Thursday, February 27, 2014

Merbabu yang terlambat diceritakan



Bagaimana jika kita bercerita tentang gunung Merbabu. Ini cerita yang sedikit terlambat. Dua tahun yang lalu. 15-17 November 2012. Saya menyanggupi dan memberanikan diri mendaki Gunung Merbabu bersama teman-teman. Rombongan yang sebenarnya belum pernah saya temui. Saya dan Risky, dari Semarang. Mbak Chopie, Mbak Tyas, Ian dan Drajat, dari Surabaya. Mas Adhi dan Mas Nanang dari Wonosobo. Mas Dhanny, Zie, Rizqon dan Arif dari Yogyakarta. Kami berduabelas.

Saya ini pendaki amatir. Baru sekali itu mendaki gunung, dalam artian menggapai puncak yang sesungguhnya. Karena pernah beberapa kali mendaki gunung Ungaran tapi tidak sampai puncak, masih jauuuh bahkan yang saya kira saat itu sudah di tengah-tengah menuju puncak. Eh ke Candi Gedong Songo dan sampai di candi paling atas itu juga naik gunung lho. *ngeles*

Karena saya amatir, rombongan sempat dibagi menjadi dua. Rombongan yang menemani saya mandeg-mandeg, awalnya ditemani Risky, Mas Nanang dan Mas Adhi. Kemudian mereka bergantian. Hehehe. Bahkan, tas ransel saya dibawakan. Sungguh terlalu. *nyengir*. Dan rombongan yang jalannya bebas hambatan. Sungguh saya melongo, mereka seperti jalan kaki di jalanan yang datar saya. Padahal Mbak Tyas mengenakan rok. *gumunan* Begitu sampai di atas ternyata banyak mbak-mbak berkerudung yang mengenakan rok. Dan bukan hanya mengenakan rok, mereka menggendong ransel yang –gaban aja kalah gede-, duh gumun lagi. Ah siapalah aku ini.

Tapi memang dasar amatir, cuma bawa badan aja masih sering berhenti. *nyahahaha*

Saya menjadi mengenal banyak hal. Tentang ketinggian itu sendiri, kebersamaan dan alam. Tentang trik dan bagaimana bersikap. Bagaimana mengendalikan ego. Bagaimana berkomunikasi. Bagaimana mengolah raga dan pikiran.

Ketika berangkat, ah iya, kami naik melalui jalur Wekas. Saya dan Risky berangkat dari Ungaran menggunakan bus dan turun di Pasar Sapi, kemudian naik bus kecil menuju Wekas. Sebelum menuju Wekas, kami mampir ke minimarket, membeli beberapa rokok dan baterai untuk headlamp. Rokoknya Risky lho yaa, bukan saya. Di minimarket ini, Risky menghabiskan minumnya kemudian meremas botol, menggepengkan dan menyimpannya ke dalam ransel. Awalnya saya bingung, tapi nantinya saya akan tahu, botol itu di atas sana akan ditiup lagi, mengembung lagi dan diisi lagi dengan air gunung.

Jangan tanya bagaimana dinginnya udara di sana, padahal baru di beskemnya (belum puncak dan perjalanannya). Kaki dan tangan sudah dinginnn, tiap bicara, mulut mengeluarkan uap, dan berkali-kali ingin buang air kecil. Saya suka kamar mandinya, khas pemukiman kaki gunung, bak besar dan air terus mengalir. Jangan tanya dingin airnya seperti apa. Jangan tanya, karena saya akan menceritakan. *hehehe*. Airnya seperti air es dalam botol yang diam-diam saya letakkan di dalam kulkas, dan diam-diam saya minum jika ibu sedang tidak di rumah. Saya suka air dingin sedingin air es, tapi ibu sering melarang saya minum air es, nanti pilek katanya. Tapi saya memang ndableg, jadi seringnya diam-diam minum es. Dan di kamar mandi itu, saya minum airnya, bukan yang dari bak, tapi yang mengalir melalui keran, yang di dalam bak memang lebih dingin tapi ada ikannya, masa iya saya minum air campur pipis ikan. *hihihihi* Eh tapi nikmat lho airnya. Saya minum satu gayung penuh.

Setelah dirasa siap nanjak, kami foto-foto dulu di depan beskem, Risky bilang “tenang saja mbak, lihat nih petanya, kita udah separuh dari ketinggian Merbabu kok.” Kalimat yang saat itu memicu saya untuk tambah semangat, namun kemudian, beberapa jam selanjutnya saya ragukan kebenarannya. Iya, masih jauh, dan masih tinggi.

Tapi sepertinya memang adatnya sesama pendaki, ketika bertemu, pendaki yang turun gunung akan menyemangati pendaki yang baru naik, “semangat mas, mbak...sebentar lagi sampai kok..duluan ya.” Percayalah, yang mereka katakan tidak detil, sampai di manaaaaa???? *hehehe*

Sempat bertemu rombongan pendaki yang cukup unik, dari kejauhan terdengar suara kelintingan sapi. Rupanya, di tas atau baju mereka, dipasang lonceng yang suaranya mirip lonceng pada gerobak sapi. Mungkin maksudnya, kalau ada yang nyasar jadi mudah ditemukan.

Nge-camp semalam. Jangan tanya bagaimana rasanya tidur di tempat sedingin itu, dan badan pegel-pegel. Nggak bisa tidur. Berkali-kali merubah posisi perlahan karena takut membangunkan Mbak Chopie dan Mbak Tyas, sempat keram dan nggak bisa gerak. Dan karena geli betapa saya ini lucu sekali kok bisa-bisa nya ikut munggah gunung, geli dan takjub -akhirnya tidur di gunung-, *ndeso pancenan*  karena tertawa itulah saya bisa bergerak lagi. Sini, saya ceritakan bagaimana cara saya merubah posisi tidur. Tidur menggunakan sleeping bag, jadi mirip enthung –pupa ulat-, nah pernahkah mencoba membalik ulat? coba saja, ulat yang sedang berjalan dibalik menggunakan kayu atau ranting, nanti dia perlahan akan memutar tubuhnya kembali seperti semula, nah begitu pula cara saya merubah posisi, hadap kiri, hadap kanan, hadap atas. Nikmat pegelnya. Malam terasa sangat panjaaaaang.

Pos helipad, jembatan setan, persimpangan puncak syarif. Sempat ragu naik atau tidak ke sana, tapi kapan lagi? Akhirnya naiklah saya ke puncak syarif, ditemani Arif. Foto-foto khas pendaki, pegang tulisan Puncak Syarif. Foto-foto sama Rizqon yang rambutnya kriwil. *bukan karena ada Rizqon yang berambut kriwil lantas saya ingat sesosok rambut kriwil yang di Merapi, tapi memang sepanjang niat naik Merbabu, dia nyangkut terus di pikiran*

Tentang rambut kriwil, sesungguhnya dia tidak merestui saya naik Merbabu, karena dia harus ke Merapi. Eh tapi semoga dia memahami bahwa kini, saya jadi tahu betul bagaimana perasaannya jika sedang di rimba raya. Dan saya kembali menertawakan diri saya sendiri, yaelah bro, sampe segitunya untuk mencoba memahami.

