya::

No comments:

Post a Comment