Sampai mana kita tadi. Puncak Syarif. Kemudian menuju puncak Kenteng Songo. Percayalah, kalimat “ayo semangat, sebentar lagi sampai.”, tidak akan pernah absen dari pendengaranmu, jika kau mendaki gunung. Bahkan kalimat, “ayo, kurang sakkilan meneh.”, sakkilan adalah satu jengkal tangan. Sungguh jarak yang pendek, bukan. Iya, tapi tolong bayangkan bahwa satu jengkal tangan itu dilihat sambil mendongak ke atas. Nah, ini baru mendaki, nggremet. Dan begitu sampai di atas, saya adalah yang terakhir, teman-teman bertepuk tangan, “horeeeee....akhirnya Dani sampai di atas.”. Saya. Terharuuuu. Bahagia. Tapi ini bukan jenis bahagia yang sederhana. Naik gunung tidak pernah sederhana. Namun di atas sana kau akan dengan mudah menyadari bahwa kau adalah makhluk yang sederhana di mata Tuhan, sederhana dalam semesta. Kadang, di tengah gemerlap lampu kota, di antara kemudahan mendapatkan sesuatu, kita sulit mengakui bahwa kita ini makhluk sederhana. Kecil. Tak berdaya. Di atas sana, akan ada banyak hal yang kau syukuri, udara yang bersih, tanah yang subur, padang menghijau sepanjang pandang, dan teman-teman yang baik, sangat baik. Bahkan sesama pendaki yang tidak dikenal pun serasa saudara sekampung.

Kenteng Songo berkabut, Merapi bersembunyi, tapi bahkan kebahagiaan kami serasa mampu menembus kabut dan nampaklah sang Merapi. Gerimis datang. Kami membentangkan terpal, berdesakan menikmati rintik hujan, menikmati kebersamaan dan menikmati kurma yang manis. Hujan reda, dan betapa waktu cepat berlalu, kami harus bergegas turun, supaya tidak kemalaman. Kali ini, ransel saya bawa sendiri. Kata mas Dhanny, “beneran mau dibawa sendiri?Mbak Dani kuat?”. Kuat. Turun mah tinggal ngglundung aja kan?! Pemikiran tersebut akan segera saya ralat. Turun itu harus lebih hati-hati. Ngglundung sih bisa aja, tapi....*langsung kebayang ndrojog dari puncak triangulasi* Turun ini saya belajar satu hal, setelah lihat mas-mas turun sambil lari. Iya, lari. Tapi zig-zag. Saya ikutan, eh beneran lebih enteng lho. Ngeremnya juga lebih pakem.

Haus..haus..dan haus. Hujan turun perlahan. Kami melewati ribuan pohon edelwis. Bukit luas yang mirip tempat tinggal teletubis. Lapangan luas yang dikelilingi bukit.

Mengingatnya lagi membuat saya rindu Merbabu. Ah. Sesungguhnya cerita ini tertulis karena saya memang sedang kangen Merbabu. Merbabu yang kemarin sedikit digoyang gempa. Merbabu yang tenang. Merbabu yang mengajari saya untuk lebih bisa mengendalikan ego. Sesungguhnya perjalanan dua tahun yang lalu itu, saya belum mampu mengendalikan ego saya. Saya masih sering mengeluh sepanjang perjalanan. Dan sejujurnya, jika perjalanan itu kami tidak turun di Selo, mungkin di pertengahan jalan, saya menyerah dan memilih kembali ke beskem.

Oh iya, mendaki Merbabu membuat bayangan saya selama ini tentang gunung yang berbentuk segitiga, buyar sudah. Gunung tidak sesederhana itu.

Dan sampai sekarang, jika saya memandang gunung, akan saya amati detilnya, liuknya, padang rumputnya, lembah-bukitnya, dan membayangkan bagaimana rute dan rasa berjalan di sana.

Saya rindu Merbabu. Saya rindu mendaki.

Gunung yang dari kejauhan berwarna abu, semakin dekat berwarna biru dan semakin dekat lagi berwarna hijau.

Gunung yang dalam masa kanak-kanak adalah tempat keluarnya matahari, dan ujung dari jalan raya, seolah semua jalan raya bermuara di kaki gunung.

Perjalanan membawa kami pada suatu waktu yang dinamakan senja. Gerimis menderas. Haus seolah mengejek, begitu banyak air hujan dan kau merasa haus.

Senang, begitu melihat banyak kemah. Saya berlari menuju teman-teman yang lebih dulu sampai. Mereka nampak menunggu sesuatu. Menunggu air terkumpul cukup banyak di atas terpal kemah. Kemudian meminumnya. Dan haus mengalahkan perasaan –itu air kotor nggak ya-.

Dan bahagia itu sederhana adalah ketika ada seorang bapak tua gondrong menatap saya meneguk air hujan itu. Begitu saya selesai minum, bapak itu berkata “alhamdulillah”. Saya tersenyum padanya. Alhamdulillah. 

Hujan pun tersenyum. Bagaimana? Bisa kau bayangkan perasaan saya saat itu.

Hari menggelap. Tanah licin. Sering terpleset. Jatuh bangun. Semakin waspada. Kebelet pipis pula.

Titik-titik lampu perkampungan membuat kami sedikit lega. Sebentar lagi sampai. Kini bukan lagi kalimat –ayo sebentar lagi sampai- yang sedikit melegakan. Namun, gurat kecewa akan mendadak hadir ketika kau belok kanan, titik-titik lampu tadi lenyap. Seolah fatamorgana. Dan terbayang di benak saya adalah film Jurasic Park. Terbayang zaman purba. Kenapa saya membayangkan zaman dan film yang bahkan belum pernah saya tonton sampai tuntas. Entahlah.

Duh dengkul dan kempol sudah kaku. Sulit melangkah. Kewaspadaan sedikit buyar.

Di sisa energi dan semangat, nampak serombongan pendaki. Mereka berteriak (lagi, kalimat itu) “ayo semangat, sudah sampai lho”. Kali ini mereka bersungguh-sungguh. Dan sampailah kami di gerbang pendakian via Selo. Subhanallah.

Para pendaki di beskem senyum-senyum. Entah mereka juga baru turun atau baru akan naik esok hari.

We’re home.

Bersih-bersih, mandi dengan air es. Jangan tanya bagaimana keadaan kaki saya. Kakuuuuu. Hahahahaha. Saya sudah boleh tertawa keras kan. Lega. Sambil menunggu soto dan teh, kami berbincang. Saya bersuara. Ya, percayalah. Selama perjalanan di gunung, saya anteng. Sungguh.

Setelah sampai di beskem Selo, saya bersuara dan bahkan melucu.

Teh panas, soto panas, tidak akan terasa panas di sana. Tapi esoknya, kau akan merasakan lidahmu kebas.
Istirahat kembali dalam sleepingbag, kali ini alasnya datar. Bisa selonjor dengan nyaman. Bisa tidur. Dan tidak mau bangun subuhan. *keplak*

Paginya sumringah, meskipun tetap dingin.

Dengan sebuah pesan, “....... Selamat menapaki jalanmu di usia yang semakin jauh. Bahagia senantiasa.” Di luar, di bukit belakang beskem, saya lihat dua ekor elang terbang. Hae mas, bagaimana kabar Merapi. Maturnuwun sudah merestuiku mendaki Merbabu.

Masih mau dilanjutkan.

Dingin pagi dan kopi tentu tak terpisahkan. Ngopi menggunakan cangkir –yang baru saja dipakai untuk bekam-. Tetap sehat lah ya. Menu lainnya adalah wedang roti plus santan. Masih ingat kan, lidah yang kebas. Santan berasa susu kental manis.

Sudah empat halaman cerita. Cerita yang bahkan ketika ingatan masih hangat, luput tertulis. Kini muncul kembali. Berawal dari kangen Merbabu dan cecuit di socmed, kami mengingat detil perjalanan itu.

Perjalanan yang hingga kini saya syukuri, dan separuh saya rutuk betapa saat itu saya begitu merepotkan teman. Hyahahaha. 

Semoga semua pada enteng jodohnya, dimudahkan skripsinya, dilancarkan rejekinya dan selalu diberkahi sehat bahagia. Aamiin.

Sunday, December 08, 2013

Mata, pikiran dan jari jemari ini sepakat merusuh


Thursday, December 05, 2013

tokos buku dan genre

"karena berbeda, orang bisa menikah dan menjadi suami istri. Jika keduanya sama persis, salah satunya tidak diperlukan. Tak guna."

Begitu tweet dari mbak Alissa Wahid. Meresapinya, saya seolah terlempar pada ingatan ingatan tentang kami berdua.

Pernah suatu saat ada yang berkomentar tentang kami, tentang kesukaan kami pada hal yang sama, buku. Ya, dari sekian teman pria saya, hanya dia yang bersedia dan berbahagia bahkan menikmati berburu buku di toko atau pameran buku. Tak aneh jika lantas saya begitu sumringah saat tiba waktu kami berkencan ke toko buku. Menurut beberapa orang, hal ini pasti aneh, tapi saya pun percaya, banyak pasangan seperti kami, jalan jalan ke toko buku . Toko buku yang menyediakan satu buku (sampel) yang tidak dibungkus plastik dan bisa dibaca-baca, atau toko buku yang memberi diskon aduhai. Pameran buku murah? tentu tidak akan kami lewatkan, tempat itu adalah surga harta karun, makanlah dengan kenyang sebelum menyambangi tempat itu, karena kau tak pernah tahu seberapa banyak tumpukan buku yang harus kau bongkar, itu akan butuh banyak energi.

Nah, kembali ke komentar orang tadi, memang kami sama sama suka beli buku, tapi buku yang kami tuju tidak selalu sama. Dan sekarang saya menyadari, buku yang dia gilai, genrenya mengerikan untuk saya. Berat. Hahaha.

See, sekalipun kesukaan kami adalah sama-sama beli buku, sama-sama senang menjelajahi toko buku, namun buku yang kami suka tidak sama persis. Kadang saya betah berlama-lama di area novel populer, dan dia di rak buku sastra yang saya tidak tahu siapa penulisnya. Setahu saya sastra adalah Sapardi Djoko Damono, Pramodya, dan Goenawan Mohamad. hehehe. Kami sama-sama suka buku puisi, tapi ya itu tadi dia lebih suka puisi religi, saya puisi yang cinta-cintaan. heuheuheu.

Kesukaan kami hampir sama, tapi tidak persis.
Beberapa hari yang lalu, ajakan kencan itu datang. Tour the tokos buku, katanya. Saya sudah siap tempur dan membayangkan tiga gramedia, satu gunung agung, satu merbabu, satu togamas dan satu pandora akan kami jelajahi.

Namun pagi harinya, sebangun tidur saya menyadari jam menunjukkan pukul delapan. Bedandaban-lah saya. Pasalnya, kami janjian pukul sembilan. Dengan tingkat kelambanan saya yang cukup tinggi, satu jam tidak akan cukup untuk mandi, ganti baju, dan tiba di tempat janjian dengat tepat waktu. Buru-buru.

Singkatnya, janjian molor sampai 10.30.

Tujuan pertama kami adalah togamas. Ah iya, apa yang sebenarnya kami cari, Amelia. Novel karya Tere Liye, salah satu buku dari serial anak-mamak. Jangan tanya serial itu judulnya apa saja. Saya lupaaa. Hehehe. Dari sekian judul buku karya Tere Liye yang saya pinjam dari Mas, hanya satu buku yang sudah selesai saya baca, Bidadari Bidadari Surga. Sudah, yang lain baru bab satu dan tidak diteruskan. Aigoo, buku yang belum saya baca banyak sekali, tapi tetap beli lagi. Ah ya, itu juga kesamaan kami, suka beli buku, bacanya nanti nanti.

Kembali ke togamas, begitu masuk kami langsung menemukan Amelia. Yah, tapi tidak serta-merta kami langsung ambil dan bayar, kami lihat-lihat dulu semua buku. Ehm..dan ah saya jadi ingat Seri Bilangan Fu, Ayu Utami. Buku yang bulan kemarin ingin saya beli, Lalita. Di deretan buku Ayu saya nemu buku tentang Scorpio. Kami berdua Scorpio. Saya baca sinopsisnya di cover belakang. Menarik. Tapi harganya duh, padahal bukunya kecil. Kemudian kami mencari buku pesanan seorang teman, tentang mendidik anak. Buku islami. Wkwkwk. Itu pesanan lho yaa.

Kami menjelajah hingga sudut-sudut. Seperti yang sudah saya tulis di awal, kesukaan buku antara kami berdua tidak sama persis, ada yang sama memang, tapi hanya beberapa nama. Kami berpisah, dia ngendon di rak buku agama, saya keliling di rak buku resep masakan. Dia masih ngendon di rak buku agama, saya sudah pindah jongkok di depan rak buku keterampilan. hohoho. Ssssttt...saya buka bungkus plastiknya dan membaca dengan teliti, supaya ingat dan bisa dibikin di rumah. Dia pindah ke bagian depan toko buku, entah ke mana, saya masih membaca buku kerajinan tangan itu, sampai dia kembali lagi dan mengajak saya pergi.

Kelar keliling togamas, kami berniat mencari buku pesanan (yang tadi) itu di gramedia. Maka, kami ambil buku yang kami incar tadi dan bayar. Sekalian disampul. Gratis. Hohoho. Mayan.

Gramedia Pandanaran. Sampai di toko ini saya sungguh tidak berniat membeli buku. Nggak ada diskon euy. Buku pesanan itu juga tak ada. Btw, bukan karena buku itu best seller ya, tapi sepertinya buku itu tidak populer di toko buku. Hehehe. Karena, jika stok habis pun, data tentang buku tetap ada di komputer dengan keterangan stok= 0. Well, buku yang seperti itu lebih baik dicari di internet, pasti banyak yang jual. Nah di gramedia ini, Mas tergoda buku kumpulan cerita Kompas. Belilah dia. Hahaha. Saya anteng ndak tergoda. Wkwkwk.

Kelar dari gramedia, rupanya kelar juga tour kami. Apah?? Cuma dua toko buku?? Sedikit kecewa, tapi juga lega. Terbayang godaan begitu kuat jika semua toko buku itu kami sambangi. Hehe.

Kegiatan kami berdua berikutnya adalah bercerita. Mas memperlihatkan foto anggrek-anggrek Meru Betiri. Dan saya ngecuwis tentang semua hal. Ya, semua hal. Dari gosip artis, sampai drama Jepang.

It's fun. I love it. I love him.

Tuesday, October 29, 2013

Debu di pelupuk mata dan belalang

Debu di pelupuk mata adalah hal kecil yang terasa besar. Mau dikucek terus sampai iritasi, atau segera ditetesi obat mata kemudian lega
Dipilih...dipilih..dipilih...


Sejak kemarin saya menulis demikian. Saya pikir, saya sering sekali menganggap hal kecil dan menjadikannya besar. Padahal bisa saja saya mengguyur masalah kecil itu dengan lebih bijaksana. Seharusnya begitu. 

Tentu debu itu adalah masalah penting karena jika didiamkan dia akan mengganggu penglihatan, ngganjel. Tapi ya itu tadi lho, disikapi dengan bijaksana saja. Diguyur dengan obat tetes mata, bukan dikucek atau diubek-ubek, beneran jadi gawat itu kalau iritasi.

Lebay memang tulisan ini. Tapi perumpamaan itu memang bener dan cukup ngampleng saya. Kemarin saya kelilipan. Waktu masang anggrek epifit di batang pohon sukun di belakang rumah. Debu gesekan tali raffia di batang itu terbang oleh angin dari arah depan, masuklah ke mata. Kebayang debu nya sekecil apa kan? Tapi beneran itu ganggu. Udah ditetesi obat mata, tapi nggak mau minggir, nempel di kelopak mata atas bagian dalam. Ngganjel bangetttt. Setelah operasi kecil, saya cungkil debu hitam itu menggunakan cotton bud yang sebelumnya sudah ditetesi obat mata, bisa diambil. Lega. Meskipun menyisakan perih akibat gesekan cotton bud dengan kelopak mata.

Sorenyaaaaa, yang kelilipan gantian mata kanan, oiya tadi yang kelilipan adalah mata kiri. Yang mata kanan ini, sampai malam tidak terdeteksi dimana debu itu berada. Sudah ditetesi obat mata beberapa kali tetep masih ngganjel, dan ndak bisa keluar debu nya. Yaweslah..saya menyerah, saya merem, tidur, istirahat. Paginya sudah bersih, tapi beleknya banyak. Hehehehe. 

Berarti ada satu lagi jalan keluar, selain berusaha mengeluarkan debu itu dengan obat tetes mata dan mengambil dengan cotton bud, juga bisa diatasi dengan tidur, maksudnya adalah ikhlas. Kan sudah berusaha sebisa mungkin. Sudah berusaha dengan ditetesi obat mata, tapi gagal, ya sudah, terima saja, mata punya cara sendiri untuk melindungi dirinya. Mata punya prosedur untuk membersihkan dirinya. Tuhan juga punya caranya sendiri untuk membantu kita keluar dari masalah, yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebisa mungkin, kemudian ikhlas dengan apa yang dikehendaki tuhan. Begitulah...tuhan punya prosedurnya sendiri, yang cepat atau lambat kita akan menyadari itu sebagai berkah. Bukankah tidur dalam kasus kelilipan saya yang kedua juga merupakan berkah. Hehehehe. Mekso memang analoginya.

Beda lagi dengan kelilipan belalang, eh bukan kelilipan sih sebenarnya, tapi ditemploki. Saat malam kemarin pulang dari kost teman, tetiba ada belalang nemplok ke dada saya, belalang besar. Saya kaget, tapi mungkin dia lebih kaget ya. Hehehe. Setelah itu, karena gelap saya tidak tahu apa kabar belalang itu, jatuhkah pasca menubruk saya, atau bagaimana saya tidak tahu, karena gelap malam. Saya toh mengendarai motor dengan kecepatan cukup tinggi. Ternyataaa...belalang itu nggremet ke atas, ke wajah saya, sontak saya kaget dan buru-buru membuangnya. Saya kibaskan dia begitu saja. Nah jika tidak hati-hati ketika membuang belalang itu, bisa jadi saya yang jatuh, dan ngglangsar dengan sukses. Buru-buru menyelesaikan masalah tanpa tahu pasti penyebab masalah itu timbul juga akan berakibat tidak baik bukan. Harus punya strategi dan kondisi yang seimbang. Supaya efek yang ditimbulkan dari pengambilan keputusan itu juga bisa diterima dengan baik dan tidak menimbulkan ”cedera” yang berlebihan. 

Baik debu maupun belalang, adalah hal yang sulit diprediksi akan datang. Tapi kemungkinan mereka mak bedunduk datang pasti ada, karena ini hidup. *uwooooooh..bahasane* Ya kan habitat tempat kita hidup ada banyak debu dan ada belalng, kemungkinan mereka tiba-tiba nyempil dan nemplok itu pasti ada. Dalam hidup juga demikian. Menjadi siapapun, dokter, profesor, presiden, peneliti, pasti akan ada banyak masalah datang tak terduga, jadi persiapkan diri untuk bisa selalu bijaksana dan ikhlas menerima, siapkan semangat yang tak pernah pupus untuk mencoba menyelesaikan.

Perkara kamu-kapan-nikahnya?

Beberapa bulan ini saya kacau balau. Yang biasanya rutin mencatat apa saja kebutuhan sebulan, kemudian beli barang-barang itu sekaligus dalam satu waktu, tapi beberapa bulan ini kecer semua. Belinya kalau pas ingat saja. Jadinya bolak balik ke minimart, padahal biasanya ke toko swalayan yang lumayan besar dan lengkap, atau ke warung kulakan di pasar.

Nah pagi ini saya ingat dan pengen eh butuh ding beli lulur, mengingat kacaunya saya beberapa bulan ini, saya jarang mandi dengan seksama. Ya maksudnya mandi seadanya, gosok gigi, cuci muka, sabunan, jebar jebur, dan shamponan dua hari sekali. Jarang dan hampir nggak pernah luluran cint. Duh padahal uripe ning ndalan, debu-debu, sinar matahari, asap knalpot. huhuhuhu. Rempong.

Dan pergilah saya beli lulur ke al*amart. Pengunjung pagi ini adalah saya, dua mbak-mbak dan satu mas-mas sedang memilih air minum di lemari pendingin. Saya dan dua mbak itu agak random. Saya sih memang kebiasaan meskipun tahu apa yang mau dibeli, tapi selalu putar-putar dulu, mbok menowo ada yang lupa harus dibeli juga. Nah sampai di rak bahan-bahan masak, si dua mbak itu juga berhenti di sana. Saya cari bubuk kayu manis dan cengkeh, tapi ya jelas nggak ada sih. Mereka berdua ngobrol dan kebetulan saya dengar, mereka di belakang saya lho ya, saya nggak nguping lho ya, cuma ya keterusan dengar. hehehehe. Ada kalimat yang bikin saya nengok dengan seksama. Nah, mari kita sebut mereka berdua dengan Mbak A dan Mbak B.

Mbak A: lha kamu kapaaaaan? ndang nikah. *sambil ngambil beberapa mie instan*
Mbak B: lho uwis lho ya..
Mbak A: kok aku ra diundang. *ujar mbak A buru-buru memotong pembicaraan*
Mbak B: uwes ping pindo batal terus.

krik..krik..kemudian hening. Setelah nengok dengan seksama sekejap saya kemudian saya mlipir. Waiki drama ki mesti

Ah ya sepertinya memang perkara kamu-kapan-nikah dan ndang-nikah-wong-yo-wes-umur sedang hit akhir-akhir ini. Bulan apa sih ini, banyak yang nikah. hehehe. 

Teman-teman saya ada belasan pasangan yang menikah tahun ini. Bulan october-november ada lima pasang. hihihihi. Barakallah ya temaaaaan-temaaaaan.

Tuesday, October 15, 2013

ri cuh

Sesungguhnya, ketika diam meraja, adalah saat di mana pikiran menggema kan kericuhan.

Ricuh yang mencari celah untuk reda. Aku sedang mencoba untuk reda. Sekalipun yang ingin kulakukan adalah menangis, menghujani tenang ini dengan sebuah lega.

Ricuh yang berkecamuk dalam setiap hela nafas.

Ricuh yang ah bagaimana lagi aku harus menjabarkan sepi ini.



Monday, October 14, 2013

finally



yeah....akhirnya...

welcome to the jungle...

Thursday, October 03, 2013

Tentang tembok

Sebenarnya apa yang membuatmu marah?
Karena aku berkata tentang tembok, kemudian kau merasa aku menganggapmu seperti tembok?
Coba teliti lagi kalimatku.

“ada seseorang yang berujar: lebih mending ngobrol sama tembok daripada yang diajakin ngobrol nggak nyambung.
Dalam hati aku menjawab: kalau sudah nyadar yang kamu ajak ngobrol itu nggak nyambung, anggap saja dia tembok.”

Maksudku adalah, daripada kamu berpaling mencari tembok dan mengajaknya (tembok itu) ngobrol, alangkah lebih simpelnya jika kau menganggap orang di hadapanmu itu sebagai tembok. Kalimat pertama itu orang lain yang bilang, aku mengucapkan dalam hati kalimat keduanya. Karena menurutku, ya itu tadi, daripada kamu repot-repot mencari tembok untuk kau ajak bicara hanya karena orang di depanmu itu nggak nyambung ngobrol sama kamu, kan mending orang yang kamu sadari betul sudah tidak nyambung itu kau anggap sebagai tembok, tetap saja berbicara padanya, tetap saja bercerita, masalah dia menanggapi ceritamu dengan tidak nyambung, abaikan saja, toh dia tembok.

Apa aku melanjutkan smsan ku denganmu? Tidak kan? Itu artinya aku tidak  menganggapmu sebagai tembok, tapi aku sudah sadar betul kau sedang tidak nyambung denganku, maka aku pergi. Aku hanya mengirimimu ulang pesan yang mungkin luput kau baca dengan seksama, supaya kau baca ulang.

Sepertinya kau sedang lelah, dengan aktivitasmu di Jogja, aktivitas apa, aku tidak tahu. Kemarin kau berhenti mengirimiku cerita. Dan aku enggan bertanya, bukan karena aku tidak peduli padamu, tapi karena aku takut aku tidak bisa menguasai diriku sendiri untuk tidak cemburu pada teman-temanmu. Bukan cemburu seperti ketika perempuan cemburu pacarnya punya banyak teman perempuan, bukan, tapi cemburu karena jika kau bersama teman-teman Jogja mu itu, kau terasa jauh. Ah sudah, aku tak mau menceritakan detilnya. Tapi aku senang jika kau mau menceritakan kegiatanmu di sana. Seperti ketika kau bercerita sedang mengamati capung di gunung kidul.

Eneg ketika aku tahu kegiatanmu dari halaman muka itu. Entah kenapa, padahal biasanya aku mencari tahu kegiatanmu juga dari halaman itu. Tapi kali ini aku bosan. Mungkin aku merasa bukan lagi seorang yang spesial, karena kabar yang ku tahu tentangmu sama seperti kabar yang di baca orang lain, melalui halaman muka.

Ah aku menulis sepanjang ini, rasanya semua ini yang ingin kuungkapkan padamu. Tapi aku tahu betul kau sedang tak ingin berdebat. Kau itu, sudah sensitip, tidak mau menerima penjelasan orang lain. Ooooooooh maiiiii....apa iya kita berdua selalu akan memproses semua masalah dengan cara seperti ini. Kapan kita berdua bisa dewasa menyelesaikan perseteruan seperti ini.


Dan aku tahu kau tidak akan mengirimiku pesan sehari berikutnya. Kemudian kau tambah waktu menginapmu di Jogja. Dari tiga atau empat hari menjadi seminggu.

Wednesday, October 02, 2013

Good Day

“every day may not be good, but there’s something good in every day”

Skejul saya hari ini tidak berjalan lancar. Sedangkan saya sebenarnya tidak memiliki rencana cadangan. Tapi, disaat pikiran blank, tetiba ada pesan masuk. Harus foto untuk pamwis. Yasudah foto saja lah hari ini, tapiiiii...lupa bahwa foto itu harus mengenakan kemeja putih dan jilbab hitam. Which is saya tidak bawa semua. Belok ke gramed lah, setelah sebelumnya mampir kos teman untuk pinjam kemeja putih. Saya punya kemeja putih, tapi tidak bisa dipasangi dasi. Foto harus pakai dasi.

Maka rencana dadakan berikutnya adalah pergi ke gramedia. Jreng..jreng..panasnya Semarang. Sampai di gramedia, buku yang dicari tidak ada. Malah nemu buku-buku yang menggoda isi dompet. Hayaaaaah......bukunya Kuntowijoyo, Ayu Utami, YB Mnagunwijaya, Emha Ainun Nadjib dan komik miiko. Hehehe. Tetiba saya ingat ada toko buku yang diskonnya lumayan. Toga Mas. Aheyyyy....good idea. Setelah menimang-nimang buku apa saja yang sekiranya tidak ada di Toga Mas, biasanya yang terbitan gramedia (yaiyalah). Hehehe. Saya beli komik miiko dan buku YB Mangunwijaya, Pohon-Pohon Sesawi. Bukunya Ayu Utami terbitan gramedia sih, tapi yaa besok sajalah. Hehehe.

Meluncur ke Toga Mas. Mencari Indonesia Bagian Dari Desa Saya, Emha Ainun Nadjib. Cari di rak-rak buku nya tidak ada. Cari di komputer ada lho. Ya sutra, saya bertanya pada pegawai, ternyata itu buku terbitan baru jadi masih di gudang. Ketika saya bertanya apa saya bisa membeli nya siang tadi, ternyata tidak bisa, harus nunggu barcode nya jadi yaitu sekitar jam dua-an. Haaayooooo suwi yaaa...hehehe. Saya di sana jam satu lho. Nunggu di toko buku itu sebenarnya menyenangkan tapi tadi saya terburu-buru untuk memesan buku secara online, supaya bisa segera saya transfer uangnya hari ini. Pulanglah saya dengan langkah gontai. Huhuhu. Buku Cak Nun itu sebenarnya bukan buku baru, tapi terbitan baru dengan cover yang baru. Daaaaan saya jatuh cinta sama covernya, kalau tulisan-tulisan Cak Nun, sudah cukup lama saya jatuh cinta, tapi beli bukunya masih jarang, soalnya mas punya hampir semua buku tulisan Cak Nun. Hehehhehe. Buku mas yang saya pinjam dan belum selesai dibaca saja ada dua biji, Kopi Jon Pakir dan Markesot Bertutur. Tapi buku Indonesia Bagian Dari Desa Saya ini, dengan cover barunya, saya ingin punya. Hohohoho.

Di perjalanan pulang saya kepikiran beli roti Kimmy Bun. Roti kopi lho. Hehehe. Enaaakk...awalnya hanya berniat beli kemudian pulang, tapi lihat gambar es kapucino kemudian tertarik, ya tuhan panas sekali Semarang. Akhirnya beli roti yang dibungkus tiga biji, rasa kopi satu biji dan rasa choco vanila dua biji, roti yang dimakan di tempat satu biji dan es kapucino satu gelas, sambil nonton film yang ada di tipi. Dan kemudian saya berpikir, lho kok saya nangkring di sini, katanya tadi buru-buru mau transfer uang untuk beli buku. Hahahaha. Self toyorrrr.... eh sendok aduk es kapucino-nya bagus lho. Seksi. Wkwkwkwk.

 Perjalanan masih jauh dan panas dan saya malah minum es, mumetlah. Heuheuheu....pelajaran siang tadi adalah, kalau pengen kopi ya minum saja, jangan ditahan-tahan, akhirnya malah mampir-mampir dan minumnya es. Wkwkwkwk. Parah.

Yeah...after all...there’s something good. Untuk diri saya sendiri. Menikmati wara wiri ke mana-mana sendirian.

Yattaaa......

Tuesday, September 24, 2013

Poin ke-6

Postingan yang dulu tentang Manual Cinta Tak Terbalas (Manual Cinta Bertepuk Sebelah Tangan), hari ini saya coret satu lagi. Poin ke-6. hahahaha. Iyaaaa....saya sudah dapat foto Mas waktu kecil, foto ijasah TK, SD, SMP. Hehehe.

Kalau foto SMA ndak ada katanya. Iya saya minta sama mas, lha wes gimana saya dapetinnya kalau ndak minta, kan saya belum kenal keluarga mereka. Hehe.

Oya, fotonya juga bukan foto cetak, tapi hasil repro, karena sudah tidak punya lagi dan klise nya entah di mana. Tapi tetep seneng dong saya. Bagian dari dirinya yang tidak saya tahu, bagian masa kecilnya yang tidak saya tahu. *duh pas banget ini lagunya Ost. A Gentlemans Dignity*
Jadi, tadi sore, kami berdua ketawa-ketawa liat fotonya. Ganteng dia waktu kecil, sipitnya kaya orang cina. Beneran deh. Hehehe. Dan gaya rambutnya mengingatkan saya pada foto Tan Malaka. Sipitnya mengingatkan saya pada Soe Hok Gie yang diperankan Nicholas Saputra. <3 muah..muah...

Mas Kecil

Trus saya juga minta foto dia yang terbaru, yang background fotonya berwarna merah, ganteng juga euy (teteup)...hahaha. Pasang di kamar.


Obrolan sore nan gaje

Kami berdua menonton ShowImah sore ini. Bintang tamunya, Cesar. Iya, Cesar yang goyang Cesar itu lho.
Jangan harap Mas paham alur cerita acara ini, dia sibuk main futbol menejer.
Dia bertanya (sambil terus ngutek-ngutek leptopnya), “Itu Cesar kenapa nduk?Dia bukannya asistennya Soimah ya, sekarang udah nggak to?”
Dan saya menjelaskan, “Masih asistennya kok, eh asisten di acara ini kan maksudnya?”
“Iya. Kok jadi bintang tamu?”
“He’em. Dia ulang tahun hari ini, jadi bintang tamu, nyeritain awal karirnya dia.”
Entah Mas mendengarkan penjelasanku atau tidak. Kalimat berikutnya yang dia ucapkan adalah “Kamu gimana kalau jadi artis, nduk?”
Jeng..jeng..jeng...dan terjadilah obrolan geje berikut.
Saya    : “Hah..aku?jadi artis. Janganlah, nanti banyak yang nangis.”
Mas     : “Nangis kenapa?”
Saya    : “yaaa...karena nyesel dulu meninggalkanku.”
Mas     : “Huuuuuu.....pede sekali.hahahah.”
Saya    : “ahahahahaha...ya memang harus pede, dan kayaknya sih begitu.” *ini ngomongnya separuh geli*
Mas     : “Kalau kamu jadi artis, kamu juga pasti meninggalkanku.”
Saya    : “Aku nggak mau jadi artis kalau harus meninggalkanmu.”
Mas     : “cuih...”

Saya    : “hahahahahahahahaha...’ *ketawa ngekek*

Saturday, September 21, 2013

Drama sabtu-minggu (end)

Kesedihan itu terjadi seminggu yang lalu, dua minggu yang lalu, empat minggu yang lalu, berbulan-bulan yang lalu. Itu bukan pertama kalinya. Itu sudah sering. Dan kemarin aku mengungkapkannya padamu karena aku sudah tidak tahan lagi memikulnya, jadi aku mengatakannya padamu. Dan itu akan jadi kesedihan untuk yang terakhir. Araso???

Dengan aku mengungkapkannya padamu, saat itulah aku mengakhiri kesedihan yang seperti itu.


Tidak akan ada lagi drama sabtu-minggu.

Friday, September 20, 2013

Perjalanan 2

Hai sayang, hari ini aku berangkat ke Ranu Kumbolo.
Mandalawangi sudah tidak semenentramkan seperti semalam.
Kau sedang apa?

Rindukah kau padaku?


Thursday, September 19, 2013

Perjalanan 1

Aku kembali pada diriku sendiri. Diri yang terlalu lama aku cintai. Diri yang beberapa waktu ini aku khianati. Ya, bukankah kemarin kau takut aku mengkhianatimu? Maka kubuka lagi cerita perjalananku, dan aku tahu, aku salah melangkah. Dan aku kembali. Aku kembali pada kesetiaanku akan diriku sendiri.

Sekarang kau tak perlu khawatir aku berkhianat. Aku telah kembali mencintai diriku sendiri, seperti ketika aku membuatmu jatuh cinta. Diriku yang beberapa bulan ini membuatmu jengah, sudah tak terlacak jejaknya, dia mati.

Bagaimana? Apa kau masih mau kembali mencintaiku?

Jika kau masih ragu, tak apa, kau juga boleh kembali mencintai dirimu seutuh dahulu tanpa perlu merisaukan itu akan menyakitiku.

Hari ini aku berkelana ke Mandalawangi, kau tahu kan, Pangrango adalah tempatku ingin jatuh cinta, bahkan aku jatuh cinta padanya sebelum aku ke sana. Ya, aku juga ingin bertemu Nicholas Saputra di sana, ah lelaki itu, jadi Rangga ataupun jadi Gie tetap menawan. Kau tahu? Kau juga menawan. Ah tentu kau tahu. Kau sadar betul kau menawan.

Mungkin besok aku akan pergi ke Ranu Kumbolo, kau juga tahu kan, Semeru juga tempat aku ingin jatuh cinta.

Ya, aku akan mejelajah semua tempat yang membuatku jatuh cinta bahkan sebelum aku melihatnya.

Apa kau cemburu karena aku pergi tanpamu?


Tenang saja, aku pergi bersama diriku sendiri.


Monday, September 16, 2013

r u w e t

semua terlalu rumit untuk diceritakan ulang

karena waktu toh tak akan pernah berulang

dan hanya semakin jauh

tertinggal

dan aku semakin bodoh

terus melakukan kesalahan yang sama

terus melalui jalan berkubang yang sama

susah untuk diceritakan lagi

semua sudah diurai

simpul kacaunya (begitu kata festivalist)

dan ujung kekacauan itu

adalah 

aku

aku

aku

aku

yang tak pernah mau berkorban

yang hanya sibuk mengeluh 

dan 

mengeluh

bisa kau pahami itu?

bisa?

bisa?

mungkin tidak

maka aku enggan bercerita tentang ruwet ku sendiri

ini tak ada hubungannya denganmu

karena aku belum menjadi bagian hidupmu

bahkan mungkin 

belum menjadi bagian hatimu


Hai november....


aku bisa tidak fokus pada hal lain
namun,
aku tidak bisa tidak fokus padamu

itu saja mungkin yang perlu kau tahu

Saturday, September 14, 2013

Hello...hello...how many koishiteru no?



Ini sabtu yang penuh drama seperti biasanya. Drama akhir pekan, ketika teman-teman kembali pada kekasihnya dan kekasih kembali pada teman-temannya.

Semarang, bulan september banyak sekali festival, sampai aku lupa apa saja namanya.

Tapi, di taman, di depan kantor walikota sabtu malam ini, seperti sabtu malam sabtu malam biasanya. Berpasang-pasang kekasih, bergerombol-gerombol perkawanan. Aku, sendirian menikmati hiruk pikuk. Lampu trafic menyala merah, aku melangkahkan kaki ke seberang, ke gedung tua berpintu seribu. Duduk lesehan di trotoar, di luar area gedung, (ya karena kalau masuk musti mbayar) menikmati, sekali lagi, hiruk pikuk malam panjang. Malam yang terlalu pannjang, hati yang panjang, usus yang panjang, oh damn aku mulai mengeluh. Baiklah. Mari ponsel ini kita selipkan ke dalam tas, di sudut yang paling dalam, dalam mode silent dan tanpa getar. Pasang earphone dan mp4, biarkan Yui menyanyi, suasananya pas sekali, seperti melihat film beserta sontreknya.

Yah nikmat tuhan yang manalagi yang kau dustakan. J

Tetiba dua pemuda mendekat, tersenyum dan meyapa “sendirian mbak?”

Kubalas senyum dan kujawab “nggak mas, tuh rame-rame sama orang se-semarang”

“Pacarnya ke mana?” dia mengabaikan penjelasanku.

Kujawab senyum sajalah. Ku lihat salah seorang diantaranya menenteng gitar, dan seorang lagi menenteng kamera. Diam kupandangi mereka yang mengambil posisi duduk di sebelahku. Pembawa gitar mulai memetik gitar dan pembawa kamera sibuk memotret. Mas gitar, mari kita sebut demikian, melirik mp4 yang kubawa, dia tersenyum kemudian mulai bermain gitar dan menyanyi, awalnya tidak jelas pengucapannya namun lama-lama kudengar lagu yang dia nyanyikan tidak asing di telingaku,

“Mendoukusa sou ni warai nagara mo
Juwaki no mukou de
Kotaete kureta ne anata
Honno sukoshi wakari aeta koro
Sonna yorokobi kanjite iru
I will love you.”

Heeehhhhh….kurang lebih begitu tatapanku kutujukan padanya, itu lagu Yui yang sedang kudengarkan. Siapa orang ini. Hahahaha. Jarang jarang ada yang tahu lagunya Yui, menurutku sih. Yabiasanya lelaki-lelaki itu kan tahunya ekebi atau jeketi atau girls generation atau wonder girls. Ahihihhihihi.

Belum selelsai aku bengong dia sudah menyanyikan lagu yang berbeda, dan aku ngeh juga ketika dia nyanyi di nada tingginya
“Shikata nai yo tte sonna kao yamete
Higaisha wa dare? Kagaisha wa dare?
Zubunure datte waratte iyou yo
Atashi ga zutto soba ni iru kara”

Masih lagunya Yui- We Will Go. Hahahaha. Asli, mas ini ngagetno.

Seiring lagu di telingaku berubah, maka lagu yang dia nyanyikan juga berubah. Persis pun. J aaaaakkkkkk....sabtu malam jenis apapun ini. Hahahaha.

Aku cuma senyum senyum aja. Nggak berani nanya ataupun menyela nyanyiannya. Sejak aku ngeh yang dia nyanyikan, aku melepas salah satu earphone ku, jadi ada dua versi lagu, di kepalaku. Versi laki dan versi Yui. Ahahahaha. Mas ini nyanyinya enak banget, pengucapannya juga Jepang banget. Iiiiihhhhh....sopo mase iki? J

Sebelum lagu berikutnya selesai, aku mengeluarkan catatanku, lirik lagu Yui yang berjudul Love & Truth, nggak ngerti tapi lagu ini aku suka jadi liriknya aku catat dan terkadang aku nyanyiin. Nah pas mulai masuk lagu ini, aku juga ikut nyanyi,
“Konna ni omotte iru
Jikan wa tomatte kurenai
Karappo no kokoro wa
Anata no kimochi wo
Mada mitsukerarenai
 
Onaji e wo nido to egaku koto wa dekinai no ni
Atashi no kanjou wa tada kurikaeshite bakari

Agaknya si mas kaget aku ikut nyanyi, dan tersenyum begitu melihat catatan yang kupegang.

"Ai no uta" wo kikasete yo
Sono yokogao mitsumeta
Anata no koto shiritai yo
Mou deatte shimatta no

Donna ni sabishikutemo
Mata aeru ki ga shite iru kara
Riyuu nante iranai
Hikikaesenai koto wo shitte iru

Kono mama ja wasuremono ni natte shimau desho?
Atashi no kanjou wa namida no oku kagayaita

"Ai no uta" wo kikasete yo
Sono yokogao sono saki ni
Anata ga ima mitsumeteru
Hito ga iru to wakattemo

Tsubasa wo kudasai to
Shinjite utau you ni
Atashi datte chikau yo
Kako mo zenbu
Uke ireru tte kimeta

S
edikit sambil tertawa kami terus bernyanyi.

"Ai no uta" wo kuchizusamu
Sono egao ni furetai
Anata ga ima mitsumeteru
Hito ga iru to wakattemo

"Ai no uta" wa owaranai
Mou deatte shimatta no
...Owaranai
...Love and truth”

Masih ada satu lagu lagi di album ini. Eh mas yang motret tadi ilang.

Mas gitar berhenti bernyanyi, sedangkan Yui di telingaku masih bernyanyi, lagu dari album yang lain, Hello. Si Mas gitar nanya, “mbak lagu yang selanjutnya apa?”

“hello mas.”

“oh yang sontrek film kan itu, film opo ya mbak, aku lupa, pokokke yang main cantik. Yang main di Buzzer Beat.”

“paradise kiss, mas”

“aaaah iyo kui mbak. Emmmmm...”

Dia mulai memetik gitarnya, aku memencet tombol play. Lagi, dua versi lagu Yui di kepalaku.

Ngehehehe...tuhan maha asyik. Mas pemotret kembali, sambil senyum-senyum.

Lagu berikutnya, si mas gitar bilang “sudah mbak, kita kenalan dulu, mosok nembe “Hello” kemudian “separation””

Eeeh dia beneran apal isi albumnya Yui. Heuheuheu...

Baiklah....

Dia menyodorkan tangannya, sambil tersenyum, “Haris”
Aku pun menyambut, “Dian”
Lanjutnya, “oh iya yang ini Seno.”, sambil memperkenalkan temannya. Seno hanya mengangguk dan senyum.

“Mas Haris, boleh pinjam gitarnya? Mas Seno bisa tolong potoin?” kataku norak. Ahahahaha. Eh mumpung pemandangannya ciamik kan jadi mirip Yui. Mirip dari Hongkong.

Mereka berdua sedikit kaget, tapi kemudian senyum. Setelah sesi poto-poto bareng kami ngobrol, duduk lesehan, hah istilah lesehan ini cukup menganggu, mari kita sebut, ndeprok, lha kan duduk ngglesot di trotoar.heuheuheu.

Cerita-cerita lah kami, mereka dari undip. Mas Haris jurusan sastra jepang, Mas Seno jurusan Ekonomi, lho kok nggak nyambung sama kameranya? Hehehe. Dia bilang kamera itu untuk semua kalangan, siapa saja bisa motret, siapa saja boleh motret, bahkan yang berjurusan ekonomi. Iya deh. Hehehe. Berceritera memang mempercepat waktu, tiba-tiba sudah pukul sembilan malam. Yah itu berarti aku sudah harus pulang. Kami bertukar alamat email dan nama akun socmed. “Nanti poto-potonya dikirim ya mas. Hehehe.”

Mas Haris menyanyikan lagu Separation. Tapi yang kuharapkan sih kapan-kapan bisa ketemu lagi, nyanyi lagi, kalau perlu ngamen bareng. Huhuhuhu.


Sepanjang perjalanan pulang senyum lebaaaaarrrr....aneh ya, tapi menyenangkan.

Saturday, August 24, 2013

Akhir Pekan

Akhir pekan adalah perayaan.
Ayah ayah kembali pada anaknya.
Suami suami kembali pada istrinya.
Pecinta alam kembali pada gunungnya, rimbanya.
Jomblo jomblo kembali pada kamar kosnya.
Teman teman kembali pada pergaulannya.
Pekerja pekerja kembali pada rehatnya.
Akhir pekan adalah perayaan.

akhir pekan adalah perayaan
pejuang pejuang skripsi kembali pada revisi
berjuang adalah beribadah
selamat menunaikan ibadah berakhir pekan
sekian

Friday, August 23, 2013

Ada rasa kehilangan yang teramat dalam

Sakit sungguh sakit


Thursday, August 22, 2013

akan selalu ada

akan selalu ada 'kenapa?'
akan selalu ada 'apa?'
akan selalu ada 'siapa?'
akan selalu ada 'bagaimana?'
akan selalu ada 'kapan?'

sebagai wujud ekspresi untuk menuntaskan penasaran.
segala hal memang perlu untuk dipertanyakan karena aku percaya segala hal terjadi memiliki alasan kenapa ia terjadi.

jadi, pahamilah kenapa aku sering bertanya. riwil memang. tapi dengan demikian aku menjadi paham dan tidak lagi bertanya-tanya, tidak lagi berprasangka.

*tarik napas* *senyum*

jangan biarkan aku berprasangka, maka jawablah pertanyaanku dengan jawaban yang baik.

kau pun boleh bertanya apapun padaku, sekiranya ada hal-hal yang membuatmu bertanya-tanya. aku akan berusaha menjawab dengan baik.

*senyum